
"Apa maksudmu? Dia memang benar Samudra Rangga!" jawab Romi.
"Oh ya? Benar kau meyakininya? Atau, hanya berpegang karena aku yang mengatakan dia adalah Samudra?"
"Aku mengenalinya, dia benar-benar Samudra!" sahut Romi yakin.
"Apa jika aku tadi mengatakan bahwa dia bukan anakmu, kau akan meragu?"
"Heh! Pertanyaan macam apa itu?"
"Tuan Romi!" Rymi semakin mendekat, matanya menatap nyalang Romi, "Aku sudah menghadapi orang sepertimu, bahkan ratusan orang seperti dirimu! Aku sungguh tidak peduli jika kau mati sekalipun, tapi sebelum itu kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan pada kakakku!" berang Rymi.
Tangan Rymi terangkat untuk membelai pipi yang dipenuhi jambang itu, "Kau pikir aku cukup murah hati? Jika aku tidak bisa mendapatkan informasi apapun darimu kali ini, kau salah jika aku akan mempertahankanmu!" bisik Rymi, ia menggeleng pelan, lalu dengan cepat tangan yang mulanya membelai lembut itu sudah beralih tugas mencengkram erat rahang Romi.
"Aarrgghh!" erang Romi kesakitan.
"Lepaskan Merve!" pekik Sam panik, ia tidak percaya akan yang dilihatnya, wanita yang ditaksirnya itu mengapa dilihatnya begitu kasar. Bahkan tidak peduli jika yang dihadapinya adalah orang tua sekalipun.
Namun Rymi tidak peduli, ia malah lebih erat mencengkram, kukunya yang tajam kini sudah melukai sebagian rahang Romi.
"Jadi Tuan, jangan menyusahkanku! Mengerti!" ucap Rymi, lalu ia menepuk-nepuk pipi Romi dengan kasar.
"Apa yang Sian katakan padamu?" tanya Rymi langsung.
"Dia mengatakan kalau Samudra adalah anak yang buruk! Bukan begitu?" ucap Rymi lagi.
"Selama tiga tahun belakangan ini, kau hanya mendengar betapa buruknya anak kandungmu?"
"Kau tidak menyangkalnya? Hahahaha!" Rymi tergelak, benar dugaannya, sepertinya memang benar telah terjadi sesuatu.
Rymi mengambil kursi dan menaruhnya tepat di hadapan tubuh Romi yang juga masih terikat.
"Apa yang telah terjadi Tuan? Ceritakan saja, anggap saja kau sedang menunggu kematianmu, kau sedang berada di situasi harus menyelamatkan diri, anggap saja aku penjahatnya, dan kau dengan begitu banyak pertimbangan terpaksa harus beralih memihakku!" ucap Rymi santai.
"Karena jika tidak, entah ini sandiwara atau bukan, kau hanya akan menemui kematian di tanganku!"
Sam, pria itu malah mundur teratur, benarkah ini, wanita gila itu mengapa seperti psikopat yang sedang ingin mengeksekusi lawannya.
__ADS_1
"Katakan! Bukankah kau tidak lagi punya pilihan lain, abaikan saja dia, meski yang kulihat kau sangat ingin membunuhnya." Rymi menunjuk Sam yang dilihatnya sedang memijit pangkal hidung, mungkin Sam sudah pening akan apa yang terjadi.
"Hei kau!" mata Rymi melirik pada Sam, "Apa bagimu kau anak yang buruk?" tanyanya.
"Maksudku, apa kau tidak menyayangi dia?"
"Merve, pertanyaan konyol macam apa itu? Dia adalah ayahku, kau gila!" sahut Sam.
"Ayah, aku tidak pernah mengabaikanmu, menelantarkanmu, kau harus percaya, aku sangat menyayangi kalian." Sam berbicara lagi pada Ayahnya.
"Seharusnya aku menangis melihat ini, tapi aku tidak biasa masuk dalam drama rumah tangga orang lain, Tuan Romi aku sudah berbaik hati mengajakmu bekerja sama, apa kau ingat bagaimana kau bisa berakhir di penjara?" tanya Rymi.
"Tentu saja, orang suruhan dialah yang membawaku dan istriku ke tempat gelap itu. Dia benar-benar durhaka!"
