Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Rym, bagaimana jika...


__ADS_3

^^^"Apa kau baik-baik saja?"^^^


Ayaz mende*ah berat, matanya terpejam untuk menguatkan sang hati, ini bukan lagi tentang Marco yang tiba-tiba mengungkapkan hal yang tidak ingin dirinya dengar, namun kali ini saat Rymi tiba-tiba saja menelponnya dan dengan suara bergetar menanyakan kabarnya, ia bisa menebak kalau mungkinkah selama ini Rymi sudah mengetahui segalanya, bukankah itu berarti selama itu juga Rymi menyembunyikan sesuatu darinya.


Ia bisa membaca itu, Ayaz bukanlah orang yang mudah untuk dibohongi, meski Rymi sudah berhasil menipu berbagai targetnya dalam setiap misi, namun Ayaz tidak termasuk orang-orang yang bodoh itu. Ia cukup handal dalam membaca situasi.


"Ya, Yaren baru saja tertidur, aku baru saja keluar, Jovan menggantikanku menjaganya, aku akan pulang ke rumah sebentar, melihat bagaimana kondisi rumah kami."


^^^"Syukurlah! Ayaz, kau harus menjaga dirimu... Maksudku, menjaga dirimu dan Yaren juga."^^^


"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan membiarkannya dalam bahaya lagi, aku tidak akan lalai lagi."


^^^"Hemmm, kau..."^^^


"Rym, sudah yaaa, aku akan pulang sebentar, sementara Yaren tertidur dan Jovan menjaganya, aku harus segera pulang."


^^^"Ya baiklah! Hati-hati!"^^^


Ayaz menutup panggilannya, lagi dan lagi dadanya sakit menahan sesak, jadi selama ini orang yang sangat dirinya percayai juga sudah mengetahui kebenarannya, namun Rymi bertingkah seolah tidak mengetahui apapun.


Lucunya Ayaz benar-benar merasa dipermainkan.


Ayaz menatap dari jendela kaca tempat ruang perawatan istrinya, di dalam sana juga ada Jovan yang menemani Yaren, bolehkah ia merasa beruntung, setelah mengetahui kebenaran tentang dirinya yang sangat dianggapnya begitu sakit, namun setidaknya Ayaz bisa sedikit berlega hati, karena Yaren memiliki seseorang yang begitu mencintainya, Jovan. Ayaz yakin pria itu pasti akan menjaga istrinya dengan baik jika ia benar-benar menghilang nantinya.


"Keputusanku membiarkan Jovan hidup saat itu juga pasti karena sebab takdir, karena jika tidak entah aku harus berharap pada siapa untuk menitipkanmu suatu hari nanti."


"Kau menemukan dia, seseorang yang sangat menghargaimu, dia bahkan rela membalaskan semua rasa sakit yang kau tanggung bertahun-tahun lamanya itu, dia hebat Yaren, aku sedikit tenang saat melihat dia yang begitu baik memperlakukanmu!"


"Ayaz!" panggil seseorang, Ayaz menoleh dilihatnya Dokter Mike yang seperti baru saja hendak masuk ke ruangan rawat Yaren.


"Ya!" sahut Ayaz.

__ADS_1


"Mengapa tidak masuk?" tanya Dokter Mike. Ia menatap curiga pada Ayaz, dilihatnya raut wajah yang seperti tertekan itu. "Yaren tidak apa, ini akan berangsur membaik, dia hanya butuh ketenangan." ucap Dokter Mike, yang semakin mengira Ayaz mungkin terlalu mengkhawatirkan Yaren istrinya.


"Iya, aku tau, aku hanya merasa aku bukanlah suami yang baik sehingga istriku harus mengalami hal semacam ini." ucap Ayaz beralasan, meski juga tidak sepenuhnya berbohong.


"Hal semacam itu wajar saja terjadi dalam rumah tangga, yang terpenting sebisa mungkin kau harus selalu ada untuknya, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, aku bisa melihat istrimu orang yang sangat baik hati, dia akan bersedih jika melihatmu begini." ucap Dokter Mike lagi.


Ayaz menunduk dalam, ada suatu hal yang sebenarnya lebih membuatnya menyalahkan dirinya sendiri dari pada perihal apa yang terjadi pada Yaren.


Mengapa ia tidak bisa membenci Marco? Ayaz menyalahkan dirinya sendiri yang sepertinya sudah terlalu dekat dengan pria paruh baya itu, hingga ia bagai tidak bisa melepas hubungan itu begitu saja.


...***...


