Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Kekesalan Wana.


__ADS_3

"Jadi... Kau ingin aku mendonorkan darah? Begitu?"


Rymi mengangguk, "Sebenarnya, lebih dari itu, aku tidak bisa kehilangan dia, maaf jika aku egois!" Rymi tertunduk lesu, sudah jauh-jauh dirinya datang kemari, namun mengapa sulit sekali mendapatkan keberuntungan.


Dennis Aksan, pria itu ternyata sama sekali tidak ramah, tidak bersahabat, terlihat jelas meremehkan dirinya, entah apa yang dilihat pria itu, tapi Rymi bisa menebak gelagat itu seperti risih akan kehadirannya.


"Apa kondisinya sangat parah?" tanya Dennis lagi.


"Aku akan berbohong jika mengatakan tidak, mohon untuk pertimbangannya, aku berjanji akan membayar mahal untuk ini, atau... Adakah sesuatu yang kau inginkan sebagai bayarannya, ah tidak maksudku sebagai timbal baliknya!" jawab Rymi.


Sebenarnya, bukan masalah donor darahnya yang membuat keraguan di hati Dennis, tapi Rymi, wanita itu mengatakan dirinya tidak akan dibawa ke rumah sakit untuk melakukan transfusi darah, dia akan dibawa ke sebuah tempat, dan sayangnya Dennis tidak bisa yakin begitu saja tentang itu.


Dan lagi pula, dia bukanlah tipe orang yang mudah percaya dengan orang baru, kehadiran Rymi yang tiba-tiba lalu dengan tanpa basa-basi memintanya untuk melakukan donor darah, dinilainya sedikit buruk sebagai pertemuan pertama, satu hal yang pasti, dia tidak menyukai. Dan Dennis ini, jika baginya tidak suka, maka sulit baginya untuk mengubah cara pandang dan berbalik menyukai.


"Aku butuh persetujuan, apa kau bisa memberikan alamatnya?" tanya Dennis lagi beralasan.


Rymi sedikit meragu, mansion itu adalah rumah mereka, tempat paling aman jika terjadi sesuatu dengan mereka, apa iya dirinya harus memberitahu untuk itu.


"Aku akan menunggu, kau bisa meminta izin terlebih dahulu, lalu kita akan pergi bersama." jawab Rymi.


"Apa kau sedang bercanda? Apa-apaan ini?" cegat Dennis. Pria itu tidak tahan lagi, sungguh dirinya benar-benar khawatir akan ditipu.


"Aku tidak akan menipumu? Tidak ada alasan untuk itu, aku mencarimu dengan seluruh rasa cemas dan tenagaku, jauh-jauh datang ke sini, apa bagimu aku sungguh berniat untuk menipu, atau apa wajahku ini terlihat seperti penipu?" Rymi tak kalah geram, ia sudah berusaha bersikap baik pada orang ini, namun dari tadi orang ini hanya menunjukkan kecemasan saat berhadapan dengannya, gila saja, apa tampangnya begitu meyakinkan untuk seorang penipu?


"Lalu, untuk apa kau begitu nekat pergi bersama, aku bisa pergi dengan istriku jika aku mau!" ucap Dennis beralasan.


Rymi memijit pangkal hidungnya, sedikit frustasi, lalu ia menelpon Marco untuk meminta solusi, bisakah Marco menyiapkan tempat untuk mereka melakukan transfusi darah, dan putuskan segera di mana alamatnya.

__ADS_1


"Tuan! Tentu saja saya harus menghormati anda, bukankah di sini sayalah yang meminta bantuan! Tapi, bisakah anda membedakan mana orang yang benar-benar membutuhkan dengan mana yang benar-benar berniat untuk menipu? Saya sudah bersikap baik sedari tadi, dan itu sulit sekali rasanya untuk menghadapi orang yang sama sekali tidak memperlakukan tamunya dengan baik seperti anda."


"Sekarang banyak orang yang tidak bisa dipercaya, dan mungkin saja kau salah satunya!" ucap Dennis, pria itu bangkit, lalu dengan pasti hendak meninggalkan Rymi.


Mereka bertemu di sebuah cafe, Dennis merasa beruntung ia tidak menemui wanita itu di rumahnya.


"Benarkah?" sentak Rymi. Dan itu berhasil membuat Dennis menghentikan langkahnya.


"Apa Tuan benar-benar melihatku sebagai seorang penipu?" tanya Rymi lagi.


