Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Apa kau mengerti?


__ADS_3

“Baik, siapa berikutnya?" ucap Rymi bertanya.


Ia menunjuk satu orang lagi dan tangannya dengan kasar membawa salah satu pria itu, ia menendang orang suruhan siang yang baru saja dihabisinya itu dengan tanpa belas kasih, "Kau! Apa kau siap untuk berkhianat?" tanya Rymi.


Pria itu menggeleng namun ia tampak ragu, "Ada apa? Apa aku menakutimu?" tanya Rymi, dasar! Pertanyaan macam apa itu? Jelas saja membuat takut, siapa coba yang tidak takut kalau sebuah pistol sudah mengarah tepat di kepala, dasar wanita psikopat pikir pria itu.


"Bukankah nama istrimu yang baru saja melahirkan adalah Davina?" tanya Rymi, mata pria itu membulat, bagaimana wanita gila ini bisa mengetahui keluarganya, pikir pria itu. Jika ia yang mati sungguh ia tidak tidak akan merasa bersalah meski ia juga saat ini takut akan kematian namun jika istrinya, jika sampai terjadi sesuatu dengan istrinya maka di seumur hidupnya ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri, meskipun ia juga sudah menempuh kematiannya.


"Mengapa? Kau terlihat begitu mencintainya! Aku tidak suka sebenarnya drama romantis seperti ini, tapi mau bagaimana lagi mungkin jodoh kalian memang hanya sampai di sini, aku tanya sekali lagi apa kau siap untuk berkhianat?"


"Tidak, jangan!" ucap beberapa orang yang tertumpuk di sana, mereka yang tidak tahu akan kesusahannya masih saja meyakinkan hati pria bernama Ilham itu supaya teguh pada pendiriannya, tetap setia pada seorang Sian Huculak.


"Saat inilah mungkin kesetiaanmu diuji! Aku ingin tahu seberapa persen kadar kesetiaanmu, Tuan Ilham?" ucap Rymi.


Pria bernama Ilham itu menggeleng tidak percaya, wanita gila ini benar-benar psikopat, jika ia tidak berkhianat maka ia akan mati atau bisa saja istrinya dan anak yang baru dilahirkan juga akan mati namun jika ia berkhianat maka begitu banyak orang yang mempunyai harapan untuk hidup dan ia juga bisa menyelamatkan serta menjaga istri dan anaknya.


"Apa kau bisa berjanji tidak akan mengganggu keluargaku? Apa kau bisa berjanji untuk menyelamatkan kami semua?" tanya Ilham tegas.


"Apa kau berubah pikiran Tuan? Apa kau yakin?"


"Aku tidak suka orang yang bertele-tele, jadi jika tidak katakan tidak dan jika iya katakan iya, aku tidak suka kau berubah pikiran setelah aku bebaskan nanti, karena apa? Kau lihatlah kuku-kuku ini?" Rymi memperlihatkan kukunya yang panjang "Aku suka merobek mulut orang yang menghianatiku dengan tanganku sendiri!" ucap Rymi menakutkan.


"Aku bertanya dan kau hanya perlu menjawab, jika kau bisa menepati janjimu maka aku juga akan menepati janjiku!" tawar Ilham,


"Tapi, mengapa aku kurang yakin?" ucap Rymi.


"Aku baru kali ini menghianati seseorang yang aku percayai, meski aku yakin jika aku berkhianat maka tidak akan ada kedamaian dalam hidupku namun aku melakukan ini untuk semua orang, untuk keluargaku, untuk rekan-rekanku, kau bisa memegang janjiku, tapi ingatlah... Jangan pernah kau mengingkarinya!"

__ADS_1


"Hahaha!" Rymi tertawa keras, "Kau bilang mengingkarinya? Memangnya kau bisa melakukan apa?" Rymi meremehkan lawan bicaranya itu.


"Aku mungkin tidak bisa melakukan apapun, bahkan dengan keadaan seperti ini orang-orang pun tahu hanya ada dua pilihan, jika aku tidak dibunuh olehmu maka jika kau tidak membebaskan kami mungkin aku juga akan mati kelaparan, namun perlu kau ketahui, di sisa-sisa hidupku aku hanya akan mengutukmu dengan seluruh rasa benci dan tidak akan membiarkanmu hidup tenang mencapai kedamaian! Kau akan menderita di seumur hidupmu!" ucap Ilham, kata-kata itu begitu pedas terdengar.


