
Flashback,
Dua jam yang lalu,
"Kau gila!" umpat Rymi. Wanita itu menjambak kasar rambutnya sendiri, "Kau benar-benar gila!"
"Aku harus membelinya sekarang juga!" kekeh Ayaz.
"Ayaz, kau pikir semudah itu? Tuan Chase tidak akan memberikan hotel itu dengan mudah." Rymi juga tak kalah, ia memberikan pendapatnya, berbicara tentang keinginan Ayaz yang begitu mustahil baginya.
"Kenapa tidak?"
"Aku akan membeli mahal!"
"Terus saja, terus saja bertindak semaunya, kau melakukan ini semua demi Yaren kan? Gila, dasar bucin!" geram Rymi.
"Mau bagaimana lagi, Yaren ingin sekali pergi ke pesta itu, kau tau kan, aku tidak bisa mengecewakannya." sahut Ayaz beralasan.
"Tapi tidak mesti hotel itu kan bisa!"
"Seharusnya memang hotel itu, aku mampu! Kenapa tidak?" ucap Ayaz percaya diri.
"Kau mampu, tapi bagaimana dengan pemiliknya?"
"Sudahlah Rym, aku tidak ingin berdebat, kau tau kan bisnis hotel adalah yang paling tepat untukku sesuai dengan apa yang pernah kita ramalkan saat berlibur di Eropa!"
"Itu hanya alasanmu, percaya ramalan! Ada-ada saja, padahal yang sebenarnya kau hanya ingin pamer dengan mertuamu bukan? Akui!" delik Rymi tajam.
"Cih, mertua!" entah mengapa, seketika Ayaz merasa panggilan itu begitu tidak sedap didengar.
"Lalu sampai kapan kita akan berdebat? Ayo temani aku sebentar!" ajak Ayaz.
"Aku tidak suka membantumu, aku benar-benar tidak suka!" geram Rymi berteriak garang.
"Hilih!"
Ayaz dan Rymi kemudian bergegas menuju tempat pertemuan mereka dengan pemilik hotel Sona Blue Hotel, setelah sebelumnya Ayaz memang sudah mengadakan janji temu.
"Kau yakin?" tanya Rymi sekali lagi saat mereka sudah di perjalanan.
__ADS_1
"Lebih dari yakin!" jawab Ayaz pasti.
"Aisshhh, beruntung sekali Yaren!" gumam Rymi pelan namun masih bisa didengar Ayaz.
"Kau cemburu?" goda Ayaz.
"Cemburu? Kau berharap begitu?" tantang Rymi.
"Ahh, tidak, aku sadar kalau aku bukan tipemu, tipemu kan... seperti Samudra Rangga Don..."
Tak!
Rymi mengetuk kepala Ayaz keras dengan majalah yang digulungnya, "Kau mau mati?" kesal Rymi.
"Apa? Aku hanya terang-terangan menggoda!" bela Ayaz pada dirinya sembari mengelus pelan kepalanya yang sempat dipukul Rymi.
"Fokuslah menyetir, aku ingin hidup lebih lama lagi." ucap ketus Rymi.
Ayaz mencibir, "Dasar gila!" lalu mengumpat lagi.
Setengah jam mereka sudah sampai, mereka bertemu di Bar yang masih termasuk fasilitas Sona Blue Hotel, Bar itu sedang kosong, atau mungkin memang sengaja dikosongkan. Ayaz mengangguk setuju melihat betapa megahnya Sona Blue Hotel, sebentar lagi hotel ini benar-benar akan menjadi miliknya, Ayaz bisa memastikan itu.
"Selamat siang Tuan Ayaz Diren!" sapa Tuan Chase. Ayaz Diren sebenarnya bukanlah orang yang terkenal, namun Tuan Chase tau pria itu adalah seseorang yang kaya raya, pengusaha muda yang memiliki hotel di berbagai kota, namun entah mengapa pria itu lebih memilih membungkam identitasnya, ia tidak tau dan juga tidak sempat mengurusi.
"Senang sekali bisa berkesempatan untuk bertemu dengan anda, seorang pengusaha muda namun sungguh misterius ini, ada apakah gerangan tiba-tiba ingin bertemu?" tanya Tuan Chase langsung.
"Oowwh, anda sepertinya juga bukanlah tipe orang yang suka berbasa-basi, saya pikir anda akan menjamu saya terlebih dahulu dengan berbagai kudapan misalnya?"
"Ahhh..." Tuan Chase langsung saja didera canggung.
