Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Dasar Bajingan!


__ADS_3

Yaren, wanita itu, dengan menyebut namanya saja bagai ada desiran aneh yang aku rasakan.


Menurutku, dia cantik, tapi bukan tipeku. Bagiku yang sudah sering keluar masuk klub malam ini tentulah menginginkan sesuatu yang lebih untuk memanjakan mataku.


Yaren, tidak! Dia sama sekali bukan tipeku.


Kalau perlu aku gambarkan, buah da**nya datar tidak berseni, rambutnya sedikit bergelombang, namun kulitnya putih bersih.


Matanya teduh, mungkin cocok untuk peran wanita tersakiti jika di drama televisi, bibirnya tipis namun entah kenapa setiap kali melihatnya berbicara, bibir itu menjadi lebih menarik di penglihatanku.


Tubuhnya pendek, badannya seperti kekurangan gizi, dan yah satu lagi, suaranya yang cempreng, aku juga tidak menyukai itu. Kadang kalau dia merengek, maka telingaku akan pengang tiba-tiba.


“Mari kita menikah!” tanyanya tiba-tiba, entah apa yang ada di pikirannya hingga dengan berani menawariku menikah untuk kedua kalinya.


Gadis itu memang terlalu berani mengambil keputusan, kadang beginu kadang begitu, tanpa pernah dipikirkan terlebih dahulu.


Jangan salahkan aku jika suatu saat aku menipunya, dia terlalu ceroboh.


Aku tidak bisa menikahinya, selain alasannya adalah karena aku tidak ingin terikat dalam hubungan apapun, alasan lainnya mungkin karena aku tidak bisa membahayakan nyawanya.


Aku mengatakan akan melepaskannya kalau aku sudah bosan, aku salah! Mungkin lebih tepatnya, kalau aku sudah tidak bisa menjaganya lagi.


Aku tidak tau apa yang akan terjadi pada hidupku esok hari, setiap hari dalam kegelapan membuatku tidak pernah mencapai ketenangan.


Ayaz POV end.


Ayaz berdiri di depan cermin, hari ini dia akan menemui Marco, memastikan raut wajahnya baik-baik saja. Mungkin Marco juga sudah mengetahui bahwa dia mengajak seorang wanita tinggal bersama saat ini. Dan Ayaz, pria itu siap akan risiko kemarahannya.


Membuka lemari pakaian itu, lalu memencet lagi tombol tersembunyi, kemudian Ayaz menghilang meninggalkan suasana kamar yang sunyi seperti tidak pernah terjadi apapun.


...***...


“Kau sudah menidurinya?” tanya Marco, pria itu menatap penuh selidik pada anak buah andalannya itu.


“Kau mengharapkannya?”


“Seorang bajingan tetaplah bajingan!” sahut Marco lagi. Ayaz bisa membaca raut tidak suka dari wajah Marco, namun Ayaz tidak peduli.


“Aku belum merasakannya!” ungkap Ayaz jujur.


“Heh, kentang!”


“Aku memikirkan sesuatu!” ucap Ayaz, pria itu menyambar satu buah senjata api yang tergeletak di meja, meneliti setiap detailnya.


“Balas dendam?” tebak Marco.


“Aku ingin mencari ayah kandungku!” ucap Ayaz mengungkapkan rencananya.


“Ya!”


“Dia juga harus membayarnya, menelantarkan aku dan Ibuku!” sebut Ayaz penuh dendam.


“Katakan saja apapun yang kau butuhkan!”


“Aku butuh mata-mata!” pinta Ayaz, “Aku dengar saudara Ibuku hampir semuanya menetap di Itali, kau bisa membantuku?” tanya Ayaz.


“Tentu! Sudah saatnya kan.”

__ADS_1


“Mungkin mereka bisa memberitahuku, dengan siapa Ibuku berhubungan sebelum menikah dengan keparat Sian?” ucap Ayaz, auranya menakutkan.


“Tunggu!” sanggah Marco, “Kau bilang apa tadi?”


“Apa?” tanya Ayaz.


“Yang kau bilang keparat?”


“Kau peduli Tuan? Biasanya tidak!”


Selama ini Marco memang tidak pernah peduli dengan dendam masa lalu Ayaz, baginya selama Ayaz mau menghasilkan dolar untuknya, dia tidak peduli Ayaz mau menghancurkan siapa, tugasnya hanya memberikan fasilitas saat Ayaz sudah siap untuk membalaskan dendamnya.


Dan mungkin hari itu akan segera tiba, Sian! Nama itu tidak asing bagi Marco, tapi siapa Sian? Pikirnya menebak-nebak mencari hal yang mungkin.


