
"Nak Harun..." seru Wana. Harun menoleh, dia juga adalah salah satu orang yang mengetahui kartu dari wanita itu, Harun tersenyum samar, Wana pikir bisa memanfaatkannya, padahal dengan memilih jalan seperti ini, itu berarti sama saja menyerahkan nyawa padanya.
"Ya!" sahutnya.
"Nak Harun pasti akan langsung jatuh cinta begitu melihat putri kami, aku rasa kalian benar-benar cocok, kau tampan dan putri kami juga sebanding denganmu!" ucap Wana.
Argantara mengangguk setuju, sementara Harun, pria itu masih saja menampilkan wajah datar.
Kedua orang tua Harun dilanda canggung karena Harun yang nyatanya enggan menanggapi, jadi Ibunya langsung saja menyahut, "Pasti itu Bu, kami juga sudah mendengar tentang putri Tuan Argantara, yang katanya benar-benar sangat cantik."
"Ahhh Nyonya, putri kami sangat rendah hati, jangan terlalu memuji seperti itu."
"Siapa namanya, kalau tidak salah Yaren benar begitu? Bukankah putri Tuan Argantara waktu itu hampir menjadi dokter obygn, kalau saja tidak memutuskan berhenti di tengah perjalanan, kira-kira kenapa?" sambung Ayahnya Harun bertanya.
Harun masih menyimak, bukankah Dandi mengatakan yang akan menikah dengannya adalah seorang gadis bernama Raisa, lalu mengapa Ayahnya menyebut nama Yaren yang adalah putrinya Argantara ini pikirnya.
"Bukan apa-apa, kebetulan saya adalah salah satu dosen di kampusnya, begitu Harun mengatakan akan menikah dengan putrinya Tuan Argantara saya langsung saja menyetujuinya. Yaren adalah gadis yang sangat cantik dan juga baik hati, hanya saja ia entah mengapa gadis itu sulit untuk didekati, jadi saya benar-benar tidak menyangka dan sangat berbahagia sekali saat Harun mengatakan akan menikah dengan putri anda."
Wana tersenyum kecut, hatinya panas kala mendengar calon besannya itu malah memuji Yaren, yang menurutnya sudah jelas-jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan Raisa putrinya. Anak tirinya itu, ada atau tidak ada lagi di rumah ini masih saja membuat suasana hatinya kesal. Memang pembawa sial! Batin Wana menggerutu.
Argantara juga sedikit tidak nyaman kala calon besannya itu malah membicarakan Yaren, ia sedikit menyenggol tangan istrinya dan matanya seolah bertanya, apakah Wana tidak menjelaskan sebelumnya?
Wana menggeleng pelan, mau tidak mau mereka harus menjelaskan bahwa wanita yang akan menikah dengan Harun adalah bukan Yaren, melainkan Raisa.
"Maaf Tuan Suryono, sebelumnya saya benar-benar harus meminta maaf tentang kesalahpahaman ini, tapi yang akan menikah dengan Nak Harun bukanlah Yaren putri sulung kami, melainkan Raisa yang adalah putri bungsu kami." ucap Argantara meluruskan keadaan yang sebenarnya.
"Putri sulung kami sudah menikah dan sekarang sudah tinggal di rumah suaminya, maaf karena tidak menjelaskannya pada Tuan Harun begitu detil hingga membuat anda salah paham." sambung Wana bak Ibu tiri yang sangat baik.
__ADS_1
Ayahnya Harun, Tuan Suryono mengangguk, jadi yang akan menikah dengan putranya ini bukanlah Yaren, wanita yang diharapkannya itu, baiklah dirinya akan mencoba untuk mengerti.
"Harun sama sekali tidak menjelaskan, dia hanya mengatakan kalau akan menikah dengan putrinya Tuan Argantara, jadi maaf kalau saya berpikiran itu adalah Yaren mahasiswi di kampus saya dulu." ucap Tuan Suryono lagi.
Tanpa ingin menanggapi apa yang para orang tua bicarakan, Harun bahkan sudah selesai dengan kegiatan makan malamnya, ia benar-benar tidak peduli tentang pernikahan.
...***...
"Kau di sini?" tanya Marco. Ia baru saja sampai di rumahnya, namun mendapati Ayaz tengah duduk di kursi teras dekat pintu utama rumahnya. Apakah Ayaz memang sedang menunggu kedatangannya.
