Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Aku ingin pizza!


__ADS_3

"Gila saja!" umpat Rymi, saat ini wanita itu sedang berada di mobilnya, mengemudi untuk menuju suatu tempat.


Ia masih kesal setengah mati dengan Jovan, keputusan Ayaz yang membiarkan Jovan hidup waktu itu nyatanya tidak berguna sama sekali menurutnya.


Jovan terlalu takut untuk membaur dengan mereka, jika suatu hari nanti mereka benar-benar berakhir maka tepat sekali jika Jovan tidak akan pernah ada niatan untuk menolong mereka, mungkin pria itu akan dengan senang hati pergi dengan membawa adiknya itu, seseorang yang sayangnya juga sangat dicintai Ayaz.


Dia sebenarnya sudah menentang keputusan Ayaz waktu itu, namun Ayaz mengatakan bisa memanfaatkan Jovan dengan kekayaannya, tapi nyatanya untuk yang mereka lakukan ini, kaya saja tidak cukup.


Sulit untuk mempercayai orang baru, apa lagi manusia yang dianggapnya suci seperti Jovan. Rymi menyadari semuanya begitu pelik.


"Aisshhh!" keluhnya.


...***...


Dengan berat hati Marco mengeluarkan beberapa lembar uangnya untuk mengganti rugi dagangan pria yang sedang menatap tajam padanya ini.


Ia mendengus kesal atas apa yang menimpanya, hari ini bolehkah ia mengatakan kalau ia benar-benar sedang sial.


"Maafkan aku!" ucap gadis itu.


Marco menatapnya, lalu tersenyum tidak ikhlas.


"Tuan, bagaimana saya bisa mengganti uang sebanyak itu? Apa kiranya Tuan punya pekerjaan untuk saya?"


"Tidak perlu!" jawab Marco cepat, setelah hari ini ia berharap untuk tidak bertemu lagi dengan wanita ini, menggelikan sekali baginya.


"Tapi kita tidak bisa berpisah seperti ini kan? Aku akan merasa seperti berhutang budi!" lanjutnya.


Marco semakin tajam menatap wanita itu, "Harusnya kau berpikiran begitu sebelum aku merelakan diriku ini untuk bertanggung jawab atas kesalahanmu, hingga aku tidak perlu repot-repot memberinya uang sebagai ganti rugi, seharusnya bisa kan? Tapi sayangnya tidak kau lakukan?" delik Marco.


"Tuan..."


"Lupakan hari ini, dan anggap saja aku sedang sial!"


"Tapi Tuan... Bagaimana bisa? Maksudku... Aku akui aku tidak punya uang untuk mengganti rugi, tapi aku juga tidak bisa melepaskan diri begitu saja dengan menerima begitu saja bantuanmu, jadi Tuan... Biarkan aku bertanggung jawab, kau bisa mempekerjakanku, asalkan tidak mengganti uang dengan uang, apapun akan aku lakukan!" wanita itu bersikeras dan terlihat begitu yakin.


Marco menggelengkan kepalanya, "Keras kepala!" umpatnya.


Marco maju untuk mengikis jarak, "Anggap saja aku sedang bersedekah dengan orang yang serba kekurangan, kau bisa melepas perpisahan ini dengan tenang, aku tidak butuh balasan darimu, jadi jangan menganggap kau bisa melakukan apapun!" ucapnya tepat di hadapan wanita itu.

__ADS_1


Mendengar itu, wanita itu memundurkan langkahnya tanpa persiapan, ia benar-benar tidak menyangka Marco akan mengatakan itu padanya.


Apakah ia sehina itu? Walau perlahan dirinya juga mengakui dan mengangguk setuju, yah dirinya ini memang benar serba kekurangan.


Air matanya sedikit menganak, tangannya juga sudah terkepal, ia ingin marah namun bukankah sangat tidak pantas saat kenyataannya benar begitu malah ia seolah menolak takdirnya.


Marco berlalu pergi, ia tidak ingin berlama-lama berada di luar, entah kesialan apa lagi yang akan menimpanya.


...***...


Ayaz mendapatkan panggilan telepon, seseorang mengabarkan padanya bahwa dirinya tidak bisa berlama-lama berada di Itali, apa yang dirinya lakukan waktu itu sudah sampai tepat pada waktunya, jika ia tidak mengawasi dengan sendirinya takutnya ada sesuatu yang tidak sesuai rencana mereka.


Ayaz mengatakan pada Yaren kalau mereka harus segera pulang ke tanah air, Ayaz mencoba memberikan pengertian sebaik mungkin supaya Yaren tidak mencurigainya.


"Apa benar tidak terjadi sesuatu?" tanya Yaren untuk yang ke sekian kalinya.


