Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Kau kelaparan?


__ADS_3

Sejak hari itu, tidak ada satupun wanita yang menggetarkan hati seorang Marco Arash. Pria itu terlalu menutup diri untuk masalah asmaranya.


Mencari keberadaan Nindi yang begitu masih memenuhi relung hatinya, tujuannya hanya satu merebut Nindi kembali.


Namun keegoisannya telah membutakan hatinya kala mendapati wanita yang dicintainya sedang begitu menikmati pernikahan bisnis itu. Nindi dengan langkah pasti menggenggam mesra tangan suaminya, dan Marco saat itu hanya bisa membiarkan matanya memanas melihat semuanya.


Pria itu marah, memukuli brutal suami dari Nindi yang diketahui bernama Sian itu, Marco benar-benar meluapkan kekesalannya, saat itu dia menyebut Nindi wanita jal*ng karena emosinya yang memang sudah sangat memuncak, wanita cantik itu sudah mempermainkan perasaannya, padahal jika Nindi mau berjuang untuknya mungkin Marco akan memikirkan bagaimana solusi supaya mereka tetap bisa bersama, meskipun Marco harus keluar dari dunia haramnya.


Marco juga membeberkan fakta yang membuat suami Nindi tidak akan mencapai ketenangan selama hidupnya. Dan Marco juga tau, hari itu adalah awal hancurnya kehidupan Nindi.


Tanpa berniat menyesalinya, Marco berjalan meninggalkan keduanya, tanpa tau bahwa Nindi sedang mengandung benihnya.


"Wanita tidak akan bisa membuatnya bahagia, dia dididik keras untuk selalu hanya menurut padaku." gumam Marco. Matanya menatap kursi yang selalu diduduki Ayaz saat berkunjung ke markasnya.


"Pisahkan dia dari wanita itu, kalau perlu berikan penghidupan yang layak untuk wanita itu, suruh dia meninggalkan Ayaz." Marco menghidupkan rokok dan mulai menyesapnya.


"Cih, menyusahkan!" decihnya.


"Baik Tuan!"


...***...


Yaren mengetuk pintu untuk kesekian kalinya, namun tidak juga ada jawaban terdengar dari dalam. Dengan mengumpulkan nyali, wanita itu memutar gagang pintu, mencoba masuk karena hari sudah mulai sore, badannya sudah gatal hendak mengambil pakaian ganti kemudian mandi.


"Ayaz..." serunya.


"Lah, sepi ternyata nggak ada orang, kemana Ayaz? Perasaan dari tadi dia nggak keluar kamar?" gumam Yaren.


Yaren mencari-cari Ayaz di tempat-tempat yang mungkin barang kali kan Ayaz sedang bersembunyi lalu tertidur. Bersembunyi? Tapi untuk apa?


Tanpa peduli Ayaz di mana, Yaren mengambil bajunya di lemari, mengambil handuk kemudian kembali menuju kamar mandi.


Saat tidak ada Ayaz begini, jujur saja Yaren sedikit tenang, tidak ada ujian senam jantung yang akan membuat lambat kerja otaknya. Namun mengingat hari yang sudah semakin petang membuat Yaren juga sedikit ketakutan, alasannya ya masih sama, meski dirinya berada di sebuah rumah yang sangat nyaman, namun tetap saja dia berada di tengah-tengah hutan.


Yaren membuka pintu kamar mandi kala dirinya sudah selesai, dilihatnya kondisi sekitar masih sepi, tidak menampik dirinya juga bingung ke mana perginya Ayaz?

__ADS_1


"Kau mencariku sayang?" tanya Ayaz yang muncul dari pintu belakang.


Yaren tersentak, Ayaz benar-benar misterius, pria itu pergi hilang dan datang kapan saja. Sebenarnya Yaren mulai tidak yakin yang bersamanya kali ini benar-benar manusia atau tidak? Apa iya manusia bisa memiliki ilmu raib dalam sekejap?


"Haaahh!" Yaren memberengut kesal mengusap pelan dadanya.


"Kau mengagetkanku!" ucapnya.


"Apa jantungmu berdebar?" tanya Ayaz, pria itu mendekat, menggoda Yaren adalah hobinya beberapa waktu ini.


"Kau mau apa? Jangan mendekat!" dengan cepat Yaren langsung lari menuju kamar, mengunci diri, tidak peduli ini rumah dan kamar siapa baginya melarikan diri dari Ayaz adalah hal yang tepat untuk saat ini.


