Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Bisakah kita mewujudkannya suatu hari nanti?


__ADS_3

“Sam cepatlah!” Pekik Rymi dari luar.


Sam tersadar dari keterkejutannya, meski ia tidak percaya akan apa yang baru saja keluar dari mulut Ibunya, meneriaki dan memohon seolah sangat tersakiti, Sam menyadari saat ini Ibunya itu sedang tidak baik-baik saja.


Sam bergegas membukakan tali pengikat itu, namun dirinya tidak bisa melepaskan rantai yang membelit kaki Ibunya, Sam langsung saja mengangkat tubuh Ibunya itu untuk dipindahkan ke dalam mobilnya.


Erra berteriak, memohon untuk Sam menjauh darinya, namun Sam merasa ia sudah melakukan hal yang terbaik.


Erra, dengan sisa tenaganya, mencengkram erat kerah kemeja Sam, ia mencoba melawan dan juga berharap Sam akan berbelas kasih padanya.


Rymi melirik itu, ia tersenyum smirk pada orang kepercayaan Amla, dengan ujung pistol yang masih ditodongkan ia berucap, “And then, kau berhak mendapatkan kesempatan, anggap saja aku sedang berbaik hati, jika saja kau tidak terlalu setia!”


“Aa apa? Apa maksudmu?” gugup pria itu.


“Masuk!” titah Rymi.


Pria itu menurut, namun meski takut dalam hatinya masih berkobar untuk melawan Rymi, ia tidak percaya akan kalah dengan seorang wanita.


Pria itu duduk di samping kemudi, bertukar posisi dengan Rymi, Rymi menyimpan kedua pistolnya dan saat itu pria itu merasa ada kesempatan untuk melawan.


Ia hendak menyerang Rymi dengan pukulan tangannya, namun mata elang Rymi lebih dahulu menangkap pergerakan itu, “Tap!” Rymi memegang tangan pria itu cepat. Kemudian tangan satunya pria itu tidak kalah cepat mengayun lagi untuk menyakiti Rymi, namun lagi-lagi “Tap!” tangan itu berhasil dihentikan oleh tangan Rymi. Mata keduanya bertemu, Rymi geram akan orang yang sudah diberi peringatan namun masih juga bertingkah. “Kau membuang kesempatanmu dengan sia-sia Tuan, seharusnya kau tau, aku tidak suka bermurah hati!” ucapnya dingin.


Pria itu ingin melepaskan diri, namun pertahanan Rymi cukup kuat, jangan lihat tenaga dari bentuk tubuh saja, karena jika melihat Rymi maka kalian akan dengan mudah tertipu.


Penampilan anggun itu, sebenarnya begitu brutal jika sudah bertindak, dan tenaga itu akan kuat dengan sendirinya seiring berjalannya waktu menghadapi kerasnya dunia.


“Lepaskan aku!” pinta pria itu.


“Apa? Kau bilang apa? Aku tidak dengar!” ledek Rymi, “Hei Tuan, apa kau benar-benar seorang pria? Setahuku, seorang pria tidak memohon untuk dilepaskan, apa lagi hanya pada seorang wanita!”


“Sialan kau!” geram pria itu.

__ADS_1


“Siapa kau sebenarnya?” tanyanya lagi.


“Kau mau tau siapa aku?”


“Lepaskan bodoh!” teriak pria itu.


“Sudah kubilang jangan membuatku kesal, namun kau tampaknya lebih menyukai kematian!” geram Rymi.


Bodoh, gila, seenaknya saja orang mengatainya, belum tau saja dia siapa!


“Aku berniat menawarkan kerja sama, tapi sepertinya kau cukup setia, jadi aku bisa apa?” keluh Rymi.


Lalu tangannya melepaskan tangan pria itu, ia mulai beralih pada kemudi, ingin menghidupkan mobil dan mencoba berdamai.


Tapi lagi lagi, “Dorrr!” Rymi tidak bisa menahan kesabarannya, sudah ia katakan bukan jangan melawan padanya. Ia sedikit sulit untuk mengendalikan emosi, jadilah seperti ini.


Sebuah peluru tepat mendarat di jantung pria itu, saat pria itu hendak menyerangnya lagi, satu tangan Rymi dengan cepat mengambil pistol yang belum ia simpan dengan sempurna itu dan menembak tepat dijantung pria itu.


“Aku sedikit menyesal, aku harus membunuh orang lagi kan! Aisshh, padahal aku sedang menikmati masa liburku, dan kau mengacaukan semuanya!” ucap Rymi tanpak kecewa pada pria itu di detik kematiannya.