"Tidak apa! Kedatangan saya juga tidak akan lama, saya juga sebenarnya tipe orang yang sama seperti anda, jadi langsung saja! Bisakah anda menjual hotel Sona Bule ini pada saya?" tanya Ayaz tanpa pendahuluan.
Mata Tuan Chase membulat, pria yang setidaknya berselisih umur sekitar delapan tahun lebih tua dari Ayaz itu tidak percaya dengan apa yang baru saja dirinya dengar.
"Apa maksud anda?" tanya Tuan Chase memastikan.
"Membeli! Berarti, kita melakukan transaksi, anda menjual dan saja membeli, berapapun yang anda inginkan akan saya sanggupi!" terang Ayaz.
"Apa anda serius?" tanya Tuan Chase, lagi dan lagi ia harus benar-benar menanyakan. Pria di hadapannya ini memang kaya raya, tapi apa yakin bisa membeli dengan mudah hotel miliknya ini, apa lagi Ayaz mengatakan akan menyanggupi berapapun yang dirinya minta!"
__ADS_1
"Apa anda meragukan saya?" tanya balik Ayaz, wajahnya terlihat semakin serius.
"Saya akan mengurus transaksinya jika anda setuju!" ucap Rymi tiba-tiba, ia bagaikan sekretaris yang siap sedia.
"Sekretaris saya bisa diandalkan!" tambah Ayaz lagi semakin melengkapi akting seorang Rymi.
Tuan Chase tanpak berpikir, sebabnya ia tidak punya niatan untuk menjual hotel mewahnya, namun bukanlah usahanya ini tidak lain adalah juga investasi, maka tidak ada salahnya, dan baginya ini adalah sebuah kesempatan emas.
"16M USD!" ucap Tuan Chase setelah lumayan lama memperhitungkan angka yang tepat.
"Anda yakin?" tanya Ayaz, ia sama sekali tidak keberatan dengan angka yang baru saja Tuan Chase sebutkan.
Tuan Chase tampak berpikir lagi, setelah beberapa menit kemudian mengangguk setuju.
"Saya akan mengurusnya!" ucap Rymi cepat dan tepat.
Tuan Chase mengangguk lagi, lalu Rymi memintanya untuk ikut bersama, Rymi akan mengurus segala pemindahan hak milik hotel Sona Blue Hotel.
Ayaz mengangguk, mereka berpisah, Ayaz mempercayakan semuanya pada Rymi, kemudian ia menghubungi Marco untuk mengantarkan Yaren menuju Sona Blue Hotel, karena jika Ayaz yang pergi menjemput Yaren di rumah, hal itu pasti tidak akan keburu.
Hampir satu jam Ayaz menunggu, transaksi juga sudah selesai, untuk rapat aset atau semacamnya Ayaz mengatakan untuk dijadwalkan besok saja dan Tuan Chase pun menyetujuinya.
Tapi Tuan Chase menyergit heran kala mendengar satu permintaan Ayaz lagi, Ayaz meminta sebuah undangan dari salah satu rekan bisnisnya yang juga kebetulan sedang mengadakan resepsi pernikahan anaknya tepat hari ini di hotelnya.
Namun karena ia sudah melakukan kerja sama dengan Ayaz, maka hanya sebuah undangan baginya bukanlah apa-apa, ia mengambil surat undangan itu yang kebetulan berada di ruangannya dan lalu memberikannya langsung pada Ayaz.
"Terimakasih!" ucap Tuan Chase sekali lagi, ia tidak menyangka bisa menjual hotelnya hari ini dengan harga yang fantastis.
"Ini sebuah kerja sama, sudah seharusnya kita saling menguntungkan!" sahut Ayaz, kemudian tanpa terlihat oleh Tuan Chase ia tersenyum smirk, semuanya kini sudah berada di genggamannya.
Nyatanya, hasil uang haram selama ia bekerja dengan Marco memang sudah ia pergunakan dengan sebaik-baiknya.
Tak lama, Ayaz melihat ponselnya yang berdering, Marco mengatakan mereka sudah berada di loby.
Ayaz segera menjemput Yaren, namun sebelum itu ia menyuruh Rymi untuk mempersiapkan penampilannya dan Yaren. Rymi lagi-lagi harus tersenyum kecut, di sini Ayaz yang ingin membalas dendam namun lagi-lagi dirinya juga yang harus dilibatkan. Mana sebagai pesuruh, gila saja Ayaz semakin lama.
"Sebenarnya kau ini tidak bisa hidup tanpa Yaren atau tanpaku? Kenapa sedikit-sedikit Rym, sedikit-sedikit Rym sih?" kesal Rymi sudah sampai ke ubun-ubun.
Flashback off.
__ADS_1
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...