Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Kapan kita melakukannya?


__ADS_3

Yaren menghela napasnya pelan kala saat pagi dirinya bangun dalam keadaan utuh.


Utuh dalam arti segala-galanya, tidak ada satu pakaian pun yang terlepas dari tubuhnya.


Setelah ancaman Ayaz semalam, dirinya mencoba untuk memejamkan mata, meski tidak mudah untuknya tidur dalam keadaan hati dan pikiran tidak sinkron, namun akan dirinya coba.


Ancaman Ayaz sungguh mengerikan baginya.


Lengan kekar itu masih memeluk tubuhnya, diliriknya wajah Ayaz saat tertidur, begitu damai, Ayaz sangat tampan, Yaren bahkan tidak percaya pria setampan Ayaz mempunyai sifat yang begitu menyebalkan.


Pria itu masih bertelanjang dada, jika boleh Yaren mengagumi, tubuh Ayaz benar-benar sempurna, mungkin jika tidak menyangkut Ayaz yang pernah mengatakan hal yang tidak senonoh padanya, Yaren bisa saja berubah pikiran untuk mengajak Ayaz menikah, namun memikirkan perkataan Ayaz yang begitu merendahkan dirinya, terang saja Yaren serasa tidak sudi.


Perawannya, akan dirinya berikan pada suaminya kelak, orang yang benar-benar dirinya cintai.


"Kau sedang mengagumiku?" sentak Ayaz membuyarkan lamunan Yaren.


Yaren terkejut, tangannya spontan mengusap dadanya, menetralkan rasa canggung yang menderanya.


"Heh!" Ayaz terkekeh pelan.


Itu adalah tawa ketiga yang Yaren dengar dari mulut Ayaz. Hei, apanya yang lucu?


"Aku tidak mungkin mengagumimu, ada iler di pipimu, menjijikan!" ejek Yaren. Wanita itu bangkit dari berbaring, lalu gegas menuju kamar mandi.


Wajah Ayaz merah padam, berani sekali Yaren mengejeknya. Namun dengan bodohnya tangan Ayaz malah sudah mengarah ke pipinya, meraba dan memastikan apa yang dikatakan Yaren tadi.


"Sial!" umpat Ayaz kala tidak menemukan apapun di pipi mulusnya.


"Akan kubalas kau Yaren." gumam Ayaz dengan senyum devilnya.


...***...


Ayaz baru saja selesai membuat sarapan untuknya dan Yaren, sementara Yaren, wanita itu berusaha untuk tidak terlihat bermalas-malasan selama di rumah Ayaz, tidak ingin mendengar sindirian Ayaz lagi.


"Jadi, sayang... Kapan kita melakukannya?" tanya Ayaz, pria itu mulai mendekati Yaren, mengikis jarak keduanya, Yaren menegang, kemoceng yang dirinya pegang terjatuh di lantai.


"Aa apa?" tanya Yaren, antara mengerti dan tidak, mengerti sebenarnya apa yang Ayaz maksud, namun jangan sampai dirinya salah mengartikan.

__ADS_1


"Kau ingin mendengarnya dari mulutku, seperti ingin aku memintanya padamu?" tanya Ayaz lagi. Matanya menatap Yaren tajam, seolah-olah memang penuh minat. "Begitu?"


Ayaz nampaknya ingin balas dendam, pria itj ingin sedikit memberi pelajaran untuk Yaren.


Yaren menggeleng pelan, tidak kumohon jangan sekarang batinnya.


"Hemmm, ternyata kau tipe wanita dewasa yang suka dipaksa? Menarik juga!"


"Ayaz, jangan seperti ini." keluh Yaren saat tangan Ayaz mulai membelai lembut wajahnya, sungguh demi apapun Yaren sedang ketakutan saat ini. Dalam pikirannya tidak visa memikirkan hal jernih, begitu banyak pasir yang mengotori pikirannya, dasar Ayaz sialan.


Ayaz terkekeh dalam hatinya, bagaimana bisa dirinya melakukan ini?


Apa aku seperti sedang melecehkan wanita dewasa? Dia ini benar polos atau hanya pura-pura polos. Padahal kan aku cukup tampan untuk bibit pembuat keturunan, dijamin nggak akan rugi kalau dia melakukannya denganku.


"Kenapa sayang? Kau sepertinya kepanasan?" Ayaz semakin mendekatkan wajahnya, kini hidung bangirnya dan Yaren bertemu, tidak ada jarak sama sekali, Ayaz bisa mendengar detak jantung Yaren yang begitu cepat, segugup itu Yaren didekati olehnya.