“Beristirahatlah dengan tenang, ketika kau sampai di neraka nanti, aku harap kau tidak mengadukan perbuatanku ini pada Tuhan, jangan bawa-bawa namaku, aku melakukan ini karena kau yang menginginkannya tadi!”


Rasa kesal bahkan di detik-detik kematiannya pun akhirnya pria itu rasakan, bahkan wanita yang awalnya ia anggap remeh itu terlihat tidak sedikitpun menyesal telah membunuhnya. Benar-benar psikopat.


Rymi membawa mobil itu dengan tenang, di ikuti Sam dari belakang, ia akan membawa Ibunya Sam dan pria yang sudah mati itu ke markas. Rymi harus mengurus semuanya.


 


...***...


Pagi menjelang, Yaren merasakan berat di tubuhnya, ia mengerjap perlahan, benar saja ada sebuah tangan kekar yang menimpanya, ia menoleh dan mendapati Ayaz tengah tertidur pulas sembari memeluknya.

__ADS_1


“Ayaz...” serunya membangunkan sang suami.


Ayaz menggeliat, rasanya baru sebentar saja ia tertidur namun mengapa sudah dibangunkan, apakah pagi sudah datang?


Ayaz mengerjapkan matanya, ia sedikit mengucek matanya kala kornea mata kepunyaannya itu bertemu dengan cahaya terang dari sinar matahari yang masuk dari ventilasi kamar. Oh, pagi mengapa kau datang begitu cepat? Keluhnya.


Lalu ia melihat sang istri yang tersenyum manis padanya, hal ini setidaknya tidak dirasainya dua hari kemarin, melihat ini membuat kekesalannya akan pagi berangsur hilang. Yaren benar-benar ajaib bisa menenangkannya.


“Selamat pagi sayang!” ucapnya, bibirnya kemudian mengecup singkat bibir Yaren, “Morning kiss!”


Yaren tidak menolak, merasa itu adalah sebuah lampu hijau karena Yaren yang mungkin tidak marah lagi padanya, Ayaz mengulangi tingkahnya tadi, ia kembali mengecup bibir Yaren, mengecupnya berkali-kali, ia sungguh senang melakukannya.


“Ayaz hentikan!” Yaren merasa geli, namun tiba-tiba Ayaz memeluknya erat, Ayaz benar-benar terlihat antusias.


“Jangan begini! Jangan seperti kemarin lagi sayang, aku benar-benar tidak kuat!” ucapnya.


Yaren mengernyit heran, apa dia sudah keterlaluan kemarin?


“Aku hanya perlu waktu untuk memahami, karena masalah yang sedang kita hadapi ini bukan sesuatu yang mudah untuk diputuskan, aku perlu memantapkan hati, perlu menimbangnya berkali-kali, harus melakukan apa? Bagaimana jalan terbaik untuk menghadapi ini? Apakah ada sebuah solusi yang setidaknya bisa sama-sama meringankan beban dari semua yang terlibat? Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri dan membuat diriku benar-benar mengerti bahwa keadaannya sudah sampai ditahap apa, jika pun... Tidak ada yang bisa kulakukan selain menurut akan kemauanmu, aku hanya perlu menguatkan hatiku, dan mencoba lebih-lebih mempercayaimu!” ucap Yaren, bulir air mata akhirnya meluruh juga seiring dadanya yang sebak sesak saat ia mengatakan itu pada Ayaz, semalaman ia memikirkan bagaimana caranya untuk bisa kuat menghadapi situasi ini.


Supaya ia dan Ayaz tetap bisa bersama, selamanya!


Supaya, tidak ada hati yang terlalu sakit, dan mereka juga tidak terlalu menyakiti.


Meski pemikirannya hanya akan berkutat di titik itu saja, namun setidaknya ia bisa menjadi lebih yakin bahwa Ayaz benar-benar mencintainya kali ini, yah... Bolehkah ia berpikir begitu?


“Aku harap! Setelah ini, kau benar-benar berhenti!” Yaren membelai lembut pipi Ayaz, ia sesegukkan menangis, tangis bahagia dan juga tangisan kepedihan, “Aku hanya membutuhkan dirimu, tidak menginginkan apapun! Aku memimpikan sebuah keluarga yang bahagia bersamamu! Aku harap, kau bisa mewujudkan impian yang bagi orang sangatlah sederhana ini, tapi bagi kita mungkin akan banyak yang kita hadapi untuk mewujudkannya, aku juga merasa bahwa mimpiku, kehendakku ini begitu berat untuk kita, tapi... Ayaz, bisakah kita mewujudkannya suatu hari nanti?”


 Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2