Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Hal yang pertama harus dirinya lakukan.


__ADS_3

Paginya, Ayaz mendapat panggilan telpon dari pihak kepolisian, sesuai permintaan yang pernah dirinya minta waktu itu, maka hari ini pihak kepolisian berencana untuk memeriksa kediamannya, Ayaz juga dikabarkan kalau pihak kepolisian juga sudah memeriksa kediaman keluarga Ali Yarkan, jadi hari ini seharusnya adalah jadwal pemeriksaan di kediamannya.


Ayaz mengerti, ia mengatakan akan segera ke kantor polisi untuk mengatakan perihal yang penting, ia harus menuntaskan ini segera supaya tidak terjadi kecurigaan yang berlarut.


Entah mengapa, seolah keadaan yang saling berhubungan, mengapa rumahnya harus terbakar di saat seperti ini.


Dan kantor polisi,


"Jadi, Pak Dean, anda mengabarkan kalau anda tidak bisa memenuhi pemeriksaan itu dikarenakan sebab rumah anda terbakar?" tanya pihak penyidik.


Ayaz mengangguk, "Saya juga masih menyelidiki apa yang terjadi." jawab Ayaz.


"Anda yakin?" ketua penyidik itu tampak memandang curiga pada Ayaz.


"Apa yang mau anda dengar?" tanya Ayaz langsung.


"Anda yakin tidak membakar rumah anda untuk melenyapkan barang bukti? Ini kasus pembunuhan, apa saja bisa terjadi, kami tidak bisa mempercayai siapapun anda pun mengetahui itu!" lanjut penyidik itu lagi.


"Apa anda sudah gila? Istri saya bahkan bertarung nyawa di sana!" ucap Ayaz, nada bicaranya yang sedikit meninggi, mengisyaratkan kalau ia tidak suka.


"Lalu, di mana anda saat kejadian?"


"Saya pergi untuk membeli kebutuhan rumah tangga di mini market, apa itu kesalahan? Apa kalian bisa memikirkan alibi kalian tentang ini?" tegas Ayaz.

__ADS_1


"Pak Dean, anda adalah orang yang menyarankan untuk pemeriksaan ulang, dan juga waktu itu anda sangat kooperatif mengatakan kalau bersedia kapan saja untuk penggeledahan rumah, namun kejadian ini tidak bisa dianggap sepele, entah anda yang melakukannya atau bukan namun kejadian ini patut diselidiki."


"Silakan anda selidiki, saya masih sedikit shock karena rumah saya hangus tidak tersisa, jadi jika anda mau melakukan tindakan, menyelidiki jika memang mungkin ada sesuatu dibalik terbakarnya rumah saya, saya akan sangat merasa terbantu." ucap Ayaz, untuk saat ini mungkin dirinya hanya bisa pasrah saja, terlalu banyak hal yang harus diirnya urus, ditambah lagi kasus Ali Yarkan yang memang belum juga mendapat penyelesaian, mengapa juga harus datang di waktu yang hampir bersamaan.


"Anda tidak keberatan?" tanya penyidik.


Ayaz mengambil selembar kertas yang tersusun di atas printer, ia menuliskan alamat rumahnya, "Anda bisa memulainya dari sini? Saya tunggu tindakan anda, dan saya sebisa mungkin akan bersikap kooperatif!" ucap Ayaz meyakinkan.


Ketua penyidik itu mengangguk, sejauh ini sebenarnya pihak saksi yang berpotensi menjadi tersangka atas tuduhan orang tua Ali Yarkan ini cukup kooperatif dalam pemeriksaan, mereka saja jika menggunakan hati nurani entah mengapa malah merasa Dean Aries bukanlah orang yang membunuh Ali Yarkan, apa lagi saat penggeledahan rumah utama keluarga Ali Yarkan dua hari yang lalu, mereka menemukan sebuah barang bukti yang bisa membuktikan kalau Dean Aries tidak bersalah, dan malah keadaan akan berbalik jika mereka berhasil mengungkapkannya.


Namun, sebagai penyidik tentunya mereka tidak bisa memandang sebelah mata, membela dan memihak siapa ataupun menyudutkan siapa, sama seperti apa yang terjadi pada Dean Aries saat ini, keluarga Ali Yarkan pun kemarin sudah mereka tanyai dan selidiki satu persatu, tanpa belas kasih, semua yang berpotensi menjadi tersangka ataupun hanya saksi biasa mereka sebagai penyidik haruslah selalu bersikap sama.


