
"Kau, tidak akan semudah itu pergi dariku!" ucap Marco.
Hari ini Ayaz dan Marco bertemu, Rymi berhasil membuat keduanya bertemu, setelah Rymi harus memohon-mohon pada Ayaz untuk bisa menemui Bos mereka itu.
"Kau yang memintaku pergi!" tegas Ayaz, dia mengingatkan kembali kata-kata yang diucapkan Marco padanya malam itu.
"Kau harus membunuh Donulai! Ini perintah!" titah Marco.
"Aku sudah tidak bekerja di bawah perintahmu lagi, kau bukan lagi Tuanku!" ucap Ayaz.
"Kau ingin melawanku?" Marco menatap nyalang Ayaz.
"Aku tidak akan menggunakan jalan seperti itu, ada hati Rym yang akan sakit jika melihatnya." sahut Ayaz.
"Jangan pedulikan dia, kau benar-benar tidak tau diri..."
"Sudah kukatakan, seharusnya kau memang membunuhku tiga tahun lalu."
"Memelihara hewan buas, hanya ada dua pilihan jika kau memeliharanya, dia yang akan setia kepadamu, atau dia yang akan membunuhmu!" sindir Marco.
"Aku pernah mengatakan itu, rasanya tidak disangka kita benar-benar berada di tahap seperti itu. Heh!" Ayaz tersenyum kecut mengingat kedekatannya dengan Marco. Jika dulu perkataan seperti itu bagai candaan antaranya dan Marco namun kini dia harus menganggap serius segala pribahasa yang diucapkan Marco.
"Kau tidak akan bisa melawanku!" ucap Marco.
"Di sini, bukan bisa atau tidaknya siapa melawan siapa, tapi tidak ada cara lain selain melawan apapun yang menentangnya." ucap Ayaz tak kalah tegas.
"Kau!"
"Aku belajar banyak darimu! Termasuk bagaimana harusnya menyikapi berbagai cara bicara lawan kita, aku tidak akan melawanmu, karena aku sama sekali tidak punya niatan untuk itu, jadi jangan berani menyentuhnya!"
"Aku tidak peduli!"
"Maka jalan satu-satunya, kau harus berhadapan denganku!"
"Kau terlalu percaya diri!"
"Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku harus pergi." ucap Ayaz memutuskan perbincangan mereka.
Kemudian tanpa permisi, pria itu hendak berlalu pergi.
"Kasus Ali Yarkan, apa kau yakin bisa menanganinya sendiri?" ucap Marco, dan ucapannya itu berhasil membuat Ayaz menghentikan langkahnya.
Ayaz masih menunggu apa yang akan diucapkan Marco selanjutnya. Karena jika kasus Ali Yarkan dibuka, sebenarnya bukan hanya ia yang akan terjerat, Marco pun berpeluang untuk itu.
"Heh, aku bisa membuatmu membusuk di penjara, lalu dengan tanganku ini sendiri yang akan mengakhiri hidup Rangga Donulai."
__ADS_1
Ayaz mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, bukan karena dirinya yang lemah, namun Ayaz lebih-lebih kecewa dengan apa yang baru saja dikatakan Marco, bukankah itu berarti pengabdiannya selama ini sama sekali tidak dipertimbangkan sedikitpun oleh Marco, dengan tanpa bersalah Marco mengabaikan perasaannya.
"Itu masih belum terjadi, semenjak memutuskan keluar dan berhenti menjadi orangmu, aku tidak suka membicarakan hal yang sama sekali belum terjadi, karena aku mulai tidak suka berangan-angan." sindir Ayaz.
"Kau akan menyesal Ayaz, aku akan membuat Rangga menderita."
"Sekali saja kau sentuh dia, meski hanya seujung rambutnya, maka akan aku pastikan kau menanggung setiap detik pembalasanku." ucap Ayaz, kemudian tanpa ragu dirinya benar-benar pergi meninggalkan Marco.
"Keparat!"
...***...
Rymi masih menunggui Ayaz di ujung jalan, berharap Ayaz bisa menenangkan Marco.
"Ayaz!" serunya.
"Sudah berakhir!" ucap lirih Ayaz.
Rymi menganga tidak percaya, apa maksudnya Ayaz mengatakan itu.
"Dia, tidak akan memandangku!"
"Ayaz..."
"Kau, tetaplah setia padanya, meski nanti pada akhirnya kau harus melawanku!" ucap Ayaz lagi, dirinya sudah bisa memahami Marco, pria gila harta itu tidak akan menyerah begitu saja demi memupuk kekayaannya.
