
Kau... Ada kebencian di matamu!
Yang lemah akan kalah dengan yang berkuasa, tapi yang berkuasa akan kalah dengan yang tak terkalahkan!
Dalam hidup, kecuali cinta, jangan pernah menyerah, kau punya tangan dan kaki untuk bertindak, serta mulut untuk bersuara, selama kau masih punya itu, tidak akan ada yang bisa mencegahmu.
Kau tau, bagaimana aku bisa bertahan? Tangan ini, tangan yang sekuat baja, dan juga tekad! yang berkuasa, jika dia kehilangan kuasanya mungkin dia akan menyerah, tapi dia yang memiliki tekad yang kuat, meski dihempas berkali-kali pun, dia tidak akan terkalahkan.
Aku menyaksikan banyak orang gila dalam kekuasaan, dan lalu mereka saling menghancurkan, kau hanya perlu mengacaukan apa yang mereka rencanakan, selebihnya mereka akan menghancurkan diri mereka sendiri, atau bisa saling menghancurkan, kiranya juga tidak buruk bagimu.
Jadilah pemenangnya, buang rasa kasihan, tidak perlu mendendam untuk membalas perbuatannya, bagai hutang budi yang harus dibalaskan dengan budi, maka penderitaan, juga harus dibayar dengan penderitaan, anggap saja, hidup adalah suatu permainan, dan kau... Harus menjadi pemenangnya!
Perkataan Marco tiga tahun lalu saat menemukannya terngiang kembali di telinga Ayaz, Marco, pria setengah baya itu tampak kuat, tidak ada yang berani padanya, bahkan entah sudah berapa orang dengan kekuasaan yang berhasil dihancurkan oleh tangannya sendiri. Benar, Marco memang tidak terkalahkan.
Lalu Ayaz, merasa setidaknya ia pernah menjadi tangan itu, tangan yang dikatakan oleh Marco sekuat baja.
Jangan pernah ada keraguan, pemikiran yang ganda hanya akan menyesatkanmu. Tentukan pilihanmu, jika pun pada akhirnya itu salah, maka kau hanya perlu membenarkannya, tidak untuk disesali.
"Brakk!"
Ayaz menoleh ke sumber suara, matanya membulat saat tau apa yang disaksikannya.
"Sam..."
...***...
"Ini..."
Sam masih mengamati apa yang diperintahkan Ayaz, sampai kepalanya berdenyut namun ia masih terus menatap foto itu, mencoba mencari petunjuk, ia merasa sial dan telah dirugikan karena mengetahui orang yang memberikan foto ini gila saja harus memakai namanya.
Apa dirinya akan menjadi kambing hitam di suatu hari nanti, Sam tidak bisa membiarkan itu.
__ADS_1
Sam memikirkan sesuatu, seperti mendapatkan suatu yang ganjal di foto tersebut, dan seperdetik kemudian dia menyadari suatu hal.
Sayangku, sebenarnya ini terlalu kebesaran untuk suami kurusmu ini, tapi berhubung ini darimu, pemberianmu, maka aku akan dengan senang hati memakainya. Lagi pula, ini sangat bagus, apa iya ada pakaian sebagus ini di pasar loak?
Maafkan aku, hanya itu yang bisa aku hadiahkan, kau sudah bekerja keras, tapi aku hanya bisa membelikanmu pakaian bekas di pasar loak, haaahh, meski begitu aku bahagia sekali, selamat ulang tahun!
Tidak apa, aku mungkin akan menggendut di berapa bulan kemudian, setiap hari memakan masakanmu selalu membuat na*su makanku bertambah, kau memang pengertian, aku tau kau sudah mempersiapkannya.
"Ayah!" pekik Sam, tidak, tidak mungkin, Sam mencoba mengamati lagi foto itu, bagaimana bisa orang difoto itu terlihat memakai jaket yang sama dengan kepunyaan Ayahnya, dan Sam baru menyadari, nyatanya orang itu juga terlihat memiliki tubuh seperti Ayahnya, masih kurus sama seperti saat terakhir dia menemuinya.
