Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Aku benar-benar tidak mengerti!


__ADS_3

Jovan dan Yaren dalam perjalanan pulang saat ini, namun pemikiran Jovan terus saja tertuju pada Dokter Amri, kiranya siapa pria itu di masa kecilnya.


Dan, Ciiitt...


Mobil direm mendadak, Jovan baru saja teringat akan sesuatu.


"Ada apa Kak?" tanya Yaren cemas, takut terjadi sesuatu.


"Apa kau tau siapa Dokter Amri? Maksudku dia... Bukankah kau bilang dia adalah saudara dari Mama, tapi mengapa aku tidak mengenalinya?" tanya Jovan.


Yaren menetralkan rasa cemasnya, "Oohh, syukurlah hanya itu." ucapnya sembari mengelus dada.


"Dia adalah anak Bibi Rachel, apa Kakak tidak tau?" lanjut Yaren.


"Bibi Rachel?" tanya Jovan lagi.


"Iya!"


Jovan berpikir lagi untuk benar-benar mengingatnya, dan ya! Dia rasa Bibi Rachel memang memiliki seorang putra yang... Cukup pendiam dan sulit bergaul dulunya, mungkinkah pria itu adalah Amri.


"Apa dia..." gumam Jovan.


...***...


"Tok tok tok!" suara pintu diketuk, setelah berbicara banyak dengan Marco maka rasanya tidak adil jika Rymi tidak mendatangi Ayaz juga. Ayaz butuh dukungan, mungkin juga butuh seseorang untuk ia berbagi cerita, dan Rymi merasa ia bisa melakukannya.


Ceklek,


"Ada apa?" tanya Ayaz penuh selidik.


"Bukankah sudah biasa aku masuk ke kamarmu?" tanya Rymi balik. Wanita itu langsung saja melenggang masuk tanpa harus merasa sungkan.


Ayaz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia menatap Rymi penuh selidik, ia bisa menebak mungkin juga Rymi baru saja menemui Marco, kali ini entah apa lagi yang wanita itu rencanakan pikir Ayaz curiga.


"Kau memikirkan Yaren?" tanya Rymi.


Ayaz mengangguk kecil, kali ini ia tidak berbohong, sebenarnya ia juga memikirkan Yaren hampir di setiap saat.


"Apa kau sudah menerima Marco?" tanya Rymi, wanita itu santai saja merebahkan tubuhnya di ranjang king size milik Ayaz.

__ADS_1


Dia mengedarkan pandangannya, dilihatnya beberapa foto wanita yang dirinya kira adalah foto Nindi, ternyata dugaannya benar kalau Marco benar-benar menyayangi wanita di masa lalunya itu. Rymi tersenyum miris, kalaulah Nindi masih ada mungkin Ayah angkatnya itu pasti akan lebih bahagia, punya seorang istri dan anak.


"Entahlah!" jawab Ayaz singkat.


"Dia sudah menyesal Ayaz! Bukankah dia juga sudah menjelaskan mengapa dia bisa melakukan itu terhadap kau dan Ibumu! Apa kau kurang percaya? tidak bisa mempercayainya? Oh ayolah, kita tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu, Ibumu juga tidak pernah menceritakannya bukan, apa karena ibumu tidak tidak pernah menceritakannya sehingga kau tidak mempercayai Marco?"


"Aku di sini bisa mengerti! Bukan bukan, lebih tepatnya mencoba mengerti, Marco dulunya adalah sama sepertimu hanya bedanya dia adalah penjahat yang tidak berpendidikan, hanya kelas bawah jadi hidupnya teruntang-lantung dan tidak memiliki harapan, aku bisa mengerti mengapa ibumu menjauh dan meninggalkannya, maka haruskah semuanya menjadi beban dan disalahkan padanya seorang? Bukankah itu sangat tidak adil."


"Aku bukannya membela Marco karena dia adalah Ayah angkatku, bukan! Tapi aku melihat di sini dia juga tidak sepenuhnya bersalah."


"Ayaz... Kau, jangan berpikiran aku mengatakan ini semua karena dia memerintahku atau karena dia yang memintaku bantuanku, bukan sama sekali! Kau tau, dia cukup pasrah dan juga lumayan bisa bersabar menunggu dirimu."


"Rym, kau tidak perlu melakukan ini semua." ucap Ayaz.


"Hei... Apa kau baru saja merasa kalau aku melakukan ini untukmu? Tidak tidak, kau sepertinya terlalu perasa!" Rymi tergelak kala mengatakan itu.


"Aku hanya ingin masalah ini cepat selesai supaya aku bisa istirahat dengan tenang, bisa berlibur! Kau tahu, dari semenjak hari itu, hari di mana kau menyuruhku untuk menyelamatkan Sam, aku sudah kehilangan waktu akhir pekanku, liburan yang sangat aku nantikan, aku sudah mengalah dan melepaskan masa liburku yang sangat aku rindukan. Seharusnya kalian merasa bersalah dan bertanggung jawab untuk itu bukan? itu pun jika kalian masih punya perasaan!" keluh Rymi.