“Aku hanya ingin tau, barang kali aku bisa membantumu Teman!”


“Dia Ayah tiriku!” jawab Ayaz.


“Ayah tiri?”


“Yah, seperti yang pernah aku katakan padamu saat pertama kali kau menemukanku, dia ayah tiriku!”


“Kenapa?”


“Tidak, aku hanya seperti tidak asing dengan nama itu!” jawab Marco.


“Oh ayolah Bung, kau terlalu banyak berkelana, tidak heran! Mungkin kau sudah berapa kali menghancurkan pria bernama Sein!” ucap Ayaz, terdengar semacam sebuah pujian.


“Hemmm, kau benar!”


“Nikmatilah masa berburumu, aku akan mengirimkan yang terbaik untuk menemukan keluarga Ibumu di Italia.”


“Mungkin kau pengecualian, anak pembangkang sepertimu, akan aku bebaskan untuk perasaan tidak senang!” sahut Marco.


“Siapa nama gadis itu?” tanya Marco lagi, pria itu mengambil rokok kemudian menyesapnya.


“Yaren!”


“Dia dari keluarga Argantara.” Tebak Marco, dan Ayaz tidak heran dari aman Marco mengetahui itu.


“Aku tidak peduli asal usulnya. Selama dia bisa memuaskanku!”


“Ayaz!”


“Hemmm.”


“Wanita hanya akan menghancurkanmu!”


“Maksudmu?”


“Jangan terlalu dekat dengannya!”


“Hei hei, ada apa Tuan? Kau nampak peduli?”


“Kadang, perlu juga mempedulikanmu!”


Ayaz meneliti perubahan pada Marco, ada apa? Tidak biasanya Marco mau mengurusi kehidupannya.

__ADS_1


“Aku akan senang jika kita bisa bersikap seperti biasanya, kau takut aku terpengaruh lalu tidak lagi bekerja denganmu?” tebak Ayaz.


“Heh, aku bahkan bisa membunuhmu kapanpun aku mau!” ucap Marco meremehkan Ayaz.


“Hahahaha,” dengan segera Ayaz mengambil senjata api yang tadi sempat diteliti olehnya, mengarahkannya pada Marco. “Jangan lupa Tuan Marco Arash, hanya ada dua kemungkinan saat kau memelihara hewan buas, dia yang setia padamu, atau dia yang akan membunuhmu!” ucap Ayaz dengan seringainya.


“Ah begitukah? Tapi sedari aku memeliharanya, aku sudah bertekad tidak akan mati hanya karena gigitan kecil olehnya.” sahut Marco.


Kedua manusia beda generasi itu tampak memandang sengit. Tidak ada raut kekesalan pada diri Ayaz, hanya saja dia merasa lucu saat tiba-tiba Marco mengurusi hidupnya, apa lagi ditebakannya Marco melakukan itu hanya takut kehilangan penghasilan yang akan dirinya dapatkan.


Lain halnya dengan Marco, entah mengapa ada rasa kesal saat Ayaz tidak menurut padanya, ancaman Ayaz memang tidak berarti apapun baginya, jika serius pun Marco rasa dirinya masih bisa melawan dan mengalahkan Ayaz.


“Bagaimana kalau, hewan buas itu membunuhmu saat kau tidak siap?” tanya Ayaz, sudut bibirnya tertarik.


“Kau tidak akan bisa melawanku!”


“Oh Tuan, aku menghargaimu, aku berdoa semoga saja itu tidak terjadi.” Ayaz tergelak renyah. Entah percakapan apa yang tengah mereka bahas, seumur hidup mengenali Marco, Ayaz tidak pernah merasa sedekat ini dengan pria paruh baya itu.


“Kau sudah tua Tuan, tidak usah terlalu banyak beban pikiran, aku hanya bercanda!” ungkap Ayaz.


“Tapi aku tidak bercanda mengenai wanita itu!” sentak Marco.


“Namanya Yaren, biarkan aku mengurusnya, aku tidak akan jatuh cinta padanya, kau ini sudah bagai orang tua yang sangat peduli pada masalah asmara anaknya, jangan terlalu kulot Bung!”


“Terserah kau saja, aku hanya mengingatkan!”


“Hemmm, semoga kau tidur nyenyak, kau tau malam ini aku akan melakukan sesuatu dengannya.” Goda Ayaz lagi.


“Lakukan apapun yang kau mau, aku tidak sepeduli itu mengenai hubunganmu dengannya, aku hanya tidak mau mempengaruhi pendapatanku!” ucap Marco, kemudian pria itu bangkit lalu pergi meninggalkan Ayaz.


“Dasar Bajingan!”


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2