Hadiah ulang tahun itu, waktu itu Sam yang masih kecil tidak sengaja mendengar percakapan antara Ayah dan Ibunya, Ibunya memberikan hadiah ulang tahun, hadiah yang sangat sederhana, hanya jaket usang yang Ibunya beli di pasar loak, karena tidak punya cukup uang mungkin siapapun akan melakukan itu meski rasanya juga tidak ingin.
"Ayah..." gumamnya lagi, Sam memejamkan mata, mengamati lagi foto itu, mengapa tiba-tiba dirinya tidak bisa menghilangkan wajah kedua orang tuanya dalam pikirannya.
"Apa telah terjadi sesuatu?" tanyanya bergumam lagi, Sam tidak bisa membayangkan jika Sian sampai menyakiti kedua orang tuanya.
Sam mengambil jas yang tergantung di kursi, ia akan memberitahukan hal itu pada Ayaz, Sam tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi.
Sam tidak sabar, dirinya terus menggerutu, mengapa dalam keadaan seperti ini rasanya waktu berlalu begitu lambat, Sam tidak tahan.
"Ting!"
Pintu lift terbuka, gegas Sam keluar dan mengedarkan pandangannya, Ayaz mungkin sudah pergi. Sam dengan cepat melangkah menuju resepsionis, menanyakan apakah pria yang mengaku bernama Ayaz tadi baru saja keluar, dan resepsionis itu mengangguk membenarkan.
"Sial, dia sudah pergi!" umpat Sam.
"Tapi, Tuan itu tidak memakai kendaraan apapun Pak, mungkin bisa saja sedang menunggu taksi lewat di luar sana." ucap resepsionis, melihat kepanikan di wajah Presdir perusahaanya membuatnya merasa harus mengatakan itu, mungkin saja orang yang baru saja melewati meja resepsionisnya tadi memang sangat penting bagi Bosnya ini.
Mata Sam berbinar, tanpa ragu lagi ia berlari cepat menuju luar, berharap Ayaz memang sedang menunggu taksi dan ia masih bisa bertemu.
Sam mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tidak ada tanda-tanda kehadiran Ayaz, lalu ia memilih menyusuri jalanan, yah apa salahnya mencoba.
__ADS_1
Mungkin sudah sekitar dua ratus meter Sam berjalan, matanya menangkap punggung yang mungkin tengah dirinya cari, pria itu sedang berdiri di tepian jalan, gerak geriknya seperti tengah memikirkan sesuatu, Sam melangkah maju mencoba menemuinya.
Saat dilihatnya Ayaz hendak melangkah, mulutnya spontan saja berteriak, "Aaa..."
"Brakk!" tiba-tiba saja dirinya terjatuh, benda keras menghantam tepat di kepalanya, Sam, dengan sisa-sisa kesadarannya, ia melihat Ayaz menoleh ke arahnya, menampilkan mimik panik, dan Sam juga mendengar sahabatnya itu meneriakkan namanya.
Lalu, kemudian, semuanya menggelap, Sam tidak tau lagi, apa yang terjadi padanya setelah itu.
...***...
"Apa kau tadi melihatnya?" tanya seseorang.
"Ya, apa kau tidak melihatnya, mengapa bisa dia masih berada di situ? Aisshhh, bagaimana jika dia mengetahui sesuatu?"
"Haruskah kita membunuhnya?"
"Kita tunggu saja."
Kedua orang itu menyeret tubuh Sam ke sebuah Villa kosong yang terlihat kuno, membekap mulut dan mengikat tangan serta kaki Sam.
Darah terus saja mengucur dari kepala Sam, namun keduanya tidak peduli.
"Apa kau yakin dia tidak mengikuti kita?" tanya seseorang itu, perawakannya seperti preman, perutnya sedikit membuncit, namun wajahnya masih kental dengan aura sangar.
"Aku akan pastikan sebentar!" sahut seseorang yang satunya lagi, badannya tegap berisi, rambutnya panjang dan diikat ke belakang, pria itu melangkah keluar Villa kosong, matanya dengan tajam memperhatikan sekeliling.
"Dia benar-benar menjadi saksi, tapi aneh saja kalau dia tidak mengikuti!"
Pria berambut panjang itu tidak menemukan apapun diluar, suasana masih saja sepi dan tenang, dalam hatinya seperti tidak percaya kalau perjalanannya ke sini akan aman-aman saja.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...