
“Dia Ibuku!” sahut Ayaz.
Sam yang terkejut dengan refleks memudurkan langkahnya, Ibu? Apa maksudnya?
“Siapa kau?” tanya Sam lagi.
Batinnya berkecamuk, matanya mulai memanas, Sam mulai meneliti tubuh seseorang yang masih berjongkok itu. Ayaz, pria itu masih menunduk enggan memperlihatkan wajahnya.
“Kau siapa? Apa kau juga mengenal Ibuku?” tanya Ayaz heran.
“Ibumu?” tanya Sam seolah tidak percaya.
Sam ikut berjongkok, lalu tangannya refleks memegang pundak Ayaz, matanya menatap sebuah nama yang terpampang di batu nisan. Nindi Rowans, benar saja dirinya tidak salah mengunjungi makam.
“Apa kau mengenal Ayaz Diren?” tanya Sam hati-hati.
Refleks Ayaz mendongakkan wajahnya kala namanya disebutkan.
“Sia...” Ayaz tidak jadi melanjutkan ucapannya, matanya membulat menangkap sosok yang sangat dirinya kenal, sosok itu tidak berubah sama sekali perawakannya, badan yang tegap dengan kepala plontos, warna kulit yang tidak terlalu putih namun bersih, tidak ada yang berubah dari tiga tahun yang lalu.
“Kau!”
“Kau...”
Keduanya berucap bersamaan. Baik Ayaz maupun Sam, keduanya sama-sama dilanda keterkejutan.
“Kau!” ulang Sam. Pria itu refleks memeluk Ayaz, sahabatnya, seorang yang sangat dirinya rindukan, dan saat ini sedang dirinya cari, kini siapa yang bisa menyangka kalau Ayaz sudah berada di hadapannya tanpa sengaja. Bukankah ini sebuah takdir, jalan dari Tuhan.
“Sam!” lirih Ayaz saat keduanya masih berpelukan.
“Iya aku Sam! Ayaz, kau benar-benar Ayaz?” tanya Sam sulit untuk percaya, pria itu melepaskan pelukannya dipandanginya wajah Ayaz yang sangat dirinya rindukan. Sedikit berbeda, Ayaz yang dirinya kenali dulunya begitu kurus, tidak mempunyai dada bidang seperti ini, otot lengannya pun tidak terbentuk sempurna semacam ini, apa yang sudah Ayaz lakukan sehingga bisa mempunyai badan sesempurna ini. Sangat jauh dari perkiraan Sam, yang mengira hidup Ayaz yang tidak begitu baik.
“Bagaimana cara kau bertahan hidup, ah ya Tuhan syukurlah, apa kau hidup dengan baik selama ini?” tanya Sam.
“Ya, setidaknya lebih baik dari pada saat aku tersiksa di rumah Sian.” Sahut Ayaz.
“Yah kau benar, Sian keparat itu, kau harus membalaskan semuanya Ayaz.” ucap Sam, dirinya begitu bersemangat karena sudah berhasil menemukan Ayaz, apa lagi dilihatnya Ayaz dalam keadaan baik-baik saja.
“Aku harus mencari keberadaan keluarga Ibuku dulu Sam!” ungkap Ayaz, entah mengapa dirinya memilih jujur saja dengan Sam, mungkin karena dirinya merasa Sam adalah kawan baiknya dulu, sehingga ucapan itu bagai meluncur begitu saja, padahal Ayaz selalu saja waspada jika berbicara dengan orang yang baru saja ditemuinya. Namun ini Sam, mungkin Ayaz akan mengecualikan untuk yang satu ini.
Sam seketika tersadar, Ayaz sedang mencari keberadaan keluarga Ibunya, bukankah berarti selama ini mereka saling mencari, sungguh sangat mengharukan, bagaimana bisa hari ini akan menjadi salah satu hari bersejarah dalam hidup keluarga Donulai dan Ayaz.
__ADS_1
“Ikutlah denganku!” titah Sam.
“Ada apa?” tanya Ayaz.
“Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.” jawab Sam.
“Siapa?” tanya Ayaz lagi.
Sam memegang tangan Ayaz, pria itu menuntun langkah sahabatnya itu untuk menemui Tuan Donulai.
“Ayah!” panggil Sam pada pria paruh baya itu.
Ayaz sedikit terkejut, apa maksudnya Sam memanggil Tuan Donulai dengan panggilan Ayah, apa yang terjadi, bukankah Sam adalah anak dari salah satu pelayan di rumah Sian dulunya. Pikir Ayaz tidak percaya, mengapa seakan semuanya begitu banyak teka-teki.
“Siapa dia?” tanya Tuan Donulai. Dipandanginya wajah pria yang tengah Sam bawa, ada yang aneh, mengapa seperti ada ketertarikan saat dirinya melihat pria itu.
