
“Selamat pagi, Pak Rangga!” ucap sekretaris Yan. DN Company, perusahaan yang bergerak di bidang obat-obatan itu kini sudah dipimpin oleh Samudra Rangga Donulai.
Sam sengaja mengganti nama panggilannya, biarkan orang-orang mengenalnya dengan nama Rangga di Negara ini, Negara yang penuh dengan luka baginya.
“Selamat pagi! Kumpulkan para petinggi perusahaan dan staf di ruang rapat, aku akan mengadakan rapat perkenalan pagi ini.” sahut Sam memberikan titah untuk pertama kalinya.
“Baik Pak!”
Sam memasuki ruangannya, dua hari yang lalu tempat ini ditempati oleh salah satu orang kepercayaan Donulai, dan kini Sam harus melanjutkan kepemimpinan atas perintah Tuan Donulai.
“Aku tidak menyangka, nasibku bisa berubah!” Sam menggeleng pelan.
Sam mengenang lagi kota ini, ingin rasanya dia pergi ke rumah lamanya, menemui Ibu dan Ayahnya yang pasti saat ini juga sangat merindu.
Setelah hari itu, Sam benar-benar hilang bagai ditelan bumi.
...***...
“Aku tidak akan pulang malam ini!” ucap Ayaz, berkata pada Yaren yang saat ini sedang mengaduk-aduk sup sebagai menu makan siang mereka.
“Ayaz!”
“Aku tidak punya pilihan lain Yaren, dan kau, jangan sekali-sekali berniat untuk meninggalkan rumah ini lagi, kau tidak akan tau jalan keluar dari hutan ini, dan aku tidak akan bisa menolongmu jika saja sampai terjadi sesuatu padamu.”
“Ayaz, bisakah aku ikut denganmu?” tanya Yaren, selain karena dirinya ketakutan untuk tinggal, hal lainnya juga Yaren berharap bisa pergi dari hutan ini dan lalu kabur dari cengkraman Ayaz.
Ayaz tersenyum samar, “Kau pikir aku tidak tau apa rencanamu?”
Yaren terdiam, sebenarnya makhluk apa yang sedang dirinya hadapi ini, bagaimana bisa Ayaz mengetahui niatnya?
“Ini, jika malam tiba, kau bisa menekan ini untuk menghidupkan lampu, Kau harus menurut karena kau sudah berjanji!” Ayaz tersenyum smirk.
“Tapi, apa tidak akan terjadi sesuatu padaku?” tanya Yaren.
“Misalnya?” tanya balik Ayaz.
“Tidak akan ada yang berkunjung ke sini selama kau pergi? Berapa lama kau tidak pulang?”
“Jika ada yang mengetuk pintu, baik itu malam ataupun siang hari, jangan pernah kau buka! Karena itu pasti bukan aku.”
__ADS_1
“Aku bisa membuka sendiri pintu rumah ini meski pintunya kau kunci.”
“Mungkin aku akan pergi sekitar dua atau tiga hari, jika ingin masak silakan saja, semua bahan makanan sudah tersedia di tempat penyimpanan, asal jangan kau bakar saja rumahku!” sindir Ayaz pada Yaren yang memang tidak tau cara memasak.
“Iya!” ucap Yaren lesu.
“Heh, aku bahkan belum pergi dari rumah ini tapi wajahmu sudah muram begitu. Aku akan memberimu pelajaran dulu!” ujar Ayaz.
Kemudian pria itu menarik tangan Yaren kasar, membawanya ke kamar.
“Ayaz...” teriak Yaren sembari berusaha melepaskan tangannya.
“Shutttt, jika aku katakan kau akan menurut, maka kau harus menurut.” Ucap Ayaz, pria itu mendekatkan mulutnya pada telinga Yaren, menghembuskan napas di sana, membuat tubuh Yaren meremang, ketakutan, dan sejurus begitu tegang.
“Aku menginginkanmu!” pinta Ayaz.
“Tidak, jangan lakukan!” tolak Yaren, halus namun isyarat akan permohonan.
“Cepat ataupun lambat, semuanya akan terjadi, lalu apa bedanya?”
Ayaz menghempaskan tubuh Yaren ke ranjang, Yaren beringset mundur untuk menghindar.
“Ayaz, ini salah!” lirih Yaren.
Ayaz mulai menangkap kaki Yaren, menariknya dan mulai mengungkung tubuh wanita itu. Mendekatkan wajahnya hingga mata mereka saling terlibat tatap. Tatapan buas yang Ayaz layangkan berbeda dengan Yaren yang menatap Ayaz seolah sangat menyedihkan, wanita itu masih berharap Ayaz akan mengampuninya.
“Aku tidak suka dibantah!” ucap Ayaz dingin.
Pria itu tanpa belas kasih mulai mencoba menciumi Yaren, tidak peduli meski Yaren begitu sangat gigih menolaknya.
“Plak!” lagi-lagi sebuah tamparan, Yaren menangis karena perlakuan Ayaz yang begitu kasar padanya.
“Sudah kubilang menurut, aku katakan kau harus menurut