
Rymi masih mengawasi pergerakan, bagaimana mayat yang sudah hangus itu dibawa ke rumah sakit untuk di otopsi.
"Tau apa yang harus kau lakukan?" tanya Rymi dengan menakutkan.
"Bukan masalah!"
"Baguslah, karena aku tidak akan membiarkanmu hidup jika saja kau mengingkarinya!"
"Baiklah! Kalian bisa menunggu satu atau tiga hari untuk mengetahui hasilnya!"
"Aku tidak bisa menunggu lama kau tau!" bentak Rymi.
"Tapi Rymi, bagaimana bisa?"
"Katakan saja bahwa kau tidak bisa melakukannya, dan jikapun bisa maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama, kau pikir aku tidak tau bagaimana caranya melakukan otopsi mayat, hah!"
"Mau bermain-main denganku ya?"
"Bukan begitu, tapi maksudku apa tidak akan menyulut kecurigaan?"
"Bodoh, memangnya Ayaz Diren pernah menyebutkan namamu, kenal saja dia tidak!" gerutu Rymi.
"Aku tidak mau tau, besok kau harus sudah memberikan hasilnya!"
"Apa identitas Ayaz yang diberikan Amla itu adalah yang asli?"
__ADS_1
"Kau berharap apa hah? Heh, Ayaz tidak akan semudah itu mengenai privasinya."
"Jadi tidak akan cocok!"
"Untuk itulah kau harus melakukannya!"
"Ya baiklah!"
"Besok!"
"Ya!"
"Atau Daddyku tidak akan mengampuniku!"
"Jangan menggerutu, perbanyaklah bekerja!"
"Dasar!"
Rymi berlalu, dirinya berencana menemui mayat yang sudah hangus itu, namun saat langkahnya hendak memasuki ruangan, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang.
"Kau gila?" ucap Marco tak mengerti, bisa-bisanya putrinya itu hendak menemui mayat itu.
"Aku tidak punya pilihan lain Daddy!"
"Orang lain akan mengenalimu, satu-satunya cara kita hanya bisa berharap pada Sam!"
__ADS_1
"Tapi Daddy!"
"Hubungi dia dan ajak bertemu!"
Rymi menurut, lalu dengan segera Marco dan dirinya pergi menuju mobil, mereka akan menemui Sam terlebih dahulu.
Sam yang saat itu belum tidur karena tidak tenang memikirkan Ayaz, tidak habis pikir akan nasib sahabatnya itu yang akan berakhir menyedihkan. Apa lagi, mereka tengah memikirkan cara bagaimana mengambil mayat Ayaz dari rumah sakit itu, sedang Tuan Donulai seakan malu karena kematian Ayaz Diren yang lekat akan kabar tidak senonohnya.
Ayah angkatnya itu mengatakan akan mengambil mayat Ayaz besok pagi, namun identitas keluarga Ayaz harus di rahasiakan. Sementara Sam merasa keberatan, jika dulu saja Ayah angkatnya itu seakan berjuang karena ingin memiliki Ayaz sebagai pewarisnya, namun setelah dinyatakan meninggal dan sayangnya meninggal dengan membawa keburukan, Tuan Donulai seperti enggan mengakui cucu sendiri.
Bagi Sam, terlepas Ayaz seperti apa, meninggal karena apa, jika pun Ayaz di benci oleh seluruh orang di dunia ini pun, namun Ayaz tetaplah Ayaz sahabatnya, bukan orang lain dan tidak akan pernah berubah menjadi orang lain.
Seharusnya Tuan Donulai juga bisa berpikiran seperti dirinya, apa lagi seorang cucu yang adalah darah daging sendiri, turunkan ego, terima apapun dan bagaimanapun kondisi Ayaz, ambil mayat pewaris satu-satunya keluarga Donulai itu dengan bangga, kebumikan secara layak, hitung-hitung penghormatan terakhir pada orang yang selama ini sangat di cari-cari keberadaannya oleh mereka, yang katanya sangat dinantikan kehadirannya di tengah-tengah keluarga mereka. Sam rasa dengan mengakui Ayaz tidak akan mampu menjadikan perusahaan bisnis mereka bangkrut begitu saja.
Jika begini, patut saja Ayaz tidak mau menerima keluarga Ibunya ini, nyatanya Tuan Donulai memang sangat kejam dan hanya tau caranya memanfaatkan orang.
Drettt... Drettt... Ponsel Sam berdering, ia segera mengambil benda pipih nan canggih itu, di lihatnya yang memanggilnya adalah Rymi. Sam segera mengangkatnya, dari tadi diirnya juga berusaha menghubungi Rymi untuk menanyakan perihal Ayaz, namun sayangnya nomor kekasihnya itu tidak juga aktif dan membuatnya sungguh frustasi.
"Rym..."
"Sam, ayo kita bertemu!"
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
__ADS_1