“Dia Ayaz Ayah, dia orang yang kita cari selama ini!” ungkap Sam.
Lagi dan lagi, Ayaz dilanda keterkejutan, Sam sedang mencarinya, apa maksudnya?
“Ayaz?” tanya ulang Tuan Donulai.
“Iya Ayah, dia adalah Ayaz Diren, putra dari Nona Nindi Rowans!” ungkap Sam lagi, senyumnya tidak gampang pudar karena dirinya seolah berhasil menemukan sahabatnya, orang yang juga sedang Donulai cari.
“Kau Ayaz...” lirih Tuan Donulai. Tubuhnya dipegangi oleh para pengawalnya, gurat kekhawatiran tercetak di wajah Sam, anak angkatnya.
“Ayah, kau tidak apa?” tanya Sam cemas.
“Tidak apa?” sahut Tuan Donulai.
“Pengawal, bawa Ayahku ke mobil cepat, kita akan segera pulang.” Titah Sam yang semakin membuat Ayaz bingung, bagaimana bisa semuanya terjadi, apa hubungan Sam dengan keluarga Donulai. Namun Ayaz masih enggan bersikap seolah mengetahui keluarga Donulai, dirinya tidak ingin Sam mengetahui bahwa ia adalah mata-mata di sini.
Pengawal itu mulai memapah tubuh Tuan Donulai menuju mobil yang terparkir. Tuan Donulai tidak henti-hentinya memikirkan kebahagiaan ini, sesuatu yang sudah terjadi, cucunya ditemukan, nama Daslah terus saja tersebut dalam hatinya.
Daslah, aku sudah menemukan cucu kita, pewaris kerajaan bisnis kita.
Ayaz bertanya pada Sam, bagaimana pria itu bisa memanggil pria paruh baya itu sebagai seorang Ayah, sementara Ayaz tahu betul siapa Ayah dan Ibu kandung Sam.
“Aku diangkat olehnya menjadi seorang anak.” Jawab Sam, saat Ayaz menanyainya penuh selidik.
“Bagaimana bisa?” tanya Ayaz heran.
__ADS_1
“Ceritanya panjang sekali Ayaz, nanti di rumah akan aku ceritakan.” ucap Ayaz.
“Aku... Ini sulit dipercaya!” ucap Ayaz.
Dirinya tidak percaya, sebuah kenyataan... Jika begitu apa mungkin seseorang yang menjadi presdir DN Company, Rangga Donulai, apa mungkin... Tidak, mungkin saja Tuan Donulai mempunyai anak yang lain, anak kandung yang menjadi presdir mana mungkin anak angkat diberikan tanggung jawab sebesar itu. Pikir Ayaz mulai menerka-nerka.
“Kenapa?” tanya Sam membuyarkan lamunan Ayaz, “Ayo, kita harus ke rumah keluarga Donulai!” ajak Sam.
“Sebuah kebetulan ini memecahan sebuah masalah besar, kau pasti tidak akan percaya dengan sebuah kenyataan ini!” ucap Sam, pria itu tersenyum pada Ayaz yang seperti sangat kebingungan.
“Apa?” tanya Ayaz.
“Nanti kau akan mengetahuinya saat kita sudah sampai di rumah.” Jawab Sam.
Kedua pria itu menuju mobil, di sana sudah ada Tuan Donulai menunggu kedatangan mereka.
“Kau pindahlah ke mobil mereka Kan, biar aku yang akan menyetir!” titah Sam pada sopir pribadinya.
“Baik Pak!” jawab Kan.
Sam menyuruh Ayaz untuk duduk di samping kemudi, sementara Tuan Donulai duduk di belakang. “Tidak, aku bawa mobil ke sini!” tolak Ayaz tiba-tiba.
“Kau bisa menyuruh Kan membawanya!” ucap Sam tanpa ragu.
“Tidak, biar aku yang mengikuti kalian dari belakang.” Ucap Ayaz.
Aku tidak bisa membiarkan orang lain membawa mobilku.
Ayaz tidak bisa membiarkan orang lain membawa mobilnya, mobil anti peluru dengan beberapa senjata api yang disimpan tersembunyi di dalamnya, Ayaz harus mewaspadai sesuatu sekalipun itu hanya orang berpangkat sopir.
Sam menoleh ke arah Tuan Donulai, pria tua itu mengangguk setuju.
“Baiklah, tapi kau harus ikut dengan kami!” ucap Ayaz menekankan.
Ayaz mengangguk, meski dirinya belum bisa menerka sebenarnya apa yang sudah terjadi.
“Kan, kau kembalilah mengemudi!” titah Sam lagi.
“Baik Pak!” ucap Kan.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...