
"Kau menyukainya?" tanya Ayaz, ia menatap Yaren penuh cinta, namun dalam hatinya masih terus saja tertuju pada Donulai, nyatanya ia tidak bisa semudah itu untuk membuang rasa, entah rasa benci atau rasa mulai peduli.
Yaren mengangguk kecil, ia juga tak kalah menatap suaminya itu penuh cinta, ini adalah liburan pertamanya di luar negeri, dan juga mungkin liburan pertamanya saat beranjak dewasa.
Yaren adalah anak rumahan, terlebih Argantara selalu melebihkan kasih sayang untuk Raisa dari pada dirinya, Yaren tau saat dulu ia tidak diperlakukan adil, namun ia diam saja, selama itu bisa membuat Argantara bahagia.
Ia tidak mengapa, baginya kebahagiaan orang tuanya adalah yang terpenting, saat kecil ia melihat Papanya bagai begitu terpuruk di beberapa hari kepergian Mamanya, hal itu juga menjadi bahan pertimbangannya, ia berharap Wana sang ibu tiri bisa membahagiakan orang tua satu-satunya itu.
Meski ia diabaikan, meski ia sering kali menjadi sasaran kemarahan Wana, ia harus menanggung semua itu demi satu orang yang dicintainya.
Lalu, benarkah Ayaz dan Jovan, Kakaknya itu mengatakan bahwa Argantara bukanlah Papa yang baik?
Yaren sebenarnya sedikit meragu, lebih tepatnya mungkin sudah ragu, yang membuat ia lebih tidak percaya adalah saat dirinya meminta pengertian Papanya, mungkin kejadian di hari pernikahannya yang tidak jadi dengan juragan Marli itu adalah pertama kalinya Yaren meminta. Bukan meminta uang atau kekuasaan, hanya meminta dimengerti, namun, Papanya malah lebih percaya dengan Ibu tiri dan saudara tirinya.
Yaren menghembuskan napasnya berat kala memikirkan itu lagi, "Aku bahagia!" ucapnya.
"Mumpung sudah keluar, jadi lebih baik kita nikmati waktu saja." ucap Ayaz.
Yaren mengangguk lagi, "Terimakasih Ayaz!"
"Untuk?" tanya Ayaz bingung, untuk apa mengucapkan terimakasih, ia saja rasanya sering kali menyakiti hati istrinya ini, ucapan itu sungguh tidak pantas ia dapatkan.
"Semuanya!" jawab Yaren.
"Semuanya, karena sudah menikahiku, semuanya karena sudah jujur padaku, karena aku yang merasa sangat beruntung ini memilikimu " lanjut Yaren.
"Benarkah?"
"Iya!" kepala itu mengangguk lagi, "Apa kau meragukanku?"
"Yaren, rasanya aku tidak pantas mendapatkan semua itu, aku ini begitu banyak kekurangan, rasanya kau terlalu berlebihan memuji suami bajingan sepertiku ini."
__ADS_1
"Itukan menurut versimu, tapi aku tidak!"
"Kenapa kau bisa berkata begitu?" tanya Ayaz, mereka sedang berbincang santai di suatu taman, setelah tadinya sudah mencoba berkeliling mengunjungi beberapa tempat wisata di kota ini.
"Karena aku yang memang merasa begitu!" jawab Yaren.
Ayaz tidak percaya Yaren akan menjawab sesimpel itu, "Kau ini!" ucapnya sembari mengacak puncak kepala Yaren. "Di sini itu, malah aku yang seharusnya berkata begitu, berterimakasih padamu!" Ayaz menarik napasnya dalam lalu hembuskan, "Kau sempurna untukku!"
Yaren menatap lekat wajah Ayaz, mengapa rasanya ia seperti jatuh cinta lagi dan lagi dengan sang suami. "I love you!" ucapnya tanpa sadar.
"I love you too, Yarenku!" sahut Ayaz, mata yang bertemu itu seolah memiliki kekuatan seperti magnet yang saling tarik menarik, tubuh keduanya semakin mendekat, Ayaz begitu beruntung bisa memiliki Yaren di hidupnya.
Ayaz kesulitan menahan diri, bibir tipis Yaren yang belakangan ini telah menjadi candunya itu terlihat sangat menggoda, ingin sekali ia mencium bibir itu lama jika tidak mengingat mereka sedang berada di tempat umum.