"Hemmm!" Rymi mengambil sebuah ponsel, lalu tangannya dengan lincah menuliskan sesuatu di laman pencarian ponsel pintarnya. "Apa yang kau maksud dengan orang suruhan Samudra bisa sekaya ini? Sian pemilik SN Group, orang kaya nomor lima di negara ini, apa dia begitu putus asa hingga bisa rela saja bekerja dan menjadi pesuruh untuk anakmu ini?" tanya Rymi.
Romi tercengang saat melihat hasil pencarian yang ditampilkan Rymi di ponsel, apa benar begitu? Lalu mengapa Sian berlagak seolah pria itu begitu tidak berdaya.
Jika kau bertemu dengan orang bernama Samudra nanti, apa yang harus kau lakukan?
Samudra... Kau harus membunuh Samudra!
"Meski begitu, sekalipun kau membencinya, aku baru pertama kali bertemu orang tua yang begitu ingin membunuh putra kandungnya sendiri!" sindir Rymi.
Samudra mendongak, ia menatap Rymi, mengapa kata-kata itu terdengar keren baginya.
"Persetan!" umpat Romi.
"Sian akan tertawa jika melihat ini!" sindir Rymi lagi.
"Kau tau, tanpa kau sadari, kau sudah menjadi bonekanya Sian, ckckck!"
"Merve, apa maksudmu?" sambung Sam.
"Apa kau terlalu bodoh, kau tidak mengerti? Aisshh entah apa isi kepalamu itu?" sahut Rymi.
"Kau selalu saja merendahkanku, apa salahnya memberi penjelasan?" gerutu Sam.
__ADS_1
Rymi tidak menanggapi, ia lebih memilih lanjut untuk menyelesaikan masalah itu. "Begini saja Tuan, jika kau jujur akan semua hal yang pernah terjadi, aku bisa diandalkan untuk membawa istrimu, sudah pasti kau ingin bertemu dengannya bukan?" ucap Rymi mencoba bernegosiasi.
"Kau, benarkah kau bisa mengeluarkan istriku?" tanya Romi.
"Yah, semua itu tergantung usahamu!" sahut Rymi santai.
"Di mana Ibu, Ayah bisakah kau katakan di mana Ibu?" tanya Sam cepat.
Romi tidak berniat untuk menanggapi, baginya Sam bukan apa-apa baginya, ia hanya berpegangan pada Rymi.
"Malam itu, kau melukai kakakku, apa yang ada di pikiranmu? Apa seseorang mengatakan kalau orang yang akan datang adalah Samudra?" tanya Rymi, padahal ia hanya menebak saja.
"Iya, benar, istrinya Sian, istrinya Sian mengatakan itu, bahwa yang akan datang adalah Samudra, dan aku memang harus membunuh anak itu." jawab Romi.
"Apa yang dia janjikan?" tanya Rymi. Sam mencoba menyimak, mendengar segala yang Rymi katakan sepertinya bisa berpotensi untuk mengungkap semuanya, apa profesi wanita gila itu adalah seorang detektif pikir Sam.
"Setelah aku berhasil membunuh Samudra, maka aku dan istriku akan bebas, dia jua mengatakan terimakasih karena akulah yang akan menyelamatkan hidup mereka semua, hidup yang berada dalam kuasa seorang Samudra Rangga." jelas Romi lagi.
"Begitu? Dan kau, tidak ada alasan untuk tidak mempercayai ucapannya, benar begitu?"
"Aku hanya ingin keluar dari ruangan gelap itu." sahut Romi.
"Disiksa dan lalu diperdaya, heh!" Rymi menyunggingkan senyumnya, kepalanya menggeleng pelan, rumor mengatakan Sian sungguh kejam itu ternyata benar adanya.
"Aku akan mengatakan padamu!" Rymi menatap Romi serius, dan Romi sepertinya bisa menghargainya kali ini. "Dia adalah anak kandungmu, dia tidak pernah meninggalkanmu, semua yang dikatakan Sian dan istrinya mengenai Samudra itu tidaklah benar, kau tidak mempercayainya? Pelan-pelan saja, kau pasti akan mempercayainya nanti." ucap Rymi.
"Tapi..."
"Jika kau tidak bisa percaya dan masih berpegang teguh pada prinsipmu, bahwa Samudra adalah orang yang buruk, anak yang durhaka, maka tidak akan ada yang bisa kulakukan selain membuatmu percaya meski itu harus kau lakukan dengan terpaksa, yah anggap saja kau terpaksa mempercayainya."
"Karena jika tidak, maka ingat saja wajahku yang tidak suka bermurah hati ini!" ancam Rymi.
Flashback off.
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1