Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Diamlah!


__ADS_3

"Brakk!" suara pintu dibanting keras, Jovan mengedarkan pandangannya, dilihatnya Rymi yang sedang termenung di sofa.


"Rym!" serunya, tanpa memedulikan Sam yang terbaring di brankar. "Di mana Ayaz?" tanyanya lagi.


"Ayaz?" tanya balik Rymi.


"Yaren, pasti terjadi sesuatu pada Yaren. Ponselnya sudah ku sistem, tapi... Aku menemukan ini." ucap Jovan panik. Ia memberikan ponsel Yaren yang sudah mati dan hancur pada Rymi, ponsel itu ditemukannya tidak jauh dari rumah Ayaz tadi.


"Kau serius?" tanya Rymi.


Wanita itu langsung saja menghubungi Ayaz, namun entah mengapa nomor Ayaz tidak lagi bisa dihubungi, padahal sekitar satu jam yang lalu Rymi masih bisa menghubungi pria itu, yah meski Ayaz juga tidak mengangkat panggilannya.


"Dia, tidak bisa dihubungi." jawab Rymi. Wanita itu tanpa di suruh langsung saja melacak posisi Ayaz, dan langsung mengabari Jovan titik lokasinya. "Jalan AR dekat pelabuhan!" ucap Rymi.


"Pelabuhan?" tanya heran Jovan.


"Pria gila itu pasti belum selesai bermain-main, ya Tuhan, cepatlah kau pergi ke sana, aku akan mencari tau apa yang terjadi pada Yaren."


"Dia di culik!" ucap cepat Jovan, pastilah telah terjadi sesuatu dengan adiknya itu, saat ia mengunjungi rumah Ayaz tadi karena terlalu khawatir dengan Yaren, rumah itu tampak sepi, tidak ada tanda-tanda penghuninya, pintunya juga dikunci dari luar, saat Jovan ingin menghubungi Yaren, Jovan merasakan hal yang ganjal karena Yaren mematikan panggilannya, Jovan mencoba memanggil sekali lagi, namun sayangnya nomor itu sudah tidak aktif. Jovan langsung saja bertindak, melacak ponsel Yaren yang sudah di sistem olehnya, namun anehnya titik lokasi ponsel itu berada tidak jauh dari rumah Ayaz.


Jovan menelusuri titik itu, dan mendapati ponsel Yaren yang sudah hancur di tengah jalan, ia berpikir mungkin benar telah terjadi sesuatu dengan adiknya.


Rymi mengangguk, ia juga setuju dengan praduga Jovan. "Cepatlah!" ucapnya.


Jovan berlalu pergi, sungguh dirinya begitu panik memikirkan Yaren yang bisa saja diculik, kalau benar begitu, ia tidak akan pernah memaafkan siapa pelakunya.


Sementara Rymi, wanita itu menjambak kasar rambutnya, kepalanya mulai pening, entah apa yang sedang dilakukan Ayaz saat ini.


"Siapa?" tanya Sam, pria itu mulai bersuara lagi.


"Bukan siapa-siapa!" jawab Rymi acuh.


"Sebenarnya apa yang terjadi, siapa Yaren?" tanya Sam lagi. Ia tidak puas dengan jawaban Rymi.


"Yaren, dia istrinya Ayaz!"

__ADS_1


"Apa yang terjadi?"


"Entahlah, aku harus memastikan sesuatu sebelum menjawabnya." Rymi duduk lagi di sofa, ia menghubungi Marco untuk menemuinya di rumah sakit. Kali ini, ia hanya bisa mengharapkan ayah angkatnya itu untuk menemukan Yaren.


...***...


Jovan sudah sampai di pelabuhan, ia melihat mobil Rymi berada di parkiran, ia mencari-cari keberadaan Ayaz, dan menemukan sebuah kapal besar yang ia duga milik Marco, karena ia ingat Marco pernah keluar dari kapal itu, mungkinkah Ayaz berada di sana pikirnya.


Gegas Jovan berlari menuju kapal itu, ia melenggang masuk dan benar saja, ia mendapati Ayaz sedang menjahit sayatan di perut Sian, mungkin saja iparnya itu baru saja selesai mengoperasi mangsa yang akan diambil sebagian organ tubuhnya.


"Ayaz!" serunya.


Ayaz menoleh, pria yang sedang memakai masker itu tampak kaget akan kehadiran Jovan, namun seperdetik kemudian, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Yaren diculik!" ucap Jovan, pria itu semakin mendekat ke arah Ayaz.


