
Pagi ini, masih tanpa Ayaz, Yaren benar-benar tidak mengetahui di mana gerangan keberadaan suaminya itu. Mungkin Yaren tidak perlu khawatir tentang makan atau tidaknya Ayaz, namun jika benar Ayaz memiliki perasaan yang sama sepertinya tentu saja rasanya sakit dan begitu kebingungan.
Harus berpisah dari orang yang kita cintai, rasanya itu begitu menyesakkan.
Jovan masih menyimak berita pagi, penemuan mayat di salah satu jurang dekat perbatasan kota, Yaren tidak merasakan keganjalan namun lain halnya dengan Jovan, entah mengapa pandangan matanya menangkap kalau kecelakaan itu seperti sesuatu yang disengaja.
Ia mencari tahu dan akhirnya menemukan sesuatu, sepetinya bukan hanya dirinya yang tertarik akan penemuan mayat itu.
Jovan memejamkan matanya, ia mencoba buta, tidak melihat apapun. Ia segera tersadar dan benar-benar tidak ingin mengurusi hal semacam itu lagi.
Biarlah mereka menanggung apa yang seharusnya ditanggung. Begitulah Jovan menguatkan hatinya.
"Kak Jovan!" seru Yaren.
"Hemmm..."
"Aku mau bertanya!" ucap Yaren lagi.
"Ya?"
"Apa waktu itu kakak benar-benar mencintai Raisa?"
Jovan menoleh, Raisa, wanita itu yaaa, setelah dicampakkannya begitu saja entah bagaimana kabarnya wanita itu.
"Kenapa?" tanya balik Jovan.
"Aku hanya bertanya!"
"Dia terlalu muda bagiku, bagaimana mungkin aku benar-benar menyukainya." dalih Jovan.
"Apa waktu itu Kakak memacarinya hanya untuk melihatku?" tanya Yaren penuh selidik.
"Ehe?"
"Apa Kakak akan melakukan sesuatu pada Argantara? Aku pernah tidak sengaja mendengar percakapan Ayaz dengan seseorang, dan aku baru menyadari mungkinkah saat itu yang bicara di telepon dengan Ayaz adalah kakak?" selidik Yaren.
Kening Jovan berkerut, apa saat ini ia sedang di curigai?
__ADS_1
"Apa adikku ini baru saja mencurigai kakaknya?" tanya balik Jovan.
Yaren tampak bingung, sebenarnya ia sudah lama ingin menanyakan ini, namun tidak adanya waktu yang tepat untuk ia dan Jonan berbincang santai jika ada Ayaz di tengah-tengah mereka.
Yaren pernah sekali mendengar Ayaz merencanakan sesuatu untuk keluarganya, Argantara akan hancur dengan menghancurkan hidup Raisa lebih dulu, Yaren begitu takut namun waktu itu ia tidak berani menyinggung Ayaz, berbicara dengan nada yang sedikit tinggi pada suaminya itu saja Yaren tidak pernah melakukannya.
"Apa kakak juga terlibat?"
"Yaren..." Jovan menatap Yaren dalam. Ia menghembuskan napas berat, "Aku hanya melakukan apa yang aku rasa benar!"
"Tapi Kak!"
"Jika aku katakan, maka apa kau akan percaya?"
"Apa maksudnya?"
"Yaren... Karena Argantara lah aku harus menjadi anak broken home, kau tau? Dialah yang menjebak Papaku? Kenyataannya dia menyukai Ibuku, meski bukan tangannya yang melakukannya, tapi dia mengambil Mamaku, kebahagiaan Papa, kebahagiaan kami!" jelas Jovan.
Tangan Yaren menutup mulutnya yang menganga tidak percaya, apa benar begitu? Ia memang pernah mendengar ini dari Jovan sebelumnya, namun mengapa rasanya tetap saja ia tidak terima.
"Jadi... Aku hanya membalas apa yang dirinya lakukan pada kami, Papaku meregang nyawa karena sakit, Mama menjadi orang lain bagi kami, meski aku dan Papa sangat menyayanginya. Ibu Darinah sudah berulang kali meminta maaf dan bahkan berjanji untuk pergi jauh, namun Mama seolah tuli dan hanya melihat kesalahan antara Papa dan Ibu Darinah!"
"Tolong mengerti aku!"
Yaren memeluk Jovan, Jovan berucap lagi, bercerita sekalian untuk menjelaskan bagaimana dulunya.