"Berharaplah dia tidak berubah pikiran." ucap Ayaz.
"Ayaz..."
"Rym, aku tidak apa! Jangan pedulikan aku, kau tidak seharusnya berpihak padaku, lakukan seperti apa yang memang semestinya, aku sudah mengkhianatinya, akan sangat buruk jika kau juga sama."
"Ayaz!"
"Aku tau hubunganmu dengan Marco, tidak perlu kau sembunyikan lagi, sebenarnya Tuan Marco adalah orang yang baik hati terlepas dari ketamakannya, dia yang menyelamatkanku, begitupun kau!" ucap Ayaz.
"Itu adalah alasan mengapa aku begitu berat meninggalkannya, dia adalah sosok Ayah yang begitu baik Ayaz, dan aku sangat menyayangkan itu." ucap Rymi seolah membenarkan apa yang baru saja Ayaz katakan.
"Tetaplah seperti seharusnya, berada dipihaknya memang sudah seharusnya kau lakukan, jangan pedulikan aku!" kata Ayaz, pria itu cukup mengerti bagaimana dilemanya seorang Rymi.
"Rym, kau tetaplah adikku!" Ayaz memegang pundak Rymi, lalu pria itu memeluk erat tubuh Rymi, mungkinkah perjalanan dan sebuah petualangannya dan Rymi harus berakhir sampai di sini.
"Apapun yang kau lakukan, aku selalu mendukungmu, jangan ragu untuk menghubungiku, berkeluh kesahlah padaku, meski aku berada di pihak lawan tapi kau bisa mempercayaiku, karena ingatlah bahwa aku masih orang yang sama." ujar Rymi, wanita itu sebisa mungkin menahan tangis.
Pada kenyataannya, bukan hal bahagia yang bisa memisahkannya dengan Ayaz, namun berpisah dan menjadi lawan seperti ini rasanya bagai berpisah karena kematian. Itu yang sedang Rymi rasakan saat ini.
__ADS_1
"Aku pergi!" pamit Ayaz.
"Ayaz..." lirih Rymi, wanita itu dengan berat melepaskan pelukan Ayaz.
"Jaga dirimu Rym!"
Rymi mengangguk pasti, kini dirinya dan Ayaz sudah berada di kubu yang berbeda.
...***...
"Dia sudah menikah dengan pria yang mengaku menghamilinya, bahkan setelah terusir dari rumah dia bahkan tinggal serumah dengan pria itu, apa itu masih belum cukup membuktikan bahwa Yaren memang tidak cukup baik?"
"Yaren, menikah?"
"Aku tidak yakin dia bisa melakukan hal seburuk itu! Selama ini dia tidak pernah dekat dengan siapapun!"
Dokter Amri menggeleng pelan, sampai saat inipun setelah perkataan Argantara di cafe tadi, Dokter Amri tetap saja enggan percaya.
"Aku harus menyelidikinya, tapi di mana Yaren saat ini, aku bahkan tidak mengetahui keberadaannya." keluh Dokter Amri.
"Cemir, yah Cemir!" seketika Dokter Amri ingat satu-satunya teman Yaren yang saat ini berada di panti asuhan, mungkin saja Cemir mengetahui suatu hal tentang Yaren.
"Yaren tidak mungkin berada jauh dari kota ini, Argantara bahkan mengetahui kalau Yaren sudah menikah itu berarti Yaren pasti berada di sekitar sini, Argantara pasti masih mengawasi pergerakan Yaren." gumamnya.
Tok tok tok,
Suara pintu diketuk, Dokter Amri memperbaiki suasana hatinya, kembali ke jabatannya, dirinya harus kembali bekerja melayani orang-orang yang membutuhkannya.
"Masuk!" sahutnya.
"Permisi Pak Dokter, apa anda yang bernama Doker Amri?" tanya seorang pria paruh baya, terlihat berwibawa namun Dokter Amri sama sekali tidak mengenalnya.
"Iya!"
"Bisa ikut kami sebentar?" tanya pria itu.
"Saya masih harus bekerja." tolak Dokter Amri.
Baginya kalau penting, mengapa tidak membicarakannya langsung saja, apa tujuan mereka menemuinya.
"Ini menyangkut Raisa Karunia Argantara!" ucap pria itu lagi, menekankan nama Raisa Argantara yang pastilah Dokter Amri kenali.
"Siapa anda?"
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...