
"Papa tolong lepaskan!" Yaren masih berusaha membujuk Argantara, "Pa, kasihan Raisa, jangan seperti ini!"
Argantara pelan melepaskan, namun tatapan kecewa masih ia layangkan pada Wana. Ia cukup mengerti, jika benar begitu, berarti selama ini Wana sudah membohonginya, mengkhianatinya dan bodohnya ia malah begitu percaya.
Uhukk uhukkk!
Wana mengusap lehernya yang sempat dicekik, serasa nyawanya sudah akan berputus tadinya.
"Pa... Maaf!" ucap Wana, namun semakin mendapat tatapan kecewa, mendengar ucapan Wana yang meminta maaf padanya, Argantara mengerti bahwa rekaman itu mungkin saja memang harus diakui kebenarannya.
"Katakan dia siapa?"
"Apa kau yakin mau mendengarnya?" sambung Ayaz langsung saja.
"Aku ingin mendengar kenyataan dari mulutnya saja!" sahut Argantara.
"Aku mantan suaminya!" suara itu berasal dari pria yang disandra oleh Rymi. Yah, pria itu adalah Dandi, mantan suami dari Wana dan juga sekaligus Ayah kandung Raisa.
"Kau!" berang Argantara.
"Dan juga ayah kandung dari Raisa Kharunia!" lanjut Dandi, tidak menghiraukan kemarahan Argantara.
Di sini, dirinya hanya mencoba mencari aman, karena jika ia tidak melakukan itu, nyawanyalah yang akan melayang lebih dahulu.
Argantara, mendengar itu langkahnya mundur tanpa sadar, bahkan tubuhnya rapuh seketika, ia ambruk dan terduduk di lantai, Yaren yang memeganginya tidak bisa menahan bobot tubuh Papanya itu.
"Papa!" serunya.
Kenyataan apa ini, jadi selama ini Raisa bukanlah anak kandung Papanya, dan pria itu adalah Ayah kandung Raisa, bagaimana bisa? Pikirnya tidak bisa mengerti.
Yaren tiba-tiba saja menangis melihat keadaan Papanya yang terlihat begitu menyedihkan, lalu dirinya bangkit dan langsung saja mengambil tangan Ayaz dan berkata, "Aku mohon! Hentikan ini, hentikan Ayaz, sudah tidak akan ada gunanya membalas dendam, aku sudah sangat bahagia bersamamu!"
Yaren mendekap kedua tangan Ayaz yang dipegangnya, dirinya tidak memikirkan lagi tatapan banyak orang yang mengiba padanya, yang dirinya pikirkan hanyalah bagaimanapun ini harus segera diakhiri.
"Aku mohon, apapun akan aku lakukan, tapi hentikan ini!"
"Sudah kukatakan aku bukanlah orang baik, aku tidak punya hati seluas samudra, jadi... Jika sudah terjadi maka kau harus melihatnya saja."
"Tidak Ayaz, aku yakin, aku yakin kau bukanlah orang seperti itu!"
Argantara yang tiba-tiba tersadar, ia bangkit kemudian mulai memukuli Dandi membabi buta, Dandi tidak bisa melakukan apapun, kaki dan tangannya masih terikat di kursi roda.
Setelah di rasa cukup, Rymi langsung saja menghentikan tindakan Argantara. Ia mengambil alih tubuh Argantara dan langsung saja menjauhkannya dari Dandi.
Banyak orang yang menyaksikan itu, mereka menjadi saksi bagaimana Argantara menyikapi permasalahannya.
Ditengah kegaduhan, datanglah pasangan pengantin, mereka diberi kabar bahwa ada kejadian yang tidak megenakkan di acara pernikahan mereka, tapi Raisa tidak menyangka bahwa pelakunya adalah orang tuanya sendiri.
"Papa!" pekik Raisa, ia segera menghampiri Argantara yang baru saja terjatuh karena di seret oleh Rymi.
Argantara menoleh, tiba-tiba saja ia menjadi benci pada wajah putri bungsunya itu.
"Jangan memanggilku Papa! Aku bukan Papamu!" berang Argantara.
__ADS_1
Raisa terkejut akan ucapan Papanya baru saja, kemudian ia mencari keberadaan Mamanya, yang saat ini ternyata sedang terduduk di lantai dengan berderai air mata.
"Papa, kenapa bicara seperti itu?" tanya Raisa heran.
"Sudah kubilang aku bukan Papamu!"
Harun masih menyimak, lalu matanya menangkap sosok pria yang dirinya kenali. "Mengapa dia diikat seperti itu?" gumam Harun saat melihat Dandi.
Pria itu sudah penuh luka, dan matanya juga tidak sengaja bertemu dengan mata Harun, setelahnya pria itu pun menunduk.
"Papa, aku ini Raisa, ada apa?" Raisa semakin tidak mengerti, ia menganggap Papanya sedang meracau, dan tidak sadar, tapi tidak ada sama sekali jejak alkohol tercium di mulut Papanya ini.
Tangan Argantara terangkat, dengan napas yang memburu karena menahan emosi jari telunjuknya mengarah ke arah Dandi. "Dia... Dia adalah Papamu yang sebenarnya!" ucap Argantara.
Raisa menoleh, seorang pria seumuran Papanya namun dengan penampilan urakan dan penuh luka, bagaimana pria itu bisa disebut sebagai Papanya?
"Tidak! Dia bukan Papanya Raisa Pa, Papa kan Papa Raisa!" ucap Raisa.
