
"Papa!" pekik Raisa, ia tidak percaya, semenjak kehamilannya, Papanya itu bahkan bagai tidak punya belas kasih.
"Sudah cukup Raisa, akui... Atau, kau pergi dari rumah ini." geram Argantara.
"Pa...!" Wana melayangkan protes pada suaminya. "Gila kali, Raisa lagi hamil Pa, hamil... Lagian, apa sebegitu salahnya, apa sangat tidak termaafkan kesalahan Raisa, Papa mikir nggak sih." ucap Wana nampak kecewa.
"Sebegitu salahnya? Katamu, apa sebegitu salahnya?" ulang Argantara, pria paruh baya itu menatap garang istrinya.
"Pa, hal ini bisa kita bicarakan baik-baik okey, pasti ada jalan keluarnya." mohon Wana.
Argantara, pria itu mundur beberapa langkah, kejadian seperti ini pernah juga dirinya alami saat Yaren, putri sulungnya mengaku hamil dengan seorang pria asing. Lantas, apa yang waktu itu dirinya lakukan pada Yaren?
Sungguh miris, Argantara menjambak rambutnya frustasi. Dokter Amri bahkan tidak percaya bahwa Yaren benar-benar hamil, lalu apa dirinya? Waktu itu dengan pasti mengusir Yaren saat anaknya itu mengatakan akan menjelaskannya baik-baik, memohon untuk diberikan kesempatan, namun ia seolah tuli waktu itu.
"Apa yang sudah aku lakukan?" gumamnya bertanya.
"Pa, kita harus segera ke rumah Jovan Pa, minta pertanggungjawaban!" kekeh Wana yang masih begitu sangat yakin akan kata-katanya.
Argantara menatap sengit istrinya, Jovan? Pria itu lagi, tidak taukah Wana bahwa Argantara bahkan begitu malu untuk berhadapan dengan pria itu, apa lagi untuk meminta pertanggungjawaban, apa ia sudah gila?
"Bagaimana kalau, janin itu bukan darah daging Jovan?" tanya Argantara.
Raisa sudah terisak, ia memilih bungkam perihal kehamilannya.
"Maksud Papa?" tanya Wana.
"Iya, bagaimana kalau anak itu bukan anak Jovan? Bagaimana aku harus bicara padanya? Bagaimana aku harus meminta pertanggungjawabannya, atas dasar apa?"
"Pa, bahkan Raisa pernah sangat dekat dengan Jovan, nggak ada yang nggak mungkin, mereka sama-sama orang dewasa, bisa saja suatu hal terjadi." kekeh Wana lagi.
"Suatu hal? Apa kamu mengharapkannya?" sindir Argantara.
"Pa!" Wana memijit pangkal hidungnya pelan, "Seharusnya bukan saatnya lagi untuk membicarakan itu, Raisa hamil dan ayok kita sama-sama selesaikan masalah ini, kita hanya harus pergi ke kediaman Jovan dan minta pertanggungjawaban, udah selesai." jelas Wana. Dirinya sungguh bingung, mengapa suaminya ini tidak bisa bertindak cepat.
"Aku nggak mau, nggak bisa, dan nggak bakalan pergi." ucap Argantara.
__ADS_1
"Kau tau kenapa?" tanya Argantara lagi. Menatap istri dan putri bungsunya bergantian.
Wana sedikit tersentak melihat tatapan tidak suka suaminya.
"Karena anak itu memang bukan anak Jovan, jadi bagaimana aku bisa meminta pria itu bertanggungjawab, sementara tidak ada yang bisa membuktikan bahwa anak itu adalah anaknya, coba Mama tanya Raisa, tanya! Bahkan, anak itu saja tidak bisa mengakui kalau anak yang dikandung adalah anak Jovan, jadi stop! Aku tidak akan bisa lagi mencoreng mukaku untuk kedua kalinya di hadapan Jovan." tegas Argantara.
Wana melotot tidak percaya, apa yang baru saja dirinya dengar bukanlah sesuai kehendaknya.
"Papa..."
"Kenapa Ma? Mama tidak percaya?" tanya Argantara.
"Tanya saja, tanyai dia!" suruh Argantara lagi, ia menjadi semakin geram melihat Raisa yang hanya bisa menangis tanpa mau memberikan titik terang atas segala kekacauan di rumahnya.
"Raisa..." seru Wana. "Yang Papamu bilang itu, bohong kan sayang?"