"Kami akan mengabari perkembangannya!" Penyidik itu tanpak berpikir, "Apa istri anda baik-baik saja?" kemudian lanjut bertanya.


"Dia mengalami sedikit trauma! Beruntung bisa diselamatkan tepat pada waktunya." jawab Ayaz, kali ini ia benar jujur atas jawabannya.


Ayaz tampak berpikir, "Dia tinggal di rumah Kakaknya saat ini, jika anda ingin menanyainya mungkin bisa besok atau lusa, dan juga bisakah anda yang datang menemuinya saja, maaf karena istriku harus bed rest total beberapa hari ini." jelas Ayaz. Ia juga sedikit khawatir tentang Yaren, bagaimana keadaan istrinya itu, belum selesai trauma akan kebakaran yang terjadi, dan Ayaz seolah tidak bisa melindunginya jika besok Yaren juga sedikit banyaknya akan mengetahui keterlibatannya pada sebuah kasus pembunuhan.


Nampaknya, kali ini Ayaz benar-benar harus memberi tahu Yaren tentang bagaimana hidup seorang Ayaz Diren yang sebenarnya. Untuk itulah Ayaz meminta waktu setidaknya besok, karena jika harus sekarang juga, Ayaz benar-benar tidak memiliki persiapan.


"Ya baiklah, beri tahu saja di mana alamat rumah kakaknya, nanti kami akan datang besok atau lusa." ucap penyidik.


Ayaz mengangguk, lalu ia memberikan alamat rumah Jovan selaku orang yang benar-benar adalah kakak dari istrinya.

__ADS_1


"Seperti familiar, bukankah ini rumah Tuan Jovan Dirga? Apa istri anda punya hubungan dengan Tuan Jovan?" tanya penyidik itu.


"Iya, dia adik dari Jovan Dirga!" jawab Ayaz.


"Benarkah? Bukankah selama ini Jovan Dirga adalah putra tunggal, dan sosoknya yang begitu terkenal karena dia adalah satu-satunya pengusaha muda yang sukses melampaui batas meski statusnya yatim piatu?" tanya penyidik tersebut menatap curiga lagi.


"Anda bisa mewawancarainya tentang itu di pertemuan besok, aku rasa dia tidak keberatan, namun jika penjelasan itu keluar dari mulutku, aku rasa aku tidak berhak membuka rahasianya meski dia adalah kakak iparku! Belum lagi mengingat, Jovan Dirga bukanlah orang yang sembarangan kan!" jawab Ayaz.


Penyidik itu mengangguk, ia juga setuju, baginya jawaban Ayaz juga terdengar masuk akal.


"Baiklah Pak Dean, jika besok atau lusa kami benar-benar mengunjungi istri anda, maka kami pasti akan memberitahu anda terlebih dahulu, terimakasih sudah datang dan sudah mau menjelaskan semuanya." ucap penyidik itu, mengulurkan tangannya mengajak Ayaz bersalaman.


Ayaz menyambut uluran tangannya, "Saya juga berterimakasih." sahut Ayaz singkat.


Ia membenarkan jaketnya, mengangguk sebagai rasa hormat dan berpamitan untuk pulang.


Dalam perjalanannya menuju parkiran, matanya tidak sengaja menangkap sosok wanita yang begitu ingin dirinya lenyapkan, Amla, istrinya Sian itu tampak masih memakai kursi roda didampingi beberapa pengawal menuju kantor kepolisian. Ayaz berpikir pasti Amla sedang mengurus kasus hilangnya Sian.


"Cari saja, cari saja aku ingin lihat seberapa besar usahamu!" gumam Ayaz, kemudian ia berlalu masuk ke mobil, saatnya mengurus apa yang harus disiapkan untuk penyidikan besok, Yaren benar-benar harus dibekali beberapa hal supaya tidak menyulut kecurigaan.


Mobilnya melaju dengan cepat menuju mansion, hari ini juga ia harus memindahkan Yaren ke rumah Jovan, dan dia harus berunding dengan Jovan untuk masalah penyelidikan besok. Bukan itu sepertinya terlalu jauh! Ayaz memikirkan sesuatu yang sebenarnya begitu penting untuk memulai semua ini.


Yah, yang pertama, hal yang pertama harus dirinya lakukan adalah, jujur terhadap Yaren mengenai siapa dirinya.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2