Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Maafkan aku!


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?" Marco bertanya pada Rymi yang sedang terduduk di lantai. Ia mendengar kabar, anaknya itu sedang dilakukan tindakan operasi, satu-satunya jalan yang dikatakan bisa menyelamatkan putranya itu.


Marco, pria itu sudah sangat yakin sekali, Ayaz memang benar-benar anak kandungnya.


Rymi mengusap air matanya, "Dia tidak akan mati hanya karena luka pedang!" ucap Rymi. Berkata demikian semata-mata hanya untuk menguatkan hatinya.


Marco mengangguk, matanya terpejam, sungguh ia berharap Ayaz bisa melewati semua ini. Masih banyak yang belum dirinya katakan pada Ayaz, masih banyak yang belum bisa dirinya lakukan untuk anaknya itu, jangan mati terlalu mudah, hiduplah lebih lama lagi, menemaninya ataupun harus mencacinya lebih banyak.


Marco akan terima itu, meski ia harus bertarung melawan anaknya sendiri, ia sama sekali tidak menyesal, malah dirinya menantikan itu.


"Di mana wanita itu?" tanya Marco.


"Dia sudah ku suruh istirahat, sudahlah Dad, Ayaz tidak akan senang jika Daddy menyalahkan istrinya atas semua yang terjadi." sahut Rymi.


"Tapi Rym!"


"Dad!" berang Rymi. Matanya mendelik tajam pada ayah angkatnya itu.


"Jangan kekanakan! Ayaz sedang berjuang di sana untuk hidup, jika menyalahkan Yaren bisa membuat Ayaz kembali sehat sedia kala, maka aku yang akan memakinya lebih dulu!"


Marco mengangguk, ia memalingkan wajahnya, enggan menatap putrinya itu, seperti inilah dirinya, manusia yang egois, yang dibesarkan dengan keegoisan, mencontoh segala hal yang menunjukkan betapa egoisnya dunia. Marco juga tidak bisa menyalahkan dirinya, sifat tidak pernah pedulinya memang kadang sering kali membuatnya menjadi manusia paling buruk.


"Aku sudah... Membawa pria itu ke markas, kau mau bertemu?" tanya Marco.


Rymi memejamkan matanya, "Daddy saja, atau langsung saja bunuh orang itu." sahut Rymi.


Marco mengangguk, ia mengisyaratkan Rymi untuk menjaga Ayaz, "Selalu kabari aku jika ada perkembangan, kau..."


"Tuan Marco!"


Pintu terbuka, dokter yang sedang mengoperasi Ayaz melangkah mendekat ke arah Marco.


"Ya!"


"Apa kalian bisa mencarikan darah RH- AB? Pasien membutuhkannya!" tanya dokter itu.


"Daddy!"


"Ambil saja darahku Mike, darahku sama dengan Ayaz!" ucap Marco pada dokter yang diketahui bernama Mike itu.

__ADS_1


Dokter itu mengangguk dan menyuruh Marco untuk segera menuju ruangan lain untuk melakukan transfusi darah.


...***...


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Tuan Donulai, anak angkatnya itu mengalami luka di kepala bagian belakang, mendapat kabar bahwa Sam diculik, kesehatan jantungnya sedikit memburuk, namun ia mencoba menahan itu, apa lagi, Sam mengatakan Ayaz lah yang menyelamatkannya.


Sudah lama dirinya tidak mendengar kabar keturunan asli keluarga Donulai itu.


"Seperti yang Ayah dengar, aku diculik dan Ayaz yang menyelamatkanku?" jawab Sam.


"Apa dia tidak menungguimu di sini? Bukankah kau pernah mengatakan kalian berdua adalah sahabat?"


"Ayaz harus mengurus sesuatu sepertinya, lagi pula aku tidak sadar tadinya, tiba-tiba saat terbangun aku sudah berada di ruangan ini." jelas Sam.


"Lalu? Kau tau siapa yang menculikmu?"


Sam mengangguk, "Dia Sian, Ayah tiri Ayaz!" jawab Sam.


"Bajingan itu!" geram Tuan Donulai.


"Dia bertindak lebih cepat dari dugaan kita, bahkan kita baru saja menyetujui kerja sama yang diajukan perusahaannya, tapi siapa sangka dia sudah bertindak lebih dulu!"