Mendengar alasan Rymi yang lebih terdengar seperti mengada-ngada, Ayaz tergelak kecil, senyum samar terukir di sudut bibirnya.


"Kau ini!" Ayaz mengusap lembut puncak kepala Rymi dengan sayang.


"Kau kan adikku!" ucap Ayaz.


"Hemm, Iya iya!" Rymi tersenyum manis mendengar pengakuan Ayaz itu.


"Ah ya, bagaimana hubunganmu dengan Sam? Apa ada kemajuan? tanya Ayaz, sahabatnya itu terakhir yang ia lihat, Sam jelas begitu menyukai Rymi.


"Jangan pikirkan hubunganku dengannya, pikirkan saja dirimu yang mempunyai segudang masalah! Semoga setelah ini kau tidak melibatkanku lagi. Kau tau, aku cukup mual mengurusi masalahmu terus-terusan!" alih Rymi.


"Apa kau menyesal apa kau baru saja melayangkan protes?" tanya Ayaz lagi.


"Haaahhh!" Rymi menghela napasnya berat, "Mau bagaimana lagi?"


"Hahahaha!" keduanya tergelak bersama.


"Tapi Rym, setelah ini mungkin kau juga akan terlibat lagi, lebih baik kau pending dulu masa liburanmu!" ucap Ayaz tanpa bersalah memberikan saran, ia menatap Rymi dengan senyum mengejek, sedang yang ditatap merasakan heran, ada apa lagi pikirnya?


"Kenapa begitu? Apa maksudmu?" tanyanya.

__ADS_1


"Donulai!" satu kata itu benar saja berhasil membuat Rymi mendengus kesal, "Setelah masalah ini semuanya selesai, mungkin kau harus menghadapi cintamu san juga sekaligus membantuku!" jelas Ayaz.


"Apa kau bercanda? Aku tidak mencintainya kau tahu!" ucap Rymi mengoreksi.


"Memangnya aku mengatakan apa? Memangnya aku mengatakan siapa yang kau cintai? Siapa cintamu?" Ayaz tergelak, namun juga merasa puas hati bisa mempermainkan Rymi yang tanpa sadar sebenarnya Rymi baru saja mengakui bahwa wanita itu punya perasaan lebih terhadap Sam.


"Ya kau mengapa mengatakan harus menghadapi cintaku? lalu Donulai?" tanya Rymi dengan tatapan sinisnya.


"Dan kau! Mengapa langsung mengatakan kau tidak mencintainya? Apa kena sekali? Kau merasa ya?" tanya Ayaz bertubi-tubi.


"bukan seperti itu, tapi..." Rymi tergagap, ia kalap dan seolah terjebak sebab kata-katanya sendiri.


"Sudahlah, akui saja! Kau sudah mulai ada perasaan dengannya bukan?" sergah Ayaz semakin menjadi.


"Ayaz!" geram Rymi. Pipi dan telinganya memerah, hawa panas menyeruak seketika, ia menjadi malu tak terhindarkan.


"Samudra Rangga Donulai! Kedengarannya tidak buruk jika kau menjadi nyonya Donulai!" Ayaz begitu senang membuat Rymi dalam posisi semacam itu. Wanita bak singa betina itu, nyatanya bisa juga merasakan jatuh cinta.


"Bukankah kau pewaris satu-satunya! Dia itu hanya anak angkat." ucap Rymi.


"Lalu, kenapa jika dia hanya anak angkat? Bukannya Marco juga sangat menyayangimu, jangan meremehkan kekuatan anak angkat di sebuah keluarga!"


"Tapi kami berbeda!" timbang Rymi tidak mau kalah.


"Apanya? Bahkan aku tahu nyawa orang tuanya sedang berada di tanganmu, entah karena hal apa kau menyelamatkan ibunya, yang pasti bukan karena aku kan! Sudahlah akui saja, semakin kau menghindar maka semakin kentara sekali dan aku semakin bisa melihatnya!" ucap Ayaz yakin.


"Hei, dasar!" umpat Rymi, namun senyum merekah juga tergambar di wajahnya.


"Samudra!" ucap Ayaz.


"Ayaz!" kesal Rymi.


"Rymi dan Samudra! Aku tidak tahu bagaimana nanti dia bisa menghadapimu yang seperti macan gila ini?" Ayaz meledek Rymi lagi.


"Ayaz kau bilang apa? Aisshhh, aku tidak seburuk itu ya? Huh, mengapa setiap pria selalu saja menyebutku gila? Aku benar-benar tidak mengerti!" ucap Rymi dengan kekesalannya.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2