Dennis tidak menjawab, terbesit rasa tidak senang saat Rymi menanyakan itu, apa dirinya sudah keterlaluan?


"Baiklah!" Rymi memiringkan sudut bibirnya, "Aku memang handal dalam hal itu, alih-alih aku menyangkal semua tuduhanmu, mungkin aku juga harus mengakuinya! Yah sesekali, ku rasa juga tidak buruk." ucapnya lagi dan kemudian, "Brakkk!"


Dennis terjatuh karena hentaman tangan Rymi di kepala bagian belakangnya, kepalanya berdenyut dan penglihatannya langsung saja berubah buram, dalam sisa kesadarannya Dennis mendengar Rymi berteriak seolah mencemaskannya.


"Tolong saya! Tolong saya, orang ini terjatuh!" teriak Rymi, banyak orang berlarian menghampirinya,


"Mengapa bisa begitu?"


"Apa orang ini terkena serangan jantung?"


"Saya tidak tau Pak, dia adalah rekan bisnis saya, mari bawa dia ke mobil saya, saya akan membawanya ke rumah sakit, cepat... Tolong, saya takut terjadi sesuatu! Duh tidak pernah seperti ini selama melakukan pertemuan bisnis!" ucap Rymi cepat, dia memerintahkan beberapa orang untuk membawa tubuh Dennis ke mobilnya.


"Baiklah baiklah!"


"Jangan cemas, apa anda bisa mengemudi dengan baik? Tenangkan diri anda dulu, apa sebaiknya biar orang lain saja yang membawa Bapak ini ke rumah sakit?"

__ADS_1


"Ahh tidak tidak, saya yang akan membawanya, saya harus bertanggung jawab untuk ketidaknyamanan ini."


"Saya akan mencoba fokus untuk mengemudi dengan benar!"


Akhirnya dengan sedikit kekerasan, Rymi bisa menyelesaikan pekerjaannya. Yang ia sesalkan, jika tau akan berkahir seperti ini, mengapa dirinya tidak melakukan hal gila ini sedari tadi saja, menyusahkan! Batinnya.


...***...


Argantara memeriksa ponsel Raisa, berharap menemukan petunjuk yang ditujukan pada malam itu, malam yang dikatakan oleh Raisa adalah penyebab dirinya berakhir menjadi seperti itu, hamil namun bahkan wanita itu tidak tau siapa yang menghamilinya, apa Raisa bercanda?


"Pa, apa mungkin ini terjadi disebabkan oleh musuh-musuh Papa?" tanya Wana.


"Papa tidak tau Ma, yang jelas, ini begitu membingungkan, bagaimana Raisa bisa tidak sadar saat ada orang yang men*gagahinya?" sahut Argantara.


"Aku takut Pa, takutnya seseorang memanfaatkan Raisa, bagaimana kalau... Bagaimana kalau seseorang merekam malam itu, dan Raisa..."


"Ma!" pekik Argantara, ia menatap tajam Wana istrinya. "Sesuatu bisa saja terjadi tapi bisakah kau tidak mengatakan itu, aku sedang memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi pada anak itu, dan kau tidak berhenti mengoceh mengatakan hal yang belum terjadi, Apa kau berharap seperti itu?" teriak Argantara keras.


Wana terdiam, sungguh dirinya hanya merasa begitu takut, takut ada orang yang berniat menghancurkan keluarganya ini, terutama Raisa, dan Argantara jika karier dan nama baik suaminya itu hancur maka hancur jualah segala kemewahan yang mengelilingi hidupnya ini, bagaimana bisa ia merelakan itu begitu saja.


"Jika tidak, maka diamlah! Kau menambah pusing kepalaku saja!" berang Argantara.


Wana memilih duduk, dengan kesal dia menggerutu dalam hatinya, tak lupa menyalahkan Raisa yang diakuinya juga begitu bodoh dalam bertindak, bukannya mendapatkan hati Jovan dan membuat hubungan baru dengan keluarga kaya itu, malah kesialan apa yang harus dirinya tanggung karena telah memiliki anak yang bodoh seperti itu.


"Dia benar-benar sama dengan ayahnya, benar-benar bodoh dan tidak berguna!" geram Wana bergumam.


"Harusnya aku tinggalkan saja dia hidup miskin dengan pria itu, membesarkannya adalah kesalahan terbesar sepertinya." lanjutnya lagi.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2