
“Mari kita menikah!”
Ayaz menghentikan kunyahannya, kemudian menatap mulut yang sudah seenaknya menawarinya hal gila lagi.
“Kau terlalu terbawa suasana!” ucapnya.
“Tidak, aku serius!”
“Heh, berhenti berkhayal, itu tidak akan terjadi.” Dengus Ayaz kesal, selera makannya mendadak hilang.
“Kau bisa saja berpikir menjadikan aku teman ranjangmu, anggap saja yah aku menjual tubuhku yang berharga ini demi melunasi hutangku padamu, tapi tidak bisakah kau berpikir bagaimana menjadi aku? Sedikit saja? Ini bukan hanya pasal menjadi ratumu, ataupun menjadi budak nafsumu, bagiku sesuatu yang berharga hanya akan aku berikan pada yang berharga,” ucap Yaren, berbicara sangat pelan, air matanya juga sedikit menetes kala dirinya mengatakan hal sesungguh itu.
“Hidupku terlalu rumit, aku tidak mau dirumitkan lagi dengan masalah pernikahan, aku bisa memberikanmu apa saja, uang, perhatian, tapi aku tidak bisa menikahimu! Aku akan menyuruhmu pergi jika aku sudah bosan!” ucap Ayaz, terdengar memilukan untuk telinga Yaren yang tidak biasa diperlakukan begitu oleh seorang pria.
Apa sebegitu tidak berharganya seorang Yaren Motan bagi pria di hadapannya ini?
“Aku bersalah telah dengan yakin mengikutimu! Aku sungguh bersalah telah meyakinimu, yakin bahwa kau adalah orang baik, Ayaz... Aku mohon lepaskan aku, jika kau tidak mau kita menikah, maka lepaskan aku, aku akan membayar hutangku padamu, dengan cara apapun, mencicil ataupun melakukan sesuatu untukmu secara cuma-cuma, tapi aku mohon, lepaskan aku dari derita ini!” mohon Yaren lagi.
Awalnya, wanita itu memang ingin merencanakan kabur dari rumah itu sekali lagi dengan menggoda Ayaz, namun rasanya Yaren tidak sanggup, dan lebih memilih menawari Ayaz menikah.
Yaren ingin berbicara baik-baik pada Ayaz, meluluhkan hati pria itu, jika Ayaz setuju untuk menikah dengannya, Yaren akan berusaha untuk menjadi istri yang baik, meski perkenalan mereka begitu singkat, meski Yaren tidak mengetahui dengan jelas siapa sebenarnya Ayaz.
“Kau yang memutuskannya, kau sendiri yang sudah melangkahkan kakimu ke dalam penderitaan, lalu... Di bagian mana kesalahanku?” ucap Ayaz gampang, mengambil lagi satu buah bola-bola kornet untuk dia masukkan ke mulutnya.
Yaren menunduk, wajahnya merah padam menahan kesal, namun setitik demi setitik air mata juga mulai berjatuhan, Yaren sungguh putus harapan.
“Mengapa kau begitu peduli? Di zaman kini, rasanya lumrah saja menjadi teman ranjang meski tanpa ikatan pernikahan!” ucap Ayaz. Tidak ingin membuat Yaren ke dalam beban yang semakin berat, anggap saja dirinya dan Yaren sedang menjalani simbiosis mutualisme. Yaren juga bisa hidup berkecukupan bahkan mewah jika kenyataannya memang benar Yaren masih suci.
“Kau hanya mengerti sebagiannya saja, melihat bagaimana ruang utamanya, aku tau, benar katamu hal demikian lumrah saja, mungkin mereka bisa melakukannya atas dasar suka sama suka! Lalu pernahkah kau berpikir, bagaimana jika salah satu dari mereka melakukannya atas dasar keterpaksaan?” Yaren mengisi kembali air minum di gelas, meneguknya pelan untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.
Tidak menyangka bahwa dirinya dan Ayaz akan membicarakan hal intim begini.
“Tidak ada yang terpaksa, aku tidak suka memikirkan orang lain!” ucap Ayaz tetap pada prinsipnya.
“Baiklah, semuanya sudah berakhir! Kau akan melakukannya jika kau mau, kapan saja, aku harus merelakannya meski aku tidak ingin!” lirih Yaren.
“Menarik sekali Nona.” Ayaz memiringkan sudut bibirnya. “Ku akui kau berbakat menghargai dirimu!”
__ADS_1
“Silakan lanjutkan!” ucap Ayaz, dirinya sudah selesai menghabiskan makanannya. Menunggu lanjutan dari apa yang sebenarnya Yaren ingin utarakan.
Yaren diam, dipandangi jarinya yang saling mer*mas, apa lagi yang harus dirinya katakan, sebagai makhluk lemah katakan dirinya harus melakukan apa?
“Aku tertarik mendengar pendapatmu?” ucap Ayaz lagi.
“Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, meski dengan hubungan kita yang hanya sebatas... Dan aku tidak bisa berharap banyak, tapi setidaknya aku tidak terjebak dalam hubungan yang haram!” jelas Yaren melanjutkan.
“Hubungan haram?”
“Aku ini Islam, meski tidak begitu mengikuti syariat, namun tetap saja aku Islam, meski auratku belum tertutup, meski aku sering meninggalkan kewajiban-kewajiban bagaimana seharusnya orang Islam, tapi aku tetap punya agama dan kepercayaan.”
“And then?”
Yaren memejamkan matanya, “Aku pernah punya teman, dia adalah anak panti asuhan, namanya Cemir, kau tau dia sudah berada di panti itu sedari bayi.”
“Masih bayi, harus menanggung segala penderitaan, atas apa yang semestinya tidak seharusnya disalahkan padanya.”
Ayaz menyeduh kopi, untuk menemaninya mendengar cerita Yaren. Baiklah, Ayaz sudah memutuskan kali ini akan mengalah.
“Lanjutkan!” sentaknya, menyadarkan Yaren dari lamunan.
Yaren tersenyum, tumben sekali dirinya dan Ayaz bisa berbicara banyak begini, Ayaz yang dilihatnya dapat bersikap santai mendengarkan ceritanya.
“Dia bekerja sangat keras untuk menghidupi dirinya sendiri, aku mengenalnya saat dirinya berumur empat belas tahun!”
“Dia tidak pernah mengeluh, meski tidak punya orang tua, namun ada satu hal yang selalu membuat wajahnya tiba-tiba menjadi muram!”
“Anak haram!” Yaren menarik napasnya dalam, “Dia tidak minta dilahirkan di dunia jika hanya untuk dibuang, dia tidk membenci kedua orang tuanya, dia tidak iri saat anak-anak seusianya begitu berlimangkan perhatian orang tua, namun dia sungguh benci saat ada yang mengatakannya anak haram!”
“Karena asal-usulnya hanyalah dari seorang bayi yang diletakkan begitu saja di depan gerbang pintu asuhan, tidak mengenali siapa orang tuanya.”
“Lalu, apa hubungannya denganku? Kau berbicara sudah melebar dari inti!” protes Ayaz.
__ADS_1
“Aku dan kamu, menjadi partner ranjang, tanpa ikatan pernikahan, melakukannya berkali-kali, lalu suatu saat aku hamil, dan akan melahirkan anakmu, meski kau mengakuinya, meski kau menyayanginya, namun dirinya tetaplah anak haram!”
“Bayi itu tidak berdosa, aku...”
“Kau bisa memakai kontrasepsi! Aku tidak bodoh dalam melakukannya, jangan terlalu berlebihan Yaren.” Ucap Ayaz semakin menambah sesak di dada Yaren.
Yaren bangkit, mengepalkan tangannya, kemarahan sungguh menguasainya saat ini. Bagaimana bisa ada pria seburuk Ayaz?
“Kau tega Ayaz, kau sama sekali tidak memedulikan aku?” keluh Yaren, hatinya bagai tercabik-cabik, lagi-lagi dirinya harus mendengar betapa tidak pedulinya Ayaz akan dirinya.
Dua tahun lalu, seharusnya Yaren sudah menjadi dokter Obygn kalau saja Raisa tidak cemburu berlebihan padanya.
Yaren harus memutuskan berhenti kuliah, dan terpaksa menjadi anak Tuan Argantara yang tidak berguna seperti yang selalu Ibu tirinya dan Raisa katakan tentangnya.
Dan Yaren sungguh tau, apa yang tidak baik jika dirinya memakai alat kontrasepsi sementara dirinya belum pernah melahirkan sama-sekali.
“Jangan terlalu dianggap serius Nona Yaren Motan, jalani saja tanpa perasaan, anggap saja kau dan aku sedang bermain rumah-rumahan, namun jangan pernah berharap ada hubungan yang lebih antara kita, apa lagi sampai membayangkan dirimu mengandung anakku!”
“Aku tidak suka peduli akan sesama!” Ayaz membelai lembut pipi Yaren, “Aku memang sudah sangat jauh dengan Tuhanku, karena Dia memang tidak pernah memperhatikanku!”
Bersambung...
...Like, koment, and Vote !!!...
__ADS_1