"Aku mencintaimu!" ucap Ayaz lagi, setelahnya ia langsung saja menggenggam tangan Yaren lalu membawanya menuju mobil, nyatanya Rymi benar tentang Ayaz yang memang tidak mempunyai kesabaran yang cukup.
...***...
Marco berjalan-jalan tanpa tujuan, anak dan menantunya itu meninggalkannya sendiri di hotel, namun mau bagaimana lagi, sudah takdirnya hidup menjomblo jadi ya begini saja tanpa ada yang menemani.
Mengapa rasanya hidup sendirian itu tidak selamanya bisa menyenangkan hati. Ada kalanya ia merasa ingin ditemani.
"Brakkk!" tubuhnya tertabrak oleh seseorang, dan kemudian mungkin karena tubuhnya yang kekar, bukan malah dirinya yang jatuh, namun malah tubuh seseorang itu lah yang terjatuh di bawah kakinya.
"Tuan!" ucap seseorang itu dengan bahasa Itali, seorang wanita muda, kesan pertama yang Marco lihat, 'cantik' namun sayangnya sedikit berantakan.
Marco mengulurkan tangannya berniat untuk membantu wanita muda itu.
Bersamaan dengan itu terdengar suara bising seperti teriakan yang semakin mendekat, Marco menoleh ke sumber suara, namun tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh wanita itu dan membuatnya terjatuh terduduk tepat di dekat sang wanita.
Wanita itu memeluknya, tangannya masuk ke dalam mantel Marco yang besar, serta tak lupa kepalanya juga wanita itu sembunyikan di dada bidang milik Marco.
__ADS_1
Marco spontan saja menolak, namun wanita itu semakin erat memeluknya.
"Lepaskan! Hei, dasar gila!" umpat Marco juga menggunakan bahasa Itali, namun sang wanita bagai tidak peduli.
Teriakan itu semakin dekat, banyak orang berlarian seperti sedang mengejar sesuatu melewatinya, Marco melihatnya, namun lagi dan lagi saat dirinya hendak bangkit, wanita itu menarik sebuah kain pada toko yang menjual pernak pernik Natal, hingga begitu banyak pernak-pernik natal yang menimpa keduanya.
Marco menghalau itu, begitu konyol yang terjadi saat ini, ia sangat menyayangkan mengapa pula tadi dirinya itu terbesit rasa ingin berjalan-jalan mengitari kota, jika tau akan begini seharusnya ia duduk manis saja di kamar hotel.
Orang-orang yang melewatinya seperti sedang mengejar sesuatu itu sudah tidak terlihat, wanita itu melepaskan pelukan di tubuh Marco, "Maafkan saya Tuan!" ucapnya.
"Hemmm!" sahut Marco, ia ingin bangkit, namun tubuh itu spontan saja ambruk lagi kala mendengar suara berang pemilik toko.
"Oh astagah! Kalian ini bisa-bisanya menghancurkan daganganku, lihatlah semuanya berserakan!" tunjuk pemilik toko itu pada pernak-pernik natal yang berserakan.
"Maaf Paman!" ucap wanita muda itu lagi, menampilkan raut wajah paling bersalah.
Sementara Marco cuek saja, menjadi pihak yang seolah sangat dirugikan.
"Bagaimana kalian akan bertanggung jawab?" sergah pemilik toko itu.
Wanita muda itu tampak kebingungan, ia menoleh pada Marco seolah meminta bantuan, namun Marco dengan tengilnya bersikap tidak peduli, lagi pula Marco merasa jika wanita itu sadar diri seharusnya memang bertanggung jawab tanpa melibatkannya.
Apanya yang bertanggung jawab, bahkan aku di sini juga korban! Korban pelecehan, ah iya, memeluk orang sembarangan dengan eratnya di tempat umum itu termasuk pelecehan bukan ya?
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya wanita muda itu.
Dan sayangnya Marco tetap diam.
"Bagaimana saya akan bertanggung jawab, saya siap bertanggung jawab!" ucap wanita muda itu pada akhirnya pada si pemilik toko.
"Hei kau! Kau tidak akan bertanggung jawab? Mengapa hanya anakmu yang bertanggung jawab sendirian?" tanya paman pemilik toko itu pada Marco.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...