Keringat Yaren mulai mengucur, entah perasaan macam apa ini, Yaren benar-benar berpikir dirinya dan Ayaz akan melakukannya.


"Ayaz, please, jangan begini!" mohon Yaren.


"Kau takut? Relax Baby, nikmati saja, aku bisa memastikan yang akan kita lalui pasti sangat menyenangkan!"


"Ti tidak, aku mohon, aku tidak siap?" cetus Yaren, apa yang ada dipikirannya membuat dirinya tidak bisa berkata dengan benar lagi.


"Belum siap? Belum siap apa sayang?" tanya Ayaz menggoda.


"Aa aku, maksudku jangan seperti ini, jangan Ayaz, aku mohon lepaskan aku!" mohon Yaren.


Ayaz merengkuh pinggang Yaren, berhimpit dengan tubuhnya, dan itu berhasil membuat Yaren menjadi sangat ketakutan.


"Kita bisa melakukannya sekarang sayang?" tanya Ayaz.


"Tidak, jangan!"


"Aku ingin melakukannya meski kau berulang kali mengatakan tidak, aku tidak sepeduli itu kau tau!"


Yaren terus saja menggeleng, "Ayaz lepaskan aku!"

__ADS_1


Ayaz memegang tengkuk Yaren, mengarahkan pada wajahnya hingga mata mereka benar-benar saling menatap intens. Sementara Yaren, tidak ada yang bisa wanita itu lakukan, tubuhnya tidak bisa menolak untuk sekedar menghempaskan tangan kekar Ayaz yang memeluknya, Ayaz bukan tandingannya jika mengenai tenaga.


"Cup!" Ayaz mengecup singkat bibir Yaren, hanya kecupan namun sepertinya Ayaz menyesal melepaskan kecupannya dan tidak melakukan lebih.


Sial, bibirnya manis.


"Siapkan dirimu, aku akan melakukannya kapanpun aku mau!" ucap Ayaz tanpa mempedulikan Yaren yang seakan sudah mau lepas saja jantungnya.


Ayaz meninggalkan Yaren, pemuda itu menuju kamar, menetralkan rasa gugupnya, Yaren... Entah mengapa, wanita itu, wanita yang pernah dirinya katakan bukanlah tipenya, namun baginya kini sangat menggairahkan.


Ayaz merutuki kebodohannya, niat ingin membalas dendam pada Yaren namun nyatanya dirinyalah yang begitu dirugikan.


Bagaimana tidak? Sesuatu yang berada dibalik celananya sudah mengeras, meronta-ronta untuk segera membutuhkan perhatian.


Memeluk Yaren dengan posisi berhimpit seperti tadi, nyatanya mampu membuat si perkasanya terbangun.


Dan Ayaz harus menanggung beban ini, menjinakkan si Perkasa kebanggannya gara-gara Yaren, wanita yang bukanlah tipenya.


Yaren mengusap dadanya pelan, berdekatan dengan Ayaz dengan ancaman yang tidak pernah terbayangkan olehnya itu sungguh membuatnya ingin mati saja, kalau bukan karena takut dosa, mungkin Yaren tidak akan bertahan lama, sudah menggantungkan lehernya dengan seutas tali.


Bodo amat dengan masalahnya dan Ayaz, ataupun dengan maslaahnya pada orang tua, mungkin dengan mati dirinya bisa menemui sang Ibu di surga dengan cepat.


"Ya Tuhan, apa yang baru saja terjadi, tidak... Hampir saja!" Yaren menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, setelah tadi pernapasannya sudah terganggu karena tindakan Ayaz.


Yaren berpikir, sampai kapan dirinya harus tinggal bersama Ayaz, keputusan yang pernah sangat dirinya anggap tepat, nyatanya bagai pedang yang siap menghunus jantungnya.


Selamat tinggal tidur nyenyak, selamat tinggal ketenangan, selamat datang hari-hari buruk.


Yaren membatin dalam hatinya, menatap kamar Ayaz yang terkunci rapat. Entah apa yang dilakukan bajingan itu di dalam sana, namun Yaren begitu kesal, Ayaz tidak sedikitpun merasa bersalah telah melecehkan seorang wanita.


Mengusap wajahnya kasar, bagaimanapun Yaren tidak bisa terus-terusan hidup seperti ini, dirinya harus sebisa mungkin lepas dari jerat kehidupan yang sangat tidak menguntungkannya ini.


"Berpikir Yaren, berpikir, kau pasti bisa keluar dari sarang buaya ini!" gumamnya menggerutu.


Tiba-tiba, bagai ada bola lampu yang mengambang di atas kepalanya, Yaren menemukan sesuatu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2