
"Kami akan menyelidiki ini!" ucap penyidik.
"Dan karena anda juga sudah berada di sini, kami juga ingin menyampaikan sesuatu untuk anda, ini perihal kasus kematian saudara Dale Adrie dan Tuan Sian Huculak!"
"Ada apa?" tanya Amla cepat.
"Ini surat resminya!" penyidik itu memberikan Amla sebuah amplop coklat yang berisikan undangan untuknya yang telah dijadwalkan besok, "Anda masih harus memberikan beberapa keterangan terkait dua kasus ini?"
"Dua kasus? Apa hasil otopsi suamiku sudah keluar? Apa dia juga mati karena dibunuh?" tanya Amla penasaran.
Ketua penyidik itu tampak memandang Amla seperti mengamati sesuatu, mereka ingin tau apakah pertanyaan yang dilayangkan Amla ini hanya akting atau karena wanita itu benar-benar tidak tau.
"Anda menduga seperti apa?" tanya penyidik.
Amla tidak menjawab, ia bahkan tidak mengerti mengapa tiba-tiba ketua penyidik bertanya padanya seperti itu.
"Sepertinya tepat seperti yang anda duga!"
__ADS_1
Amla melotot tidak percaya, apa itu artinya Sian memang mati karena dibunuh, bukan kecelakaan. Ia berpikir seperti itu, meski tidak ada sama sekali jejak penyiksaan fisik, namun Amla yakin sekali Ayaz lah yang telah membunuh Sian.
"Apa kalian sudah menyelidikinya dengan baik?" tanya Amla.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin!" sahut ketua penyidik itu.
"Temukanlah siapapun pembunuhnya, aku tidak akan bisa hidup tenang jika pembunuh suamiku belum juga ditemukan!" ucap Amla.
Amla mencoba mengabaikan tuduhan yang dilayangkan publik padanya, karena ia yakin sekali bukti hasil otopsi dan kerja keras pihak penyidik ini pasti akan mengembalikan nama baiknya.
"Status anda saat ini adalah saksi, jadi mohon untuk kerja samanya pada jadwal yang sudah terlampir, kami menunggu kehadiran anda besok pagi Nyonya!"
"Baik Nyonya, akan kami lakukan dengan segera, kami akan mengabari anda jika ada perkembangan."
Amla bangkit dari duduknya, ia pamit pergi dan diangguki oleh pihak penyidik yang berada di sana.
Setelah kepergian Amla, salah satu anggota penyidik yang sedari tadi mengamati interaksi antara ketua dan Amla pun angkat bicara, "Bagaimana menurut anda Pak? Apa dia sama sekali tidak merasa bersalah?"
__ADS_1
"Entahlah..." jawab ketua penyidik. Dirinya juga bingung, bagaimana bisa Amla bersikap biasa saja seolah tidak pernah melakukan apapun, sedang dalam laporan yang mereka terima dari Ilham, wanita itu adalah pembunuh Tuan Sian Huculak.
"Sayangnya aku bukanlah penganalisa wajah, jadi aku tidak tau wajah yang dia tampilkan itu apakah sama dengan suasana di hatinya, kita harus tetap waspada, karena semua tuduhan dan barang bukti memang mengarah padanya."
"Baik Pak!"
Jika memang benar kejadiannya seperti itu, Amla ini benar-benar wanita licik, bagaimana bisa bersikap seolah tidak mengetahui apapun, dan malah tanpa ragu menyuruh pihak kami menemukan siapapun pembunuhnya, sedang pembunuhnya saja adalah dirinya sendiri.
Pihak penyidik sudah berpihak pada Ilham setidaknya delapan puluh persen, ia juga meyakini Amla berpotensi menjadi tersangka.
Baik Ilham, ketua pengawal ataupun Amla, sama-sama masih berstatus sebagai saksi untuk dua kasus tersebut, namun kemungkinan Amla menjadi tersangka sepetinya begitu besar, karena jika Ilham maupun ketua pengawal tidak mempunyai alasan untuk membunuh Dale Adrie dan Sian Huculak.
Sedang Amla, banyak hal yang bisa meyakinkan mereka untuk menjadikan wanita itu sebagai tersangka.
"Kita lanjutkan besok, dan kalian selidiki siapa akun anonim yang menayangkan siaran langsung itu pertama kali, ini tidak bisa dibiarkan! Untuk masalah vidio itu aku meyakini Amla tidak mungkin melakukannya. Itu berarti pada penyidikan kemarin ada seseorang yang menjadi mata-mata!"
"Kalian harus berusaha menemukannya!"
__ADS_1
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...