Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Ya Tuhan, Yaren!


__ADS_3

Jika ini memang benar-benar berakhir, jika pada akhirnya aku harus kehilanganmu, jika akhirnya kau memang tidak bisa menepati janjimu... Aku hanya ingin kembali ke ketika itu sekarang! Ketika kita belum saling mengenal, sudah terlambatkah jika aku memohon? Mengapa kau tidak melepaskan aku? Waktu itu, aku sudah sangat memohon padamu...


Atau bawa saja aku bersamamu, setidaknya itu lebih baik dari pada aku harus menghadapinya sendiri...


Jovan melihat Yaren yang sedang termenung, di sebelahnya ada Rymi yang juga dihinggapi rasa dilema.


"Kau yakin akan membiarkannya seperti itu?" tanyanya pada Rymi.


"Yaren adalah tipe orang yang introvert, aku takut dia mengalami guncangan, kau sudah melihatnya bukan? Bahkan dia tidak berhenti menangis sedari tadi, lihatlah matanya memerah dan bengkak, apa kalian setega itu?"


"Tunggulah sebentar lagi, setidaknya sampai kasus Ali Yarkan mereda!" sahut Rymi.


"Berapa lama? Tiga bulan, setengah tahun?"


"Aku tidak bisa memastikan!"


"Sebentar lagimu itu sepertinya tidak bisa memberikanku jawaban!"


"Jo, kau adalah seorang kakak, di sini lah peranmu benar-benar harus bisa diandalkan, hibur dia, atau lakukan apapun!"


"Tapi Rym, ini bukan perihal Kakak yang harus memedulikan adiknya, ini perihal hati!"


"Aku tanya, Sam!" seru Jovan saat melihat Samudra melangkah mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Hemmm, ada apa?" tanya Sam.


"Apa kau takut kehilangan Rymi?" tanya Jovan lagi, ia ingin mengibaratkan apa yang terjadi pada Yaren saat ini pada Rymi.


"Hei! Apa yang kau katakan?"


"Aku hanya tanya, apa jawabannya tidak mudah?" sengit Jovan.


"Jo, kau tidak bisa mengganti posisi Yaren denganku!" sangkal Rymi.


"Wait! Apa maksudnya ini, mengganti apa?" tanya Sam tak paham.


"Rym, apa kau akan diam saja, apa kau masih bisa bersikap tenang jika Samudra pergi dari sisimu?"


"Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaan Yaren, begitupun saat Yaren menginginkan Ayaz, secara tidak langsung memintaku untuk menerima bajingan itu!"


"Aku terima! Apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaannya!"


"Kau terlalu banyak berpikir Jo, lebih baik kau..."


"Permisi Tuan, Nona Rymi!" sela salah satu pelayan dengan tergopoh-gopoh mendatangi mereka.


"Ada apa?" tanya Jovan.

__ADS_1


"Nona Yaren... Anu... Nona Yaren..."


Jovan langsung saja melihat ke arah Yaren, karena berdebat dengan Rymi dia jadi mengalihkan pandangannya mengawasi Yaren.


Ternyata, adiknya itu sudah dikerumuni banyak orang, Jovan gegas untuk memastikan apa yang terjadi tanpa menunggu penjelasan pelayan itu.


Rymi dan Sam juga, mereka juga langsung berjalan ke arah Yaren.


"Yaren... Yaren..." seru Jovan.


"Nona Yaren pingsan Tuan!" ucap salah satu pelayan.


"Minggir, aku akan membawa dia ke kamar, panggilkan Mike, Rym cepat!" teriak Jovan.


Rymi langsung saja menyuruh Sam untuk memanggilkan Mike yang memang sedang berada di rumah Marco, mereka memang belum ada yang pulang setelah selesai prosesi pemakaman.


Jovan dengan cepat juga membopong tubuh lemah Yaren, di rasanya juga tubuh adiknya itu sedikit ringan dari kemarin saat terakhir ia menggendong Yaren, padahal hanya berselang satu hari saja. Itu dikarenakan Yaren memang tidak mau memakan apapun, setiap kali dipinta untuk makan pasti adiknya itu bilang ingin menunggu Ayaz dulu barulah ia memiliki selera untuk makan.


"Ya Tuhan, Yaren..." Jovan benar-benar panik, sesuatu yang ia takutkan akhirnya terjadi, ia takut Yaren akan drop, baginya bukan perkara mudah jika menyangkut kesehatan seseorang.


Jovan membaringkan Yaren di ranjang, kamar yang memang Marco sediakan untuk adiknya itu dan Ayaz, di kamar itu juga penuh dengan kenangan, terlihat dari beberapa foto kebersamaan Yaren dan Ayaz yang terbingkai rapi di rak.


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....


__ADS_2