Ayaz mendongak, rupanya ia terlelap sebentar, ia mengucek matanya perlahan, dan tanpa kesiapan ia melihat Marco sedang tersenyum ke arahnya.
"Tuan..." serunya tercekat.
"Masuklah!" pinta Marco, pria itu membukakan pintu dan menyuruh Ayaz mengikutinya.
Ayaz masuk, kedatangannya kali ini, entah mengapa rasanya begitu berbeda, ia tidak bisa bersikap lancang seperti biasanya, hanya ada kecanggungan yang sedari tadi terus dirinya coba alihkan.
"Latte, no caffeine!" jawab Ayaz.
Marco membuatkan Ayaz secangkir latte, sementara Ayaz, pria itu masih mencoba menetralkan perasaannya.
Setelah beberapa menit berlalu, Marco membawa dua latte buatannya, meletakkan itu di meja, kemudian duduk tepat di hadapan Ayaz.
Ayaz menarik napasnya dalam, menghembuskannya perlahan, rasanya tidak sanggup untuk memulai percakapan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Marco berbasa-basi.
__ADS_1
Ayaz mendongak singkat, lalu menjawab, "Baik, sejauh ini baik. Seperti yang Tuan lihat!"
"Kau tidak datang untuk menikmati latte buatanku, atau berbicang santai seperti sedia kalanya." ucap Marco lagi. Ia lebih memberanikan diri.
Benar apa yang dikatakan Rymi tentang hubungannya dan Ayaz, jika mereka tidak ada yang peduli dan mau memulai, lalu apa semuanya harus terbengkalai begitu saja, biarlah kebencian semakin menjarah, biarlah keputusasaan semakin memenuhi ruang pikiran mereka, biarkanlah apa yang telah menjadi kesalahpahaman tidak usah diperbaiki bagaimana seharusnya.
"Aku tau, kau yang memudahkan semuanya." ucap Ayaz, yang lebih memilih membuatkan perihal kasus Ali Yarkan. Ia benar-benar belum siap jika harus berbicara mengenai masa lalunya.
Marco mengangguk perlahan, "Hanya itu yang bisa aku lakukan!" sahutnya.
"Kenapa? Kenapa harus sepeduli itu?"
"Meski bagaimanapun, aku berterimakasih untuk itu!" ucap Ayaz sama sekali tidak sesuai dengan suara hatinya.
Marco mengangguk lagi, ia juga mengakui nyatanya Ayaz cukup piawai dalam berakting.
"Setelah ini, aku harap kau tidak bersikap baik lagi padaku!" lanjut Ayaz, tangannya mengepal saat mengatakan itu. Ingin sekali rasanya ia langsung saja menghajar habis-habisan seorang pria yang nyatanya adalah ayah kandungnya itu. Ayah kandung yang sudah dengan tanpa belas kasih meninggalkan dirinya dan sang Ibu. Tanpa kejelasan, tidak bertanggung jawab.
"Kenapa? Apa kau merasa keberatan?" tanya Marco. Ia mencoba bersikap tenang dalam menghadapi masalahnya kali ini. Masalah yang benar-benar dianggapnya serius.
Ayaz sedikit canggung, namun ia berusaha menyamarkan itu, "Aku tidak mau berhutang budi terlalu banyak. Bukankah aku sudah berjanji padamu, untuk pembunuhan Ali, jika kali ini aku gagal dalam main bersih, maka aku juga tidak akan melibatkanmu!" jawab Ayaz.
Marco mengerti, alasan Ayaz memang bisa diterima, sebelum mengetahui hubungan mereka adalah ayah dan anak, bahkan Marco pernah mengatakan pada Ayaz, bahwa segala misi memerlukan tumbal untuk dikorbankan, tugas anak buahnya hanya sebisa mungkin menghindari itu. Ia juga mengatakan kalau, dirinya tidak akan terlibat, jangan ungkit namanya, karena jika ia terlibat maka bukan hanya kejahatan itu saja yang akan terungkap, rentetan kejahatan yang mereka lakukan pastinya juga akan terkena imbasnya.
Sejauh ini, Marco, Ayaz dan Rymi selalu saja sukses dalam misi, begitupun kasus Ali Yarkan, hanya saja entah mengapa kasus ini seolah menempatkan mereka pada posisi serba salah, jadi tampak lebih rumit jika dilihat.
"Kau... Cukup ahli dalam berpura-pura!"
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...