"Anak itu, pasti anak Jovan kan!"
"Kalau bukan anak Jovan, lalu anak siapa? Anak baik Mama, nggak mungkin kan kamu nakal di luar sana?"
Mamanya yang seakan begitu berharap akan ia mengandung anak pria sempurna itu, dan lalu Papanya yang begitu tidak punya kesabaran akan segala yang terjadi padanya. Sungguh demi apapun Raisa juga tidak menginginkan ia yang seperti ini. Kehamilan ini, bukanlah suatu yang bisa diterimanya, bahkan Raisa merasa hidupnya sudah hancur semenjak ia mengetahui kalau dirinya tengah berbadan dua.
...***...
"Apa hubungan pria itu dengan Mama, kenapa foto Mama bisa ada sama dia?" gumam Yaren sulit untuk percaya.
Dilihatnya lagi foto itu, seketika rasa rindu menyeruak di dadanya.
Drettt drettt drettt,
Sebuah pesan masuk ke ponsel yang sempat dirinya tolak tadi.
📩 Apa kau sudah membuka hadiahnya? Ponsel ini sudah aktif, semoga kau suka!
Yaren membaca pesan itu berulang, ia sungguh tidak percaya, apakah si pengirim sedang mencoba sok akrab padanya?
__ADS_1
Yaren memilih untuk mendiamkan saja, namun selang beberapa menit, nomor tanpa nama itu kembali mengiriminya pesan.
📩 Wanita di foto itu sangat berharga bagiku, begitupun juga denganmu... Selalu jaga kesehatanmu, maafkan aku yang hanya bisa menjagamu dari jauh.
Yaren mendengus kesal, bukankah akan lebih mudah jika si pengirim itu mengatakan saja siapa namanya, asalnya dari mana, apa hubungannya dengan Yaren, mengapa mengatakan kalau Yaren adalah keluarganya, mungkin lebih simpel begitu, dari pada menjadi sok misterius begini, heran!
📩 Satu lagi, jika ada Ayaz, lebih baik kau sembunyikan saja ponsel ini, tapi sebenarnya jika dirinya tau juga bukan apa-apa, tidak baik suami istri menyembunyikan apapun, jadi kau bisa jelaskan saja seperti kejadian sebenarnya, aku akan berdoa dari sini semoga saja bajingan tidak waras itu bisa mengerti.
"Ini apa sih? Nggak jelas banget!" gerutu Yaren.
"Pengirim ini sepertinya cukup kenal dengan Ayaz, sehingga bisa sampai menjuluki Ayaz seorang bajingan tidak waras." Yaren tersenyum samar melihat pesan terakhir yang dikirimkan.
Yaren mengemasi kotak hadiah itu, ia lalu menyembunyikan semua temuannya, hanya tersisa ponsel saja yang dirinya pegang karena baginya untuk urusan ponsel biarlah dirinya akan memilih untuk jujur pada suaminya itu. Yaren melakukan itu supaya dirinya juga bisa menghubungi Ayaz nantinya, saat begini meski baru setengah hari berjauhan dari Ayaz, jujur saja setiap pelukan Ayaz sepertinya sudah mulai berhasil membuatnya merindu.
...***...
"Ayaz..." seru Rymi, wanita itu memegang tangan Ayaz seperti hendak mengatakan sesuatu, namun teramat sulit untuk terucap oleh lidahnya.
"Hemmm..." sahut Ayaz singkat.
"Ini pasti hanya kebetulan." ucap Rymi pada akhirnya.
"Kebetulan yang tidak terduga." sahut Ayaz lagi, pria itu terseyum miring.
Darah dengan golongan RH- AB, bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan golongan darah jenis langka tersebut. Namun, nyawa Marco bisa tertolong kala dirinya yang secara kebetulan memiliki darah yang sama dengan pria paruh baya itu.
Benarkah? Benarkah hanya sebuah kebetulan belaka.
"Atau, kebetulan ada sesuatu dibalik semuanya." ucap Ayaz lagi dengan mata terpejam.
Jangan sampai sesuatu yang tidak dirinya harapkan ternyata adalah kebenaran. Jangan sampai dirinya membenci apa yang nyatanya tidak bisa dirinya benci.
Seharusnya, ia membenci orang yang paling jahat dalam hidupnya, Ayaz berharap jangan ada sisi baik dari orang itu hingga ia tidak akan pernah meragu untuk membalaskan dendamnya.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...