Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Apa Kakak juga sama sepertiku?


__ADS_3

"Aku?" Samudra masih terkejut karena Rymi yang benar saja akan menuduhnya.


"Tidak tidak, aku tidak memberikan apapun di minumanmu, sungguh!"


"Ah ya..." Rymi menatap nyalang Samudra, ia kembali angkuh "Jadi kiranya mengapa aku bisa menjadi seperti ini? Bukankah setelah minum kopi yang kau berikan aku langsung saja tiba-tiba mual? Aku tanya... kau beri apa di minumanku?" berang Rymi.


"Rym, kau jangan sembarangan menuduh, aku tidak melakukan apapun, aku bisa menuntutmu jika yang kau tuduhkan itu tidak benar!" Sam mulai tidak sabar, ia juga tidak mau dituduh seperti itu.


"Heh!" Rymi tersenyum miring. Ia ingin membalas Samudra namun entah kenapa rasanya kali ini tidak bisa dirinya lakukan, ia melihat Samudra seperti tertekan dan jujur saja itu membuatnya tidak tega. Lalu dengan gontai Rymi berjalan menuju sofa tempatnya menonton live acara penyidikan di rumah Sian Huculak.


Samudra melihat ada yang aneh, mengingat wanita yang disukainya itu biasanya tidak akan mudah untuk memaafkan orang lain, tapi mengapa kali ini Rymi memilih untuk melepaskannya?


Sam memberanikan diri mendekat, ia sudah siap untuk kembali berdebat jika Rymi lagi-lagi menuduhnya.


...***...


Sementara Ayaz dan Yaren, keduanya sedang membawa anak laki-laki yang sedang dalam trauma itu jalan-jalan, tidak banyak tempat yang mereka tuju, Ayaz memilih untuk mengajak anak itu menuju area bermain di sebuah Mall.


"Anak manis... Siapa namamu?" tanya Yaren, ia bingung harus memanggil anak itu siapa, karena ia saja tidak mengetahui namanya.


Anak laki-laki itu diam saja, malah matanya menatap tajam Yaren, seolah memiliki dendam.


"Apakah kau tidak ingin menjawab?" tanya Ayaz, ia tersenyum kemudian mengambil tangan anak itu lalu menciumnya.


Anak itu masih tetap diam, meski ia sudah tidak menatap Yaren tajam, tapi Ayaz melihat anak itu tetap saja seolah enggan bicara.


"Apa kau tau... Aku pernah juga mengalami apa yang sudah kau alami?" Ayaz mulai semakin mengikis jarak, ia merengkuh tubuh kurus anak itu.


"Dulu... Aku bahkan berpikir kalau lebih baik aku mati saja."


"Supaya bisa bertemu dengan orang yang sangat aku sayangi."

__ADS_1


"Kau juga merindukannya?"


Ayaz menoleh, melihat reaksi yang akan dilayangkan anak itu. Barangkali saja apa yang telah hilang pada diri sang anak kebetulan sama dengannya dulu.


Dan benar saja, anak itu bereaksi, menoleh kearah Ayaz meski hanya sesaat dan lalu memutusnya berpaling.


Sementara Yaren, ia menyimak, jarang sekalu Ayaz ingin menceritakan tentang hidupnya, jikapun kali ini mulut itu berucap tanpa sengaja, tapi Yaren sungguh ingin tau bagaimana tentang suaminya itu. Seseorang yang pernah dianggapnya sangat misterius.


Yaren hanya tau sedikit saja tentang Ayaz, Ibu dari suaminya itu sudah meninggal, dan beberapa hari yang lalu ia juga mengetahui kenyataan yang menambah daftar yang dirinya ketahui tentang Ayaz Diren, yang ternyata Marco Arash adalah ayah kandung dari suaminya itu.


"Dia pasti senang melihat kamu hidup dengan baik."


"Kau harus baik-baik saja, ada dia di sana yang selalu mengawasimu dari kejauhan..."


"Benarkah..." potong anak itu tiba-tiba.


Ayaz menoleh, kemudian tersenyum dan mengangguk.


"Jadi..."


"Shuttt..."


