
Marco harus pasrah saat Rymi dengan tanpa berdosa memperlakukannya dengan sangat tidak wajar, putrinya itu sepertinya begitu menikmati peran sebagai ibu hamil yang saat ini tengah dituruti apapun kemauannya.
kemarin saja Rini tampak frustasi menolak hadirnya sebuah kehidupan di dalam rahimnya namun apa ini mengapa secepat itu berubah menjadi sangat menerima.
"Awww!" batik Marco saat Rini menarik rambutnya lumayan kencang sehingga rasanya bagai kulit kepalanya ingin terlepas.
"Rym, kau... Apa harus begitu? Harus seperti ini? Tidak bisakah pelan-pelan sedikit? Hoho... Kau ini masih menganggap aku ini Daddymu atau tidak?" berang Marco sembari menahan sakit di kulit kepalanya.
"Daddy, tapi aku baru bisa merasakan kepuasan saat melihat Daddy kesakitan, Hehe!" Rymi malah nywngir kuda tanpa rasa bersalah, "Kalau aku menariknya pelan-pelan pasti Dedi tidak akan merasakan sensasi sakitnya kan? Dan aku tidak bisa membohongi perasaanku..."
"Daddy, Apakah kau tidak bisa memakluminya? Untuk hari ini saja, aku mohon Daddy, biarkan aku melakukan ini dengan sebaik-baiknya! Aku janji ini adalah yang pertama dan terakhir kalinya."
Rini memohon dengan aktingnya yang sempurna dia tidak bisa melewatkan kesempatan ini dalam hatinya bersorak girang kalau bisa mulutnya Ini pasti sudah tertawa keras tak terhindarkan melihat kesakitan Marco.
Ayas yang melihat kelakuan Rymi itu tidak berhenti tersenyum, ia tidak berani tertawa keras takut menyinggung perasaan Marco, bukannya Ayaz takut, namun ia tidak mau merusak momen balas dendam Rymi yang nantinya mungkin bisa saja gagal tayang karena Marko yang berubah pikiran jika tersinggung.
Di dalam ruangan itu hanya ada mereka bertiga Yaren sudah Ayaz antar ke kamar sementara Sam pamit pulang.
__ADS_1
Saat sedang menikmati tayangan balas dendam Rymi, tiba-tiba saja pintu ruangan itu diketuk. Ayaz bangkit dan segera membuka pintu untuk menemui siapa gerangan di luar sana.
"Permisi Tuan Ayaz... Maaf mengganggu, tapi di luar ada Tuan Jovan yang ingin bertemu dengan Tuan Ayaz." ucap salah satu pelayan di Mansion milik Marco itu.
Ayaz mengangguk lalu ia keluar untuk menemui Jovan, kiranya apa yang akan dikatakan Jovan pada pertemuan mereka kali ini, pikir Ayaz menebak.
"Jo!" sapanya pada kakak iparnya itu.
"Aku tadi hanya kebetulan lewat daerah sini dan rasanya aku ingin menemui Yaren, apakah dia baik-baik saja?" tanya Jovan, sebagai seorang kakak tentu ia menyadari mungkin Yaren mempunyai perasaan sakit dalam hatinya, bagaimanapun meski sejahat-jahatnya argantara pria itu tetap adalah ayah kandung dari adiknya itu.
Perihal kepergian Argantara, dan juga Jovan mengetahui bahwa Ayaz mungkin memisahkan secara paksa hubungan keduanya itu, sayangnya Jovan tidak bisa mencegah semuanya terjadi, karena jauh dari dalam lubuk hatinya, ia juga menginginkan Yaren menjauhi Argantara, meski kedengarannya sebagai seorang kakak ia begitu egois.
"Kau pasti bekerja keras untuk mengalihkan perhatiannya!" ucap Jovan.
"Yaren memang bersedih untuk itu, tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa membiarkannya untuk terus mempedulikan tua bangka rendahan itu!" Ayaz menghempaskan napasnya kasar, "Ah yaaa, bagaimana... Apa kau menyelidikinya?" tanya Ayaz.
"Dia pergi ke London, membeli sebuah rumah dan berencana menetap di sana, sebenarnya entah akan menetap atau hanya sebagai tempat persembunyian, tapi yang jelas aku tidak bisa memastikan kapan dia akan kembali." jawab Jovan.
__ADS_1
"Hemmm.... Begitu!" sahut singkat Ayaz.
"Raisa juga, wanita itu menyusul berangkat ke London bersama dengan Argantara kemarin! Kau pasti sudah melihat berita tentang keluarga Argantara bukan? kurasa Harun masih memaafkannya sehingga bisa melepaskannya begitu saja."
Ayaz mengangguk, ia juga memikirkan itu. Mengapa sebanyak berita yang dirinya dengar kemarin, nama Raisa juga termasuk masih aman meski lumayan banyak publik memburu namanya dan membully.
"Menurutmu bagaimana?" tanya ayah pada Jovan.
Jovan tampak berpikir lalu ia bersuara lagi, "Menurutku biarkan saja, membiarkan mereka saling serang tampaknya cukup mengasyikkan. Kejadian ini tanpa sengaja juga menyadarkan Raisa bahwa selama ia hidup sebenarnya ia hanyalah boneka dari seorang Wana." ungkap Jovan.
Ayaz mengangguk lagi, ia setuju akan pemikiran Jovan "Ya baiklah! Aku tidak akan mengganggunya, biarkan mereka seperti itu. Aku yakin saat ini Raisa tahu apa yang harus dirinya lakukan."
"Aku ingin menemui dan sebentar sebelum pulang!" ucap Jovan meminta izin.
"Baiklah, kau tunggulah di sini akan aku panggil dia sebentar!" lalu Ayaz bergegas menuju kamar yang ditempatinya dan Yaren untuk menjemput istrinya itu menemui Jovan.
Bersambung...
__ADS_1
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...