"Hahahaha!" Ayaz tertawa keras berikut seringainya.


"Dia lucu sekali, memangnya aku mau apa?" gumamnya pelan.


Ayaz membuka beberapa kornet dan mulai membuat masakan, menanak nasi yang ternyata juga sudah hampir habis. Yaren, wanita itu entah sudah berapa kali makan sepeninggalannya tadi.


Percayalah, tidak perlu Ayaz menyusul untuk membujuk Yaren membukakan pintu, pasti nanti wanita itu akan keluar dengan sendirinya.


Sebenarnya dia ini apa sih? Tidak mau menjual tubuhnya padaku, berlagak sok polos bagaikan gadis paling suci, tapi kalau urusan perut kadang suka tidak tau malu seperti ini. Sudah menumpang, tidak mau bayar sewa, bilang dia yang rugi padahal jelas-jelas aku yang rugi menampungnya.


"Ayaz..." seru Yaren, wanita itu tersenyum ramah.


Benar saja, jika ada maunya saja Yaren pasti akan bersikap menggemaskan.


"Makan?" tanya Ayaz menebak.


"Hehe, Ayaz tau!" pasrah Yaren.


"Seharusnya kau sudah mulai mencicil hutang-hutangmu, sebelum bertambah banyak dan aku kesulitan menghitungnya."


Hutang lagi, hutang lagi, selalu aja bahas hutang... Dasar perhitungan, mesum pula!


Jangan mengumpat Yaren, aku bisa mendengar apa yang kau bicarakan meski itu hanya sebatas batinmu.

__ADS_1


Yaren menganga tidak percaya, pria di dekatnya itu bukan hanya misterius namun juga mengerikan. Yah lebih tepatnya sangat mengerikan.


"Kau bisa makan ini, isi tenagamu dengan baik, barang kali aku mau melakukannya malam ini. Kau harus selalu siap Baby!" ucap Ayaz.


Yaren benar-benar kehilangan selera makannya, saat lapar begini mengapa juga Ayaz harus membahas tentang itu, Ingin sekali Yaren mengumpat kesal pada satu piring bola-bola kornet serta satu mangkuk sup telur yang sudah tersaji rapi di hadapannya.


Ayaz memang ahli dalam merenggut nikmat hidupnya.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Ayaz lagi, pria itu sudah membubuhkan satu piring nasi hangat untuk Yaren, dan satu piring lagi untuknya. Mereka berdua akan makan malam bersama.


Yaren diam saja, mau menjelaskan lun percuma, memangnya apa peduli Ayaz?


"Makanlah!" titah Ayaz lagi, melihat Yaren yang hanya tertunduk lemas membuatnya menyadari Yaren sedang terpengaruh karena ucaoannya tadi. Sebegitu takutnya kah Yaren? Pikirnya.


"Aku..."


"Aku bisa membuangnya jika kau tidak mau!" ucap Ayaz dingin, aura menakutkan mulai kental lagi Yaren rasakan, apa lagi tatapan Ayaz yang seakan ingin membunuhnya, Yaren menyerah.


Tidak bisakah Ayaz menunjukkan ekspresi ramah tamah saat bersamanya? Kalau tidak dingin pastilah menyebalkan, ada lagi satu yang paling membuat Yaren menciut, yaitu kemarahan, selain dari itu Ayaz sungguh sulit dimengerti.


"Iya, akan aku habiskan segera!" sahut Yaren cepat.


Selera makan tidak lagi dipedulikannya, Yaren hanya tau nasi itu secara bergilir masuk ke mulutnya, sistem kunyah telan dengan cepat dan teratur ia terapkan untuk makan malamnya kali ini.


Hingga pada suapan terakhir, Ayaz membuyarkan konsentrasinya tentang makan. "Kau kelaparan?" sindir Ayaz.


Yaren menunduk menatap piring yang mulai kosong, habis tidak bersisa, cepat sekali, bahkan kali ini Yaren mengalahkan makan cepat yang biasanya dilakukan Ayaz.


"Kau sudah tidak sabar untuk malam panas kita?" sindir Ayaz lagi.


Yaren, wanita itu tersedak kala mendengar pertanyaan Ayaz, tangannya dengan pasti menuangkan satu gelas air minum dan langsung meneguknya.


Kalau bukan karena tatapan membunuhmu tadi aku tidak akan segila ini memasukkan nasi hangat ke mulutku hingga menghabiskannya, dasar bajingan!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2