Ayaz mengisyaratkan Yaren untuk jangan bicara terlebih dahulu. Yaren menurut meski ia sedikit kesal, padahal kan ia juga mau ikut menghibur anak itu.


"Iya, dia pasti senang melihat kau tertawa, melihat kau bahagia, oleh karena itu kau harus tetap menjadi orang yang paling ceria." ujar Ayaz melanjutkan penghiburannya.


Anak itu diam lagi, kemudian wajahnya menatap langit yang biru di atas sana, seolah ada sesuatu yang ia cari dibalik awan yang meramaikan langit itu.


"Apa jika aku melakukannya, dia akan memaafkanku?" tanya anak laki-laki itu.


"Apa dia berpesan kepadamu sebelum dia pergi?" tanya balik Ayaz.

__ADS_1


Hemmm, Yaren mengutuk suaminya itu, dengan anak kecil pun masih juga seperti itu, selalu saja pertanyaan dijawab dengan pertanyaan lainnya.


"Aku tidak tau..." jawab anak itu menggantung.


Menghembuskan napas, anak itu meski baru berumur tujuh tahun, namun sepertinya sudah cukup mengerti artinya kehilangan. Apa lagi mungkin kali ini dirinya kehilangan sesuatu yang paling berharga baginya.


"Aku datang pada Ibu saat Ibu sudah tidak ada..." lanjut anak itu, yang membuat Ayaz mengerti, benar saja anak itu baru saja kehilangan Ibunya.


"Aku tidak tau, Ibu pernah berpesan padaku atau tidak, aku tidak tau..."


Yaren ingin sekali memeluk anak itu, sekedar menguatkan dan setelah suasananya tenang ia ingin bertanya ke mana Ibu anak itu pergi, apa sudah meninggal juga seperti Mamanya, namun urung dirinya lakukan karena Ayaz yang mencegahnya.


Namun sepertinya Yaren bisa menebak, hal yang paling mungkin adalah Ibunya anak itu pastilah sudah tiada di dunia ini.


"Kau tidak tau... Aku juga sama, dulu aku juga tidak tau dia pernah berpesan padaku sebelum kepergiannya itu atau tidak." ucap Ayaz lagi. Ia ingin memposisikan keadaan dirinya dulu adalah sama seperti anak laki-laki itu, setidaknya hal itu bisa menjadi motivasi untuk anak itu supaya tetap kuat menjalani hidup.


"Benarkah? Apa Kakak juga sama sepertiku, kehilangan Ibu?" tanya anak itu. Raut wajahnya belum memiliki semangat, namun Ayaz bisa membacanya anak itu sudah mau membuka diri.


Ayaz mengangguk, sembari tersenyum ia mulai membelai puncak kepala anak itu, "Aku kehilangannya saat aku masih seumuran denganmu, kadang aku juga masih suka merindukannya, kau pasti sedang merindukannya juga, kita sama..." ucap Ayaz.


Anak kecil itu terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu, kemudian beberapa detik berikutnya, entah kenapa anak itu kembali menjerit histeris, "Jangan... Jangan lakukan... Jangan... Pergi, jangan yang mendekat..."


Ayaz langsung saja memeluk anak itu, namun anak itu ternyata sulit sekali di tenangkan. Anak laki-laki itu terus memberontak dalam pelukannya, "Yaren, bisakah kau ambil alih dia, aku akan membawanya pergi dari sini." tanya Ayaz, ia mencoba tenang menghadapi situasi, karena hal semacam ini pernah terjadi pada dirinya sendiri jadi ia sedikit tau apa yang harus dirinya lakukan.


Yaren mengambil alih anak itu dari dekapan Ayaz dan langsung saja mendekapnya erat, ia yang tidak punya pengalaman ini, takut sekali anak itu terlepas dan pergi. Ia sudah menganggap anak itu punya gangguan mental.


"Jangan terlalu erat, kau harus bisa mendekapnya dengan lembut, apa lagi dia hanya anak-anak." titah Ayaz. Lalu Ayaz mengambil ponselnya dari saku dan langsung saja memanggil Marco.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...

__ADS_1


__ADS_2