Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Aku, kau, dan Daddy kita!


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap namun Ayaz masih berjalan tanpa tujuan, hari-hari manisnya dengan Yaren terus saja terngiang di setiap langkahnya.


Yaren tidak memiliki ponsel, semenjak ponsel yang diberikan Jovan itu hancur karena peristiwa penculikan yang dialami istrinya waktu itu dan setelahnya begitu banyak kejadian yang dirinya dan Yaren alami, Ayaz belum sempat memberikan Yaren ponsel baru.


Hal itu membuat Ayaz begitu menyesal mengapa dirinya tidak memperhatikan hal-hal semacam itu untuk kebutuhan sang istri.


Saat seperti ini, siapa yang begitu sulit, tentu saja dirinya. Ingin menghubungi Jovan namun rasanya Ayaz tidak akan segila itu, bukannya takut tapi Ayaz tentu saja masih cukup tau diri.


Beberapa hari ini, dirinya juga masih berfokus pada kasus Ali Yarkan, mempersiapkan diri jikalau pihak penyidik memang mengunjungi rumah Jovan untuk mengintrogasi istrinya.


Namun, mengingat penyidikan... Tiba-tiba saja Ayaz merasakan sepertinya ada sesuatu yang ganjal, seharusnya pihak penyidik tidak memutuskan secara sepihak, mengatakan akan menggeledah rumahnya dan tampak tidak yakin saat dirinya mengatakan kediamannya dilanda kebakaran, lalu dengan pasti seolah-olah benar-benar akan melibatkan Yaren, tapi mengapa itu tidak terjadi dan malah keputusan sekarang menyatakan bahwa Joshe Yarkan yang bersalah. Secepat itu!


Ayaz tau, dirinya memang benar ingin mengambinghitamkan Joshe Yarkan selaku ayah dari Ali Yarkan menjadi tersangka utama pembunuhan, namun diirnya juga tidak menyangka akan secepat ini dan seolah tanpa perlawanan.


Rasanya tidak mungkin saja keberuntungan begitu berpihak padanya.


Ayaz menghentikan langkahnya, kedua tangannya meraup wajahnya kasar, ia benar-benar sedang kacau saat ini.


"Aarrggghh!" teriaknya tanpa memedulikan orang yang berlalu lalang.


Ayaz melihat beberapa orang melihat aneh ke arahnya, namun sekali lagi tentu saja Ayaz tidak akan peduli.


Ayaz memejamkan matanya, menarik napasnya pelan lalu hembuskan, hal itu dirinya lakukan berkali-kali untuk mencoba menenangkan diri.


"Heh, sebenarnya apa maksud dia? Ingin menunjukkan kebaikan terhadapku! Apa aku harus berterimakasih padanya, dia bahkan enggan menghubungiku setelah dirasanya aku mengetahui kalau dialah orang yang aku cari." gumamnya miris.


"Sialan itu!" umpatnya lagi.


Tampaknya Ayaz sedikit terbuka pikiran, ia sepertinya sudah bisa menangkap ada sesuatu dibalik kejanggalan. Tentulah ia mulai menyadari, semua ini tidak akan bisa berjalan lancar jika bukan karena seseorang, yah tentulah karena seseorang.


Sementara itu,


Yaren merasakan hatinya begitu cemas, ia ingin menghubungi suaminya, namun tidak berani untuk meminjam ponsel milik Jovan.


Rasanya, meski Ayaz yang kenyataannya adalah seorang penjahat, yang begitu kejam dan menganggap membunuh adalah sebuah pekerjaannya, namun meski begitu Yaren menyadari bahwa Ayaz tetaplah suaminya, dan juga seseorang yang sudah berhasil merebut hatinya, Yaren sudah benar-benar mencintai pria bajingan itu.


"Kenapa?" tanya Jovan. Ia mengamati pergerakan Yaren sedari tadi, sebenarnya ia mengetahui apa yang mungkin adiknya itu rasakan, namun dari tadi dirinya berpura-pura bersikap tidak peduli.


Mengapa? Mengapa adiknya itu harus menjadi istri dari seorang yang begitu kotor, hingga ia rasanya bagai tidak rela.


"Aa... Tidak apa Kak!" sahut Yaren berdusta.


"Masih memikirkannya?" selidik Jovan.

__ADS_1


Yaren terdiam, yang dikatakan Jovan memang benar, namun haruskah ia mengakui begitu saja, sedang Jovan sepertinya melayangkan tatapan tidak suka.


Yaren tidak berani menjawab, ia memalingkan wajahnya pelan, langkah kakinya maju lalu menatap kolam berenang di bawah sana dari jendela kaca.


Ia enggan mengakui. Memilih untuk menjaga hati Jovan.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Jovan lagi.


Yaren mendongak, tatapannya ragu. Haruskah?


