
"Belanjaan kita bagaimana?" tanya Yaren saat belanjaan mereka tadi sudah dibawa oleh taksi online yang dirinya pesan.
"Itu urusanku!" singkat Ayaz.
Yaren memberengut kesal, Ayaz selalu penuh misteri.
Pasalnya mana mungkin taksi online itu mengantar pesanan mereka sampai di rumah hutan, bukankah itu bagi Ayaz adalah tempat rahasia. Itu saja sih yang ada di pikiran Yaren.
Ayaz melajukan motornya, dirinya dan Yaren akan membeli bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Entah apa yang Ayaz pikirkan, namun untuk saat ini biarkan Yaren menemaninya, malam ini ia akan mencoba tidur dengan Yaren lagi.
Sesampainya di supermarket, Yaren membeli apa saja yang mereka butuhkan, beragam makanan kaleng sepertinya banyak sekali Yaren ambil untuk persediaan.
Bukan apa, tidak ada kulkas di rumah kayu itu, lalu bagaimana dirinya mau membeli daging atau semacamnya?
"Kau suka ini?" tanya Ayaz, dirinya mengambil satu pcs daging beku.
"Tapi bagaimana? Di rumahmu tidak ada kulkas!" tanya balik Yaren.
"Untuk dimasak hari ini saja." ucap Ayaz lagi.
"Em, boleh juga, tapi aku tidak bisa memasak!" jujur Yaren, wanita itu seketika bersikap manja pada Ayaz.
Ayaz tidak menanggapi, meski jantungnya berdetak tidak karuan kala Yaren menampilkan wajah manja dengan puppy eyes.
Pria itu memasukkan dua pcs daging beku kedalam keranjang belanjaan mereka, malam ini rencananya ia akan memasak untuknya dan Yaren.
Di sebuah rumah,
"Mah, nggak ada Yaren ternyata sepi juga yah, mulut Mama kek berhenti bekerja, biasanya kan ada aja yang dikeluarin buat ngoceh ngomelin tuh perawan tua." ucap Raisa, saat ini ia dan Ibunya sedang menikmati masa-masa minggat nya Yaren dari rumah mereka.
Sidah hampir dua kali dua puluh empat jam, namun Yaren tidak juga kembali ke rumah membuat Raisa dan Ibunya berteriak kegirangan. Rencana mereka untuk menyingkirkan Yaren dari rumah utama sudah terlaksana, yah meski tidak sesuai rencana tapi tidak apa, yang penting Yaren sudah benar-benar pergi.
"Iya sayang, tapi nggak papa, dari pada dia ada di rumah, Mama nggak bisa lagi liat dia di rumah, udah cukup mata Mama lelah, mukanya itu lho ngebelin banget bikin sakit mata."
__ADS_1
"Eh Ma, kira-kira si Yaren beneran hamil nggak sih?" tanya Raisa penasaran, sejak dari kemarin ia memikirkan itu, tiba-tiba ada yang mengaku bahwa Yaren sedang mengandung, bagaimana bisa?
"Ya mana Mama tau, bagus deh kalau dia hamil, dikira minggat dari rumah dalam posisi hamil itu enak, kamu liat kan pemuda yang ngaku-ngaku punya hubungan sama dia itu, kemarin aja cuma pake motor jelek, nggak kayak si Jovan pacar kamu itu, mana tampangnya sangar lagi, ihhh kok bisa Yaren dapet pacar kayak gitu, di mana lagi nemunya?" ucap Ibu tiri Yaren sewot.
Raisa mengangguk setuju karena dirinya merasa hidupnya lebih beruntung dari Yaren.
Meski pemuda yang bersama Yaren kemarin, wajahnya sangat tampan melebihi Jovan pacarnya, namun tidak apa, Jovan punya segalanya. Sementara Yaren, bahkan pemuda itu membawa pergi Yaren kemarin hanya dengan motor modifikasi yang tidak diketahui merknya.
Yaren dan Ayaz sedang dalam perjalanan pulang, setidaknya dua kantung plastik besar berisi makanan harus mereka bawa dengan motor, Yaren tidak mengapa, wanita itu sudah berjanji tidak akan mengeluh.
Sesampainya di rumah, Ayaz membuka pintu. Tanpa memperdulikan Yaren ia masuk ke kamar dan lalu merebahkan diri di ranjang single miliknya.
