
Rasa keingintahuan membawanya ke sini, serta luka yang masih membekas menyeretnya untuk segera mengungkapkan kebenaran.
Apa yang sebenarnya telah terjadi? Mengapa? Apa maksud dari semua ini?
“Apa masih lama?” tanya Marco, dirinya sudah menunggu hampir dua jam di kediaman Raihan. Informan yang selalu dipercayainya.
“Pak Raihan sedang dalam perjalanan.” Jawab salah satu pelayan di rumah besar itu.
Marco tidak bisa meninggalkan rumah itu tanpa mengetahui kejelasannya, dia benar-benar ingin tau.
Tak lama Raihan benar-benar datang dari pekerjaannya.
“Tuan Marco!” seru Raihan, ia cukup kaget mendapati Bos besarnya secara pribadi mengunjungi rumahnya.
“Aku ke sini, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.” Jelas Marco.
“Ya, silakan!” Raihan duduk di sofa, pergerakannya mulai mencari posisi yang nyaman. Pria itu menyuruh pelayannya untuk menyiapkan kopi dan beberapa camilan untuk teman ngobrol santai mereka.
Sebenarnya, dari raut wajah Marco, Raihan sudah bisa menebak kiranya apa yang akan Marco tanyakan padanya.
“Kau ingat, aku pernah menyuruhmu untuk mencari informasi terkait seorang wanita yang bernama Nindi Rowans!” ucap Marco, yang Raihan kira sudah menjarah ke topik utama pembicaraan mereka. Tanpa basa-basi kali ini Marco nampaknya benar-benar serius.
“Iya, saya ingat. Saya sudah siapkan semuanya, tunggu sebentar.” sahut Raihan, pria itu bangkit dari duduknya, melangkah menuju kamar ingin mengambil sesuatu yang bisa membantunya menjelaskan siapa Nindi Rowans.
Marco merasakan debaran di jantungnya, nama itu meski hanya mendengar namanya saja debaran itu tetap saja masih ada. Marco menarik napasnya dalam, jika benar Nindi Rowans adalah Ibunya Ayaz, itu berarti Nindi... Apakah wanita dengan nama yang sama, yang juga wanita dari masa lalunya itu sudah meninggal?
Apakah... Nindi Rowans, Ibunya Ayaz adalah Nindi Rowans cinta pertamanya dulu, orang yang menghancurkannya?
Marco benar-benar tak habis pikir memikirkan segalanya.
“Nindi Rowans.” ucap Raihan, ia memberikan satu jilid informasi tentang keluarga Donulai pada Marco.
“Apa ini?” tanya Marco.
__ADS_1
“Sayangnya, aku sama sekali tidak pernah lagi menambah informasi terkait Nindi Rowans, Tuan bisa membaca silsilah keluarga Donulai, dan dari situ tercantum profil seorang Nindi Rowans, yang adalah putri dari Daslah Donulai, dia juga adalah Ibu dari Ayaz Diren, anak buah kesayanganmu!” ungkap Raihan.
Dengan sigap Marco langsung saja membuka Jilidan itu, mencari-cari informasi tentang Nindi Rowans.
Nindi Rowans, tangan Marco bergetar kala melihat sebuah foto yang seakan membenarkan kecurigaannya. Foto seseorang yang amat dikenalinya.
“Aku tidak percaya!” gumamnya pelan, yah memang benar... sulit sekali rasanya untuk percaya.
“Nindi Rowans, menikah dengan Tuan Sian pemilik SN Group, dua puluh tujuh tahun yang lalu. Namun sebuah rumor mengatakan saat keduanya menikah Tuan Sian tidak mengetahui bahwa istrinya itu sedang hamil anak dari pria lain.”
Mata Marco membulat, mendengar pernyataan yang dilontarkan Raihan, Nindi... Hamil, tidak mungkin!
“Namun karena suatu kejadian, akhirnya Sian mengetahui itu, Sian yang sebenarnya juga mencintai Nindi enggan untuk bercerai namun tidak juga mau menerima Nindi ataupun anak yang dikandungnya.”
“Jangan bilang, anak itu adalah Ayaz?” tanya Marco.
Sayang sekali, Raihan harus mengangguk membenarkan.
“Sian dari SN Group, mengapa cukup familiar?” tanya Marco lagi.
“Ah yaaa, bagaimana aku bisa melupakan itu, ada rumor yang mengatakan dia cukup kejam.”
“Tepat sekali, mungkin karena itu jualah Ayaz masih mempersiapkan diri hingga kini untuk melawannya. Kau harus mendukung Ayaz untuk itu Tuan.”