"Kau masih memikirkannya?" bentak Jovan tanpa sadar.


Yaren terkejut, benar dugaannya, Jovan tidak akan senang.


"Aa aaku..." Yaren tergagap, jantungnya berpacu lebih cepat kala Jovan melangkah ke arahnya. Ia takut.


"Katakan!"


"Kak Jovan..." seru Yaren lembut, di rumah ini hanya ada dirinya dan Jovan, yah anggap saja begitu. Memang ada orang lain, maid dan beberapa ajudan, namun itu adalah orang-orang Kakaknya, yang tidak akan bisa menghentikan sang penguasa di hadapannya ini. Yang paling Yaren butuhkan saat ini adalah Cemir, namun gadis itu sedang keluar karena harus mencari bahan untuk tugas kuliahnya.


Jovan semakin mendekat, lalu kedua tangannya terangkat dan memegang kedua pundak Yaren dengan kasar, Yaren semakin ketakutan, apa lagi melihat tatapan penuh kemarahan dilayangkan kakaknya itu.


Namun begitu banyak detik sudah dilalui, Jovan masih memegang pundak Yaren, dari yang awalnya kasar kemudian berubah menjadi lembut, tatapannya juga malah berubah menjadi begitu kasihan. "Mengapa? Mengapa kau harus jatuh cinta padanya?" tanya Jovan lirih.


"Kakak..." lirih Yaren.


"Mengapa Yaren...?"


Dada Yaren sesak mendengar itu, begitu sakitnya kah perasaan kakaknya ini.


"Kakak... Kami adalah suami istri, bagaimana mungkin kami tidak mencintai?" ucap Yaren. Ia mencoba memberi pengertian.


"Kau tau, kau sudah sangat salah berurusan dengannya, kau sudah sangat salah mengambil keputusan." ucap Jovan, masih lirih, terdengar juga sarat akan kekecewaan.


"Kakak..."


Kakak, tapi aku mencintainya...


...***...


Ayaz mendatangi kediaman Marco, namun beberapa kali pun ia mengetuk pintu tampaknya yang dirinya cari memang sedang tidak berada di rumah.


Ayaz pun juga bingung mengapa langkahnya sudah sampai saja di sini, namun rasa kecewa dan juga perlunya pengakuan membuatnya tanpa sadar melakukan hal diluar kesadarannya.

__ADS_1


Apa lagi saat ini dirinya benar-benar kacau.


Ayaz mengambil ponsel di saku jaketnya, ia akan mencoba menghubungi Rymi dan menanyakan di mana keberadaan Marco.


^^^"Ya!"^^^


"Kau di mana?"


^^^"Aku? Kenapa?"^^^


"Memangnya aku tidak boleh lagi mencarimu?"


^^^"Hemmm... Aku rasa sebenarnya kau bukan mencariku?"^^^


Ayaz menjauhkan ponselnya, ia mende*ah berat, akhirnya dirinya juga akan sampai pada titik ini, bertahun-tahun mengenal wanita itu, rasanya meski ada sedikit kecewa namun Ayaz juga tetap tidak bisa berbohong terlalu banyak pada Rymi.


"Kau sudah tau?"


^^^"*Apa?"^^^


"Maksudku..."


^^^"Ali Yarkan?"^^^


^^^"Bukankah ini yang kau mau? Mengapa sepertinya begitu sulit?"^^^


"Rym..."


^^^"Ayaz... Apapun yang terjadi, kau tidak berhak mengonsumsi segalanya hanya dari sudut pandangmu saja, kau tau sama seperti kasus Ali Yarkan, jika kau melihat kekecewaan di mata Yaren, maka sebenarnya itulah yang juga kau rasakan saat ini tentang masalahmu, masalah yang kau anggap paling berat dan ingin kau selesaikan."^^^


^^^"Jika dia tidak bisa menerimamu, tidak bisa memaafkanmu, apa yang kau rasakan? Sakit? Menyesal? Dan berjanji tidak akan lagi? Namun semuanya sia-sia, Yaren tidak akan melihatmu lagi, dia sudah terlanjur kecewa bukan?"^^^


^^^"Apa kau akan berteriak pada dunia bahwa kau melakukannya juga karena sebuah alasan? Agar Yaren mendengarnya?"^^^


^^^"Sayangnya Yaren tidak sepertimu, dia menganggap sebuah masalah ini, masalah yang ada pada dirimu, sebuah pembelajaran yang berharga baginya, jadi akhirnya dia bisa melapangkan dadanya untuk memaafkanmu!"^^^


"Rym... Kenyataannya berbeda!"


^^^"Aku tidak berhak menyuruhmu untuk memaafkannya, namun sebagai seorang anak dan seorang adik, di sini aku hanya mencoba hal yang terbaik yang bisa kulakukan, untuk hubungan kita... Aku, kau, dan Daddy kita!"^^^


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2