"Lalu, apa rencanamu?"


Tapi entah mengapa, apapun yang keluar dari mulut Rymi tentang Ayaz, selalu saja mencoba dirinya yakini.


Ah wanita itu, sebenarnya wanita seperti apa Mervenya itu?


"Ayah!" seru Sam.


"Ya!"


"Aku hanya mendengar kabar lewat telpon saat orang suruhan Ayaz yang menjagaku di sini tadi. Istrinya Ayaz, mungkin telah terjadi sesuatu dengan istrinya Ayaz." ucap Sam.


"Istrinya Ayaz?"


"Seseorang yang menjagaku tadi, terlihat seperti panik saat mendengar kabar dari Ayaz, di langsung bergegas menuju lokasi yang sudah Ayaz kirimkan?"


"Apa kau tau lokasinya? Kau bertanya?"

__ADS_1


Sam menggeleng pelan, "Sayangnya tidak, maksudku, aku sudah bertanya, tapi seseorang itu tidak berniat untuk menjawabnya, dan aku sungguh menyesal dengan kondisiku saat ini." jawab Sam beralasan, padahal yang sebenarnya ia telah bungkam dengan jawaban Rymi yang menyuruhnya untuk mengurus dirinya sendiri, tidak perlu mengurusi wanita itu.


Aaiishh, dasar wanita gila!


Tuan Donulai tertunduk kecewa, jika yang mengatakan itu bukan Sam, mungkin sudah habis diteriakinya, dipukuli tidak peduli akan kesakitan, karena baginya sudah gagal dalam mengumpulkan informasi.


"Tidak apa, pulihkan saja kondisimu!" ucap Tuan Donulai.


...***...


Yaren sedang berada di sebuah kamar, di nakas sudah tersedia makanan dan minuman untuk dirinya mengisi tenaga, namun Yaren sama sekali tidak berniat untuk menyentuhnya.


Di sebuah ranjang juga sudah tersedia pakaian yang bersih untuk dirinya berganti pakaian, namun Yaren memilih untuk tidak melakukan apapun.


Luka di kepalanya baru saja selesai di obati, tempat yang dirinya tinggali ini benar-benar tidak kekurangan apapun.


Ia terduduk di lantai, matanya sayu, pikirannya tidak bisa lepas dari bagaimana suaminya. Ayaz, di sana sedang berjuang untuk hidup.


Air matanya sudah kering ia tumpahkan, meratap pun tiada guna, di sisi lain Yaren tidak bisa berhenti untuk menyalahkan dirinya sendiri, andai dirinya tidak seceroboh itu!


"Hiks hiks, ini salahku kan!" ratap Yaren. Lagi dan lagi, sulit sekali untuk menghentikannya meski Yaren juga merasa percuma.


"Ayaaazzz..." serunya.


"Jangan tinggalkan aku, aku menyanyangimu, sungguh aku menyangangimu... Tidak, aku juga mencintaimu, aku menyayangimu, sangat mencintaimu..."


"Kau yang brengsek, kau yang bajingan, tapi aku tetap menyayangimu..."


"Ayaz, aku berjanji, meski apapun yang dikatakan orang gila itu tadi benar, percayalah... Aku hanya akan mempercayaimu, aku percaya kau tidak sejahat itu, yah... Benarkan Ayaz, aku berjanji akan selalu bersamamu, aku berjanji..."


"Kau bisa memegang kata-kataku, sungguh, aku tidak kecewa, aku sama sekali tidak kecewa meski kau benar-benar seorang penjahat sekalipun!"


Yaren semakin mengeraskan tangisnya, benarkan, meratap seperti ini pun tiada gunanya, Rymi belum juga memberikan kabar baik padanya.


"Aku tau...!" Yaren tersenyum samar, "Kau pasti akan menyelamatkanku, dia berbohong mengatakan kau tidak akan peduli padaku, hiks hiks, buktinya kau datang untuk menyelamatkanku! Ayaz... Maafkan aku, maafkan aku!"


Yaren, wanita itu bagai orang yang sudah setengah gila, ia juga tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan hidup Ayaz.


Membayangkan pedang itu bahkan tembus melalui perut Ayaz, Yaren menangis lagi, tangannya gemetar, ia takut... Takut akan kenyataan yang tidak ingin dirinya dengar!

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2