Dua jam kemudian,


Marco menatap tubuh Sian yang terikat oleh kawat besi, tubuh itu sepetinya benar-benar sudah sekarat.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Marco, matanya tidak teralihkan namun ia benar-benar bertanya serius pada anak angkatnya itu.


"Apa dia benar-benar tidak mendengarnya? Lalu, mengapa dia seolah terkejut diambang pintu tadi?" Marco bergumam, ia cukup heran akan sikap yang ditunjukkan Ayaz.


"Aku tidak berada di sana saat kejadian, jadi aku juga tidak bisa membantu banyak." sahut Rymi tanpa diminta.


"Daddy, sebaiknya kau segera jujur, entah Ayaz tadi mendengarnya atau tidak, sebelum semuanya terlambat kau benar-benar harus sesegera mungkin jujur mengenai hubungan kalian yang sebenarnya." saran Rymi.


"Rym, kau pasti sangat mengenalku, aku tidak pernah takut akan apapun, namun kali ini aku benar-benar takut, bukan takut jika saja Ayaz akan membunuhku, tapi aku sangat takut kalau Ayaz tidak bisa menerimaku." ungkap Marco.


"Daddy, ketakutanmu tidak akan menyelesaikan masalah ini, kalau bukan kau yang mengatakannya apa Daddy ingin Ayaz mengetahuinya dari mulut orang lain?"


Marco menggeleng pelan, ia lebih tidak ingin itu terjadi, entah kapan waktu yang tepat namun benar kata Rymi, dia harus mengatakan sebuah kebenaran ini.


"Dia, aku tidak ingin kehilangannya Rym."

__ADS_1


"Dad, oke! Kita bisa saja menganggap Ayaz belum mengetahui itu, anggap saja dia tidak mendengar apapun, tapi bagaimana jika keadaan malah sebaliknya?"


"Bagaimana jika saat ini Ayaz sedang menahan gejolak amarahnya, bagaimana jika Ayaz saat ini sedang menatap kecewa padamu. Apa kau akan sanggup membiarkan itu semakin lama?" tanya Rymi.


"Rym!" seru Marco, "Apa kau berpikir terlalu jauh, atau apa mungkin Ayaz memang sedang dalam kondisi seperti itu? Bagaimana bisa dia bersikap seolah tidak tau apapun?"


"Daddy, sebenarnya aku bisa membaca ini, Ayaz hanya melakukan apa yang sedang Daddy lakukan padanya, berpura-pura tidak mengetahui apapun!"


Marco memandang Rymi, benarkah begitu? Ah iya, jika Ayaz benar-benar melakukan itu, hal itu juga sama saja dengannya, Marco yang bersikap bagai tidak mengetahui apapun, bedanya yang ada dalam diri Marco hanya sesal, sementara Ayaz mungkin saja sesal dan juga kemarahan.


"Aku benar harus meluruskan semuanya, sebelum lukanya menyebar menjadi lebih luas." ucap Marco.


"Dad, apapun keputusanmu, aku akan mendukung itu, dan juga apapun tanggapan Ayaz, percayalah kalau semua itu tidak mudah dilaluinya, saat mengetahui kalau Ayaz adalah anakmu, bukankah Daddy sudah membaca semua tentang Ayaz dari informasi yang diberikan Tuan Raihan, aku hanya berharap Daddy bisa mengerti dan sedikit bersabar lagi."


"Rym, aku sama sekali tidak takut meski sekalipun Ayaz ingin membunuhku, tapi aku benar-benar takut Ayaz akan pergi." ucap Marco, lagi dan lagi mengatakan ketakutannya, sesuatu yang mengganjal dan selalu saja membuatnya dilema saat ingin berkata jujur terhadap Ayaz.


"Daddy, yakin saja Ayaz bukanlah orang yang seperti itu." ucap Rymi menenangkan.


"Rym, kau tidak akan meninggalkanku kan? Meski kau suatu hari nanti mengetahui bagaimana masa lalumu?" tanya Marco, jika kali ini dia harus kehilangan Ayaz karena Ayaz yang mungkin saja tidak menerima kehadirannya, ia sungguh berharap Rymi akan terus berada di sisinya, hanya Rymi lah harapan masa tuanya.


"Daddy ini bicara apa? Kau tidak pantas mengatakan itu, mengapa begitu lemah saat mengetahui punya anak kandung?" tanya Rymi sungguh gemas.


"Hemmm!" tanggap Marco seadanya.


Hening, Sian yang tersiksa pun juga enggan membuka matanya.


"Rym, bagaimana jika kau menikah dengan Rangga?" tanya Marco tiba-tiba.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2