"Plaakkk!" Rymi menampar pria itu dengan kasar,


"Sungguh lancang Tuan, apa kau sudah punya cukup nyawa untuk menghadapiku?" tanya Rymi sifatnya yang angkuh itu adalah benar didikan Marco, Marco sudah berhasil membuatnya menjadi wanita yang tak terkalahkan namun juga begitu percaya diri.


Rymi marah saat mendengar Ilham akan mengutuknya, berani sekali menurutnya pria itu.


"Dengar! Aku tidak akan membebaskan rekan-rekanmu, di sini aku hanya akan membebaskan dirimu, sebelum kau kubutuhkan maka aku bisa menjamin hidup teman-temanmu di sini, apa kau setuju?" tanya Rymi.


"Brengsek!" ucap Ilham memaki, "Kau bilang akan membebaskan kami semua, mengapa kau tidak sesuai janji?" geram Ilham.


"Siapa yang mengatakan itu? Apa aku apa pernah bilang seperti itu? Aku hanya mengatakan kau bisa menyelamatkan rekan-rekanmu bukan berarti aku harus melepaskan mereka semua kan!" ucap Rymi, dengan santainya.


"Jadi Tuan Ilham, suaminya nyonya Davina yang saat ini istrinya baru saja melahirkan, apakah setuju akan penawaranku?" tanya Rymi.


Ilham tampak berpikir, ia berpikir sangat keras untuk memutuskan suatu hal yang mungkin saja bisa mengubah hidupnya, menuju kematian atau bisa juga menuju kebebasan.


"Ilham, Jangan lakukan!"


"Ilham, lepaskan aku, lepaskan kami!"


"Lepaskan kami semua!"


"Ilham... Aku mohon jangan lakukan itu, kita sudah berjanji sampai akhir untuk tidak mengkhianati Tuan Sian!"

__ADS_1


"Ilham, wanita itu begitu licik, dia hanya akan menipumu, ini hanya penipuan, tipu dayanya!"


"Ilham sadarlah, dengarkan aku... Kita lebih baik mati dari pada harus berkhianat!"


Kalau saja hanya dirinya dan rekan-rekan seperjuangannya ini mungkin Ilham masih bisa untuk tidak berkhianat, namun jika menyangkut istri dan anaknya, jika menyangkut tentang keluarga, Ilham tidak bisa untuk berdiam diri saja dan menyerahkan diri seperti ini. Apalagi bayi itu, bayi yang baru saja dilahirkan istrinya, sudah dua minggu lebih Ilham tidak melihat putrinya itu semenjak kepergiannya, disekap selama berhari-hari di kapal ini, sungguh ia juga tidak mempunyai pilihan lain.


"Aku akan menurut, apapun yang kau inginkan akan aku turuti, katakan! Tapi katakan terlebih dahulu apa yang kau mau?"


Rymi mendekat, "Simpel saja ucap Rymi, ia memegang pundak Ilham dan semakin mendekat, matanya menatap intens mata pria itu, lalu tangan dengan kuku-kuku yang panjang miliknya tadi, mencengkram erat rahang Ilham.


"Kau hanya perlu membalikkan keadaan, buatlah seolah-olah bahwa Amla lah yang membunuh Tuhan kalian, bukankah itu kedengarannya sangat mudah!" jelas Rymi.


Ilham terkejut, jujur dirinya akui ia dan rekan-rekannya tidak begitu menyukai istri dari Tuannya itu, karena Amla yang selalu memperlakukan mereka secara tidak adil, orang yang memiliki paras yang tampan saja yang bisa berada dan memiliki kepercayaan berada di sisi Nyonya Tuannya itu, dan orang seperti dirinya yang memiliki wajah pas-pasan mana mungkin bisa mengambil hati istri majikannya itu, namun di samping itu Tuan mereka Tuan Sian sangat menyayangi mereka.


"Bagaimana bisa?" tanya Ilham.


"Dengan membungkam mulutmu!" Rymi menoleh lagi pada rekan-rekan Ilham yang bertumpuk tidak jauh darinya, "Dan juga mulut mereka!"


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ilham cepat.


Semua rekannya terdiam, saat ini mereka hanya bisa menyimak.


"Kau hanya perlu menaruh sesuatu nanti di kamar Amla!" Rymi nyengir kuda, "Sesuatu itu adalah sebuah bukti yang akan bisa memberatkan seseorang dan bukti itu bisa dengan pasti mampu menjerat Amla sebagai tersangka utama pembunuhan Tuan kalian, apa kau mengerti?" tanya Rymi, matanya menatap nyalang Ilham.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2