"Tidak sayang, kenapa? Aku hanya ingin pulang, di sini rasanya sedikit menyesakkan." jawab Ayaz beralasan.


Untungnya kemarin saat di pemakaman Daslah Donulai, Yaren melihat gambaran wajah Ayaz yang tidak menyenangkan, hal itu juga membuat Yaren berpikir bahwa mungkin Ayaz tidak ingin berlama-lama berada di Itali, karena Donulai.


Yaren menggenggam tangan suaminya erat, "Apapun yang terjadi, apapun pilihanmu, aku akan selalu mendukungmu, kita akan selalu bersama-sama, Ayaz... Jangan pernah berpikiran untuk meninggalkanku, karena aku tidak akan pernah meninggalkanmu!" ucap Yaren, ia mencoba memahami posisi Ayaz.


"Aku tidak akan meninggalkanmu!" Ayaz tertunduk, meski terdengar yakin dari perkataannya namun hatinya sungguh meragu, jauh dalam lubuk hatinya ia begitu takut, takut akan meninggalkan Yaren dalam keadaan dirinya hidup ataupun mati, dan juga takut Yaren meninggalkannya karena Ayaz menyadari, dirinya bukanlah orang yang pantas untuk dicintai.


Bahkan besok dirinya juga tidak tau, apa yang akan terjadi pada hidupnya ini. Berharap Tuhan memberinya kebahagiaan lebih lama lagi, sedikit lama lagi, ia akan sebisa mungkin membuat Yaren bahagia sebelum Tuhan mengakhirinya.


Keduanya lalu berpelukan, larut dalam pikiran masing-masing namun satu hal yang sama, keduanya saling mengkhawatirkan.


Kau yang pertama, membuatku merasa di cintai, membuat sebuah pemahaman baru untuk aku yang tidak punya arah tujuan hidup selain membalaskan dendamku ini, kau membuatku memahami, bahwa dengan melihat kau bahagia maka itulah tujuan hidupku, aku akan membahagiakanmu di seluruh hidupku, meski aku akan mati nanti tapi setidaknya sudah berjuta kali ku berikan kebahagiaan dalam hidupmu selama kebersamaan kita, tak akan aku biarkan kau punya keluhan karena menjadi istri dari seorang penjahat sepertiku! -Ayaz.


Apapun akan aku lakukan, untuk mendampingimu, tidak peduli kau orang yang seperti apa dan bagaimana, karena bagiku kau tetaplah suamiku, orang yang telah memilihku untuk menjadi pendamping hidup, tak akan kubiarkan rasa kecewa hinggap dalam pandanganmu tentang diriku ini, percayalah janjiku, aku akan melakukan yang terbaik sebisaku untuk membahagiakanmu, sekalipun aku harus mendukung sebuah kejahatan. -Yaren.


"Kau menangis?" tanya Ayaz saat keduanya sudah melepas pelukan, tangan Ayaz dengan lembut terulur mengusap air mata Yaren yang jatuh.


"Karena kau terlihat jelek saat menangis begini, jadi sepetinya aku lebih menyukaimu tersenyum!" ucap Ayaz mencoba menghibur Yaren.


"Ayaz..." ucap Yaren tidak percaya, bisa-bisanya Ayaz sempat menggodanya di tengah moment haru begini. "Hiks hiks!" Yaren semakin mengeraskan tangisnya.


"Eehh?" bingung Ayaz, Yaren tidak tertawa karena ucapannya barusan, malah semakin menangis. Pria itu akhirnya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Apa ada yang salah dengan kata-kataku?" tanya Ayaz.


Sayang sekali, sepertinya niat untuk menghibur sang istri malah tidak sesuai harapan.


Yaren menggeleng pelan, ia menangis karena semakin terharu. Namun sayangnya ia salah dalam mengungkapkan ekspresinya, air matanya terus saja mau keluar.


"Lalu?"


"Hiks hiks!" Yaren masih menangis.


"Yaren... Ada apa?" tanya Ayaz, ia mulai kacau, apa perkataannya yang mengatakan Yaren jelek tadi membuat istrinya itu tersinggung?


"Kau marah karena..."


Yaren langsung saja menggeleng, jangan sampai Ayaz mengiranya ia terlalu mengambil hati.


"Tidak!" ucapnya langsung.


"Lalu kenapa? Kenapa menangis?"


"Ayaz..."


"Ya! Ada apa? Katakan!"


"Aku... Aku..."


"Kenapa?"


Yaren bingung harus menjawab apa, ia terharu karena Ayaz yang menggodanya, tapi haruskah ia mengatakan itu.


"Kenapa?" cerca Ayaz lagi.


"Aku..."


Ayaz mencoba menyimak.


"Aku... Aku, aku ingin pizza!" ucap Yaren spontan.


**Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, dan Vote**!!!...


__ADS_2