Yaren bingung harus berbuat apa, ia memutuskan untuk menyusun belanjaan mereka.
Perut Yaren yang memang bekum terisi itu dengan tanpa permisi harus berbunyi, Yaren tidak tau ini pukul berapa, namun yang jelas sang Surya sedang terik-teriknya menyinari bumi.
"Duh, laper lagi, apa yang harus di makan?" gumam Yaren.
Ayaz merasakan jantungnya berdetak lebih cepat kala Yaren dengan tanpa permisi memeluknya tadi di motor, untuk itu dirinya langsung menuju kamar supaya bisa menetralkan rasa gugupnya. Ia tidak mau melihat wajah Yaren, sebisa mungkin menghindar.
Prang...,
Ayaz terkesiap dan langsung menuju sumber suara, yang ada dipikirannya hanya Yaren, mata yang masih mengantuk itu tiba-tiba langsung terang karena dipaksa melek oleh tuannya.
"Ada apa?" tanya Ayaz panik.
Rupanya sebuah piring kaca terjatuh dan sudah berserakan di lantai, entah apa yang dilakukan Yaren pada piring itu.
"Ayaz, aku lapar?" ucap Yaren sembari nyengir kuda.
Ada rasa tidak nyaman Yaren mengatakan itu, namun mau bagaimana lagi, dirinya benar-benar lapar.
"Haahh." Ayaz menarik nafasnya pelan lalu hembuskan. Memejamkan matanya untuk tidak mengumpat.
__ADS_1
"Ya sudah, duduklah, akan aku buatkan sesuatu untukmu." titah Ayaz.
Yaren mengangguk, dirinya hendak membersihkan pecahan piring kaca, namun langsung dicegah oleh Ayaz.
"Biar aku saja!" cegah Ayaz.
"Ehm, biar aku saja Ayaz, kalau yang ini aku bisa." ucap Yaren.
"Ya sudah!"
Ayaz mengambil satu kotak spaghetti yang tadi baru saja mereka beli, membuat makanan untuk Yaren yang katanya sudah kelaparan, jadi dirinya membuat apa kiranya yang bisa dimasak cepat.
Yaren sudah selesai membersihkan pecahan kaca, membuangnya di tong sampah lalu duduk manis menunggui Ayaz memasak.
Dari cara Ayaz melakukannya, Yaren bisa melihat bahwa Ayaz sudah biasa melakukannya, apa Ayaz hidup sendiri selama ini? Apa Ayaz punya keluarga? Ingin sekali Yaren menanyakan itu, namun Yaren merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat.
Meski Ayaz sudah bisa bersikap perduli padanya tidak seperti diawal-awal pertemuan mereka, namun tetap saja Yaren masih ragu takut Ayaz berubah pikiran dan mengusirnya.
Dua piring spaghetti sudah siap tersaji di meja makan, Ayaz menambahkan sedikit bubuk cabe untuk piring miliknya supaya lebih pedas.
"Kau suka pedas?" tanya Yaren membuka perbincangan.
Ayaz mengangguk, pria irit bicara sepertinya tentulah hanya akan menanggapi ala kadarnya. Yaren maklum saja.
"Aku juga suka, tapi semenjak lambungku bermasalah, aku tidak diperbolehkan lagi" papar Yaren.
Ayaz bersikap tidak perduli, padahal dalam otaknya menyimak dan akan selalu ia ingat bahwa Yaren tidak diperbolehkan makan makanan pedas.
"Kalau kamu suka apa?" tanya Yaren.
Ayaz masih terus makan dengan lahap, berlama-lama dengan Yaren tidak bagus untuk kesehatan jantungnya, namun anehnya mengapa mau mencoba tidur bertemankan Yaren. Dasar Ayaz aneh.
"Kau suka diam yah!" ucap Yaren menyimpulkan, bicara dengan Ayaz seperti bicara dengan patung, melelahkan dan hanya akan seperti orang gila.
__ADS_1
Ayaz mengambil minum, dirinya sudah selesai karena spaghetti di piringnya juga sudah habis. Yaren melongo tidak percaya, kapan Ayaz menghabiskannya? Mengapa cepat sekali?
Bersambung...