Tangan Argantara saat mendengar itu langsung saja mencengkram erat rahang Raisa. "Jangan katakan itu dari mulutmu! Sudah kukatakan aku bukan Papamu!"
"Papa! Aahhhh!" Raisa merasakan nyeri di rahangnya.
Plakkk!
Tamparan itu akhirnya mendarat juga di pipi mulus Raisa yang berbalutkan riasan, "Papa..." lirihnya.
Wana bangkit, dan langsung saja melepaskan cengkraman Argantara di rahang Raisa. "Kau tidak bisa melakukan ini!" cegah Wana.
Sungguh demi apapun semua orang sudah berkumpul untuk melihat bagaimana pertikaian yang terjadi. Rahasia Argantara benar-benar sudah terungkap, Ayaz hanya membuka kartu pertama sedang kartu lainnya Argantara dan Wana lah yang melanjutkan membukanya sendiri.
Ayaz dan Rymi benar-benar puas sudah berhasil menjerat Argantara dalam kehancuran.
Wana tersentak, ia tidak bisa menjawab meskipun ia ingin untuk sekedar membela Raisa, dan mengatakan Raisa tidak bersalah.
"JANGAN SAKITI DIA!" teriak Dandi, wajahnya memerah karena marah, ia meminta Rymi untuk melepaskan ikatannya, ia ingin sekali menghajar wajah Argantara yang baginya sudah berani sekali menampar Raisa.
Rymi dengan senang hati melepaskannya, karena itulah yang dirinya dan Ayaz inginkan. Membuat keadaan menjadi semakin rumit.
Lalu, saat Dandi sudah terlepas dan hendak menghajar Argantara, Rymi sudah melakukan serangan ke dua.
"Aku sudah memutuskan sesuatu untuk bayi itu!"
"Ya?"
"Ada dua cara!"
"Pertama, kalau kita tidak bisa juga mengetahui siapa ayah dari bayi itu, maka kita bisa membuat keributan supaya Jovan, pria incaranmu itu setuju untuk menikahi Raisa."
"Kau gila, bahkan dia punya hasil tes DNAnya, bagaimana jika dia meminta tes DNA lagi, kau tau dia itu orang yang berkuasa."
"Atau cara ke dua!"
"Aku punya kenalan, dia sangat kaya, namun ini perkara umur, tugasmu harus membujuk Raisa supaya bisa menikah dengannya, kita bisa mengambil keuntungan dari itu."
__ADS_1
"Perkara umur?"
"Iya, sudah empat puluh delapan tahun, kau kenal Tuan Harun?"
"Astagah... Apa yang kau maksud Tuan Harun pemilik salah stasiun televisi itu?"
"Tapi, bagaimana Raisa? Dan juga apa kau jujur mengenai kehamilan Raisa pada Tuan Harun?"
"Itu urusanmu, bagiku aku sudah menyelesaikan sebagiannya, dan juga Argantara, aku serahkan juga dia padamu!"
"Dan untuk mengenai kehamilan Raisa, aku sudah mengatakan padanya."
"Dia bilang apa?"
"Tuan Harun mengatakan tidak keberatan, hanya saja saat anak itu lahir dia tidak mau anak itu tinggal bersamanya, dia hanya menginginkan Raisa."
"Ada gunanya juga ternyata saat kau menolak kompensasi yang diberikannya waktu itu."
"Aku tidak bodoh sepertimu, kau selalu saja tamak akan harta."
"Ya, harus kuakui, jika bukan karena harta mungkin aku masih bersamamu hidup dalam kesusahan."
"Wana!"
"Aku sudah biasa menerima hinaan seperti ini dari mulutmu, tapi tampaknya kau semakin kurang ajar!"
"Kenapa? Apa kau tiba-tiba saja tersinggung?"
"Wana!"
"Dandi... Dandi... Kalau bukan karena kau yang mengetahui semua rahasiaku, mungkin kau tidak akan bisa bertahan hidup di dunia yang penuh dengan kekejaman ini, jangan munafik, itu menggelikan!"
"Perbedaan antara aku dan kau, kau tau? Meski aku bukanlah orang yang punya segalanya tapi aku masih punya hati, sementara kau, kau bahkan bis menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuanmu!"
"Dandi!"
"Kau ingat, kau juga pernah memakai uang hasil harga diriku ini, seharusnya kau cukup sadar diri."
"Aku melakukan itu karena terpaksa, kau pun tau itu!"
"Tapi, kau tidak menolaknya, kau bahkan datang sendiri padaku!"
"Wana, setidaknya aku melakukan hal menjijikan seperti itu untuk sebuah bakti, jadi jangan kau samakan aku denganmu."
"Aahhh, sudahlah Dandi, akui saja, aku cukup mengerti, aku pun sudah melupakannya, tapi aku cukup terkesan, dan jika caramu tadi bisa menyelamatkan Raisa, aku sungguh akan bermurah hati, kau tidak perlu mengganti uang itu lagi, sudah kuanggap lunas. Oohh, sebenarnya harus kuakui jika dibandingkan Argantara, kau lebih menggairahkan, namun harus bagaimana lagi, aku harus bertahan hidup, akan sangat menyedihkan jika aku masih tinggal di tempat kumuh mendampingimu!"
Langkah kaki Dandi terhenti, ia menoleh ke arah Rymi yang sedang menampilkan wajah tanpa dosa. hari ini hidupnya juga akan sama hancurnya seperti Argantara.
Wanita sialan! umpatnya.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...
__ADS_1