"Lalu Argantara datang, sebagai pahlawan saat Mama begitu terpuruk, bak seorang malaikat Mama yang saat itu benar-benar membutuhkan dukungan, langsung saja bisa dengan mudah menganggap Argantara menjadi orang baik di sisinya."
"Apa Papaku sejahat itu?" tanya Yaren.
"Tidak juga, dia benar pernah sangat menyayangi Mamaku, dan juga dirimu bukan!" sahut Jovan.
"Lalu, mengapa Kakak harus membalas dendam."
"Aku membalaskan dendam bukan karena Papaku yang terabaikan, bukan juga karena Mama, aku melihatmu yang begitu mirip dengan Mama, aku yang awalnya tidak mau mengakuimu, namun Papa tau Argantara bukanlah orang yang baik, suatu hari nanti akan ada sesuatu yang harus aku jaga."
"Sesaat sebelum Papa meninggal, Beliau berkata untuk aku bisa menerima semua saudaraku, baik dari Argantara yaitu dirimu ataupun Cemir yang merupakan anak dari Ibu Darinah."
__ADS_1
"Lalu aku mulai melakukan pendekatan pada keluarga Argantara, mulai mempelajari tentang keluarga itu, dan kenyataannya aku harus melihat kau tidak diperlakukan secara baik oleh keluarga itu, dan bodohnya Argantara bisa menutup mata atas kejahatan istri barunya."
"Apa karena itu?"
"Salah satunya!" Jovan mengangguk.
"Aku ingin segera membebaskanmu, namun mau bagaimana lagi, Argantara memiliki hak penuh atas dirimu, jadi aku hanya bisa menjagamu dari jauh."
"Aku memberikan apapun yang Raisa minta, semata-mata hanya untuk menyenangkan hatinya, supaya dia dan Wana tidak terlalu mengurusimu, bukankah lebih baik mereka terbuai akan pesona dunia."
Yaren juga mulai ingat, semenjak Raisa dikabarkan berpacaran dengan pengusaha kaya raya yang nyatanya adalah kakaknya ini, Wana dan Raisa memang tidak terlalu mempermasalahkan kehadirannya di rumah mewah Argantara itu, mereka terlalu asik menikmati hidup mewahnya.
Saat itu, ia juga bisa sedikit lebih dekat dengan Argantara Papanya, ia bisa sedikit bermanja-manja dengan Argantara meski hanya dari ucapan saja.
Yang sebelum itu tidak bisa dirinya lakukan karena Raisa yang selalu iri akan dirinya.
"Terimakasih Kak!" ucap Yaren.
"Sudah kewajibanku, dan untuk itu kita harus saling menjaga, aku dan juga Cemir adalah saudaramu, meski kau tidak ada hubungan darah apapun dengan Cemir tapi aku harap kau bisa menyayanginya dengan sepenuh hati." ucap Jovan lagi. Sebenarnya Jovan adalah sosok pria yang berpikiran luas, ia cukup dewasa dalam berpikir.
"Aku sangat menyayangi kalian, kalian adalah keluargaku, tapi bisakah kalian tidak membalas dendam, biarlah mereka mendapatkan karmanya suatu hari nanti, Kakak tidak perlu ikut andil dalam rencana Tuhan!" ucap Yaren.
"Sayangnya semuanya sudah terjadi, tidak apa... Tidak perlu khawatir, nyatanya orang yang berambisi seperti Argantara dan istrinya tidak akan membiarkan mereka jatuh dengan mudahnya." sahut Jovan.
"Apa maksud kakak?" Yaren tidak mengerti, dirinya juga sekaligus terkejut, apakah Ayaz ataupun kakaknya ini sudah melakukan sesuatu untuk Argantara? Pikirnya.
Jovan mengambil ponselnya yabg tergeletak di sofa, ia mencari sebuah berita yang cukup viral beberapa hari ini, dan menunjukkan itu pada Yaren.
Harun Aji Suryono, pengusaha muda dan berprestasi ini memutuskan untuk mengakhiri masa lajang di usianya yang genap empat puluh tahun pada bulan Juli mendatang.
Bak seperti cerita di Novel online, Harun Aji Suryono, pengusaha kaya raya ini akhirnya memutuskan menikah dengan gadis belia.
Hanya menampilkan judul beritanya saja, Yaren tidak mengerti, sudah berapa bulan ia tidak bermain sosial media karena keadaan yang terbatas, ia mengkerutkan dahinya tanda tidak begitu paham.
"Gadis yang akan dinikahinya adalah Raisa!" ungkap Jovan.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...