“Apa begitu menderita hidup Ayaz dan Ibunya dulu, hingga Ayaz menyimpan dendam yang begitu besar.” Tanya Marco.
“Tuan bisa meminjam ini, bacalah apa saja yang pernah dilakukan Sian di masa lalu, aku rasa Ayaz dan Ibunya memang benar-benar cukup menderita.” Raihan memberikan satu buah jilid lagi pada Marco, “Aku diam-diam mencari tau tentang ini melalui salah satu pelayan di rumah utama Sian, pelayan itu salah satu yang terlama katanya.”
Dengan ragu Marco mengambil jilidan itu, meski dalam hatinya menyeruak ketakutan. Marco mulai takut akan sebuah kenyataan yang mulai begitu berat membebani isi kepalanya.
“Lalu, anak siapa yang dikandung Nindi Rowans saat itu?” tanya Marco, nadanya bergetar saat menanyakan itu.
“Ayaz sedang mencari ayah kandungnya, menyangkut perihal itu pencarianku menghadapi jalan buntu... Aku rasa, hanya Daslah Donulai yang bisa membuka jalan untuk Ayaz menemukan itu. Ayaz bisa menanyakan dengan siapa Ibunya menjalin kasih sebelum menikah dengan Sian dulunya.” Jawab Raihan.
__ADS_1
Ayaz, jika dia adalah anak Nindi, dan saat Nindi menikah dengan Sian... Saat itu Nindi sedang hamil, berarti Ayaz... Mungkinkah dia...
“Kau tidak bisa menikah Nindi, aku sudah merenggut kehormatanmu, aku akan bilang pada calon suamimu kalau kita sudah melakukannya, kau sudah tidak suci."
"Tidak masalah, aku akan tetap menikah dengan laki-laki pilihan orang tuaku, kau tidak bisa diharapkan Marco? Kau bajingan!"
Dengan langkah gontai Marco berjalan menuju mobil, dadanya begitu sesak mengetahui sebuah kenyataan. Pahit, bagaimana bisa hidupnya menjadi begitu pahit seperti ini.
“Sungguh aku benar-benar tidak tau dia sedang hamil, sungguh... Setelah hari di mana aku memukuli pria itu, aku pikir dia hidup dengan nyaman, bahagia telah melakukan semua itu padaku.” Gumam Marco, dia enggan beranjak menjalankan mobilnya.
Bukankah, kau masih harus mengetahui siapa ayah kandungmu!
Apa kau tidak berniat untuk membunuh ayah kandungmu?
Marco tersenyum kecut kala mengingat percakapan antaranya dan Ayaz malam kemarin, di mana sebuah kesepakatan kerja samanya baru saja di mulai. Ia berhasil membuat Ayaz rujuk pada timnya hanya karena sebuah alasan.
Betapa Ayaz nampak mempunyai semangat yang berkobar kala ia menyarankan untuk membunuh ayah kandung dari pria itu. Namun apa kali ini, jika kenyataan itu benar, bukankah nyawanya sedang terancam saat ini. Oh ya Tuhan, hal gila macam apa kali ini yang menimpaku, Marco membantin.
“Aku masih harus memastikan sesuatu!” gumamnya.
“Tapi aku tidak yakin Nindi pernah melakukannya selain denganku, malam itu saja aku yang pertama baginya.”
Marco menghidupkan mesin mobilnya, kali ini ia memilih untuk tidak pulang ke rumah, terlalu takut rasanya untuk berada dalam kesendirian, pemikiran tentang Ayaz tak habis dirinya renungkan.
“Jika benar... Aku ayah kandungnya, entah bagaimana aku bisa menghadapi anak itu, Nindi... Kau, sudah mati saja masih selalu bisa membuat rumit hidupku.” geram Marco.
Setengah jam berlalu, mobil Marco terlihat parkir di area parkiran VIP club malam ternama, tidak peduli akan masalahnya, apa yang baru saja ia temukan, sebuah kenyataan yang sulit dirinya percayai, kepalanya yang sudah berat enggan saja untuk diajak berpikir lebih, Marco memutuskan untuk melupakan semuanya meski hanya sejenak.
Meski Rymi sudah melarangnya untuk mengkonsumsi alkohol mengingat kesehatannya yang sempat memburuk, namun untuk malam ini saja Marco ingin dibebaskan, ia akan bersikap tidak peduli.
"Tuangkan untukku!" titah Marco dingin pada seorang wanita malam yang sedang bertugas, yang kini juga mulai bergelayut manja di tubuhnya.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...