Terang saja Ayaz menghentikan kegiatannya, ia menoleh ke arah Jovan untuk meminta kepastian akan ucapannya.


"Tenangkan dirimu! Rymi sedang berusaha mencari keberadaan Yaren!" Lalu Jovan menjelaskan apa yang terjadi, bagaimana dirinya bisa menduga kalau Yaren pasti diculik, Ayaz tampak mengangguk setuju, karena jika mendengar dari cerita Jovan jelas saja hal yang paling mungkin adalah benar, Yaren diculik.


Ayaz mengambil ponselnya di saku jas, tampak ponselnya itu sudah mati karena kehabisan daya, Ayaz mengeram frustasi, dipikirnya pastilah Yaren menungguinya pulang sedari tadi.


Ia menatap Sian yang masih tidak sadarkan diri, seketika Ayaz mulai mengerti apa yang terjadi, gunting medis yang dipegangnya, ia arahkan pada wajah itu dan lalu ia lemparkan.


"Prang..." gunting itu jatuh ke lantai, sebelum tadinya sempat mengenai wajah Sian, Sian terpaksa harus bangun dari pingsannya. Pengaruh obat biusnya masih sedikit ia rasakan, matanya membulat melihat perutnya yang tersayat, apalagi sepertinya belum selesai di jahit, apa yang dilakukan Ayaz padanya selama ia pingsan tadi? Sian menerka-nerka, apa mungkin... Sian bergidik ngeri membayangkannya, namun lebih ngeri lagi kala ia merasakan nyeri di bagian perutnya. Ayaz benar melakukan sesuatu padanya, ia yakin itu.


"Apa yang kau lakukan!" pekiknya. tangan dan kakinya masih terikat di pembaringan, namun mulutnya bebas untuk mengatakan apapun.


"Kau apakan istriku!" tanya Ayaz berteriak. Tangannya mencengkram erat kerah kemeja Sian.


"Istrimu?" tanya balik Sian, dia tidak tau apapun, tapi... beberapa detik kemudian seulas senyum jahat terwujud dari bibirnya, ia tau orang-orang kepercayaannya tidak akan tinggal diam jika mengetahui apa yang terjadi padanya.


"Sudah kukatakan, kau tidak akan bisa melawanku!" ucap Sian, ia memandang remeh Ayaz dengan sebelah matanya.


"Bedebah! Akan aku buat kau menderita lebih banyak lagi." ancam Ayaz. Bugh, sebuah tinju mendarat di rahang Sian.

__ADS_1


"Silakan, tapi... Mungkin saja, orang-orangku akan dengan senang hati membunuh belahan jiwamu."


"Katakan, dimana kau menyembunyikan istriku!"


"Plakk!" Jovan tidak sabar, ia tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani menyakiti adiknya. "Berani kau menyakiti adikku, akan ku buat kau menyesal, katakan di mana dia!" teriak Jovan tepat di hadapan Sian.


Sian memicingkan matanya, ia seperti pernah bertemu dengan Jovan, dan seketika dia langsung ingat, "Kau... Ternyata kau..." ucap Sian, pria itu tertawa keras.


"Aku tidak peduli, kau mau mengatakan apa tentang diriku, di mana Yaren!" teriak Jovan lagi. Jovan sadar kalau ia sudah ketahuan.


Ayaz mengambil ponsel Sian yang tergeletak di meja, "Siapa yang harus kuhubungi, katakan atau kau mau mati!" geram Ayaz.


Sian memberitahukan nama anak buahnya, kali ini ia bisa berbesar hati, ia berpikir ia sudah satu langkah melewati Ayaz.


^^^"Ya Tuan!"^^^


"Di mana kau?"


^^^"Di tempat biasa!"^^^


"Kau bekerja sangat bagus! Tolong jaga dia sebelum aku menemuinya."


^^^"Baik Tuan!"^^^


"Keparat!" umpat Ayaz. Ia memberikan ponsel sian pada Jovan. Matanya mengisyaratkan Jovan untuk melakukan sesuatu, dan Jovan pun mengerti.


"Kau pikir aku akan membebaskanmu begitu saja?" Ayaz tersenyum smirk, lalu kembali pada pekerjaannya sembari menunggu Jovan menyelesaikan perintahnya.


"Aarrrggghhh!" erang Sian kala jarum bedah untuk menjahit tubuhnya itu menusuk di kulit perutnya. Reaksi anestesi mungkin saja sudah akan habis, karena sungguh ini sakit sekali bagi Sian.


"Diamlah! Atau kau mau aku biarkan begini saja?" tanya Ayaz acuh.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2