
"Sebagai orang yang mengetahui tentang Ayaz Diren, bagaimana kehidupan Ayaz Diren sebelumnya?" tanya Ketua Penyidik, dengan dadakan saat ini malah Sam berlanjut diintrogasi.
Apa aku harus jujur saja? Apa tidak akan memperberat Ayaz? Ah tidak, lagipula Aya sudah tiada, tidak ada lagi yang harus diselamatkan, tak terkecuali namanya.
"Ya, aku mengenalnya! Dia sahabatku!" jawab Sam.
"Sejak?"
"Sejak kami bertemu di kediaman Sian Huculak sepuluh tahun lalu!"
Sam siap memberikan fakta baru mengenai siapa Ayaz Diren sebenarnya. Kali ini, yang paling akan diberatkan menurutnya tetap saja Amla, selaku orang yang memang harus bertanggung jawab atas segala kesalahan yang Ayaz perbuat. Karena secara tidak langsung menurutnya Sian dan Amla lah yang menjadikan jiwa Ayaz menjadi jiwa seorang penjahat.
Dukungan dari Marco yang memang adalah biangnya penjahat, membuat Ayaz lupa bahwa segala perbuatannya tentu akan mendapatkan balasan.
"Sian Huculak?" ketua penyidik itu tampak heran, kenyataan apa lagi ini.
Apakah Ayaz Diren mengenal Sian Huculak, itu berarti apa mungkin Ayaz juga mengenal Amla pikirnya.
Sam mengangguk, aku mengenalnya saat statusku waktu itu adalah seorang anak salah satu pelayan, aku juga ikut bekerja di sana saat itu. Ayaz orang yang baik, meskipun kerap kali diperlakukan tidak adil oleh Sian.
__ADS_1
"Apa Ayaz Diren adalah juga seorang pelayan seperti status anda dulunya Tuan Rangga?"
Sam menggeleng pelan, "Tidak! Dia adalah anak dari Nyonya Nindi Rowans, mendiang istri dari Tuan Sian Hucuak, sekaligus istri pertamanya!" jawab Sam.
"Yah!" ketua penyidik itu mengangguk, meski dia juga belum sepenuhnya mengerti, "Kami memang pernah mendengar tentang mendiang istri Tuan Sian Huculak, namun kami tidak mengetahui tentang anak beliau, setau kami Tuan Sian tidak memiliki anak dari istri pertamanya!" tanya Ketua Penyidik karena pernyataan Sam masih membingungkan baginya.
"Itu benar!"
"Tunggu sebentar!" Dokter Diana yang mendengar itu menyela, "Saya rasa saya pernah mendengar berita ini!" timpalnya.
"Benarkah?"
"Apa?" antusias ketua Penyidik, rekannya satu profesinya sama sekali tidak mengatakan perihal ini padanya, karena begitu banyaknya kasus yang menyita perhatian mereka, jadi untuk sekedar berkomunikasi ataupun saling bercerita tentang kasus masing-masing yang tengah di hadapi pun, saat ini mereka kurang memiliki waktu.
"Hasil otopsi Tuan Sian Huculak sudah keluar, dan nyatanya kematian Tuan Sian bukanlah disebabkan oleh kecelakaan, melainkan karena dibunuh!"
"Dibunuh?"
"Iya, dibunuh dan sebelumnya disiksa, hal itu sesuai juga dengan laporan salah satu pengawal di kediaman Huculak!"
__ADS_1
"Benarkah?" tanggap ketua penyidik itu terkejut.
Sementara Sam menyimak, dirinya juga baru mengetahui tentang itu, dia sungguh tidak percaya apa benar campur tangan Rymi dan Ayaz telah mengubah pandangan terhadap kasus itu. Benar-benar tidak bisa dibayangkan betapa licik wanitanya itu.
"Apa sudah diketahui siapa dalangnya?"
"Dokter Diana menggeleng pelan, hal itu juga masih diselidiki, tapi tersangka sementara sudah ditetapkan, Nyonya Amla Huculak!" beber Dokter Diana.
"Apa?"
Sam menggeleng lagi, benar-benar pengalihan tanggung jawab yang begitu sempurna, tanpa cela.
"Lalu Tuan Rangga, apa kalian sangat dekat?" mereka kembali ke topik, karena memang tidak memiliki banyak waktu.
"Ya, sebelum akhirnya terpisah karena Ayaz harus melarikan diri dari cengkraman Tuan Sian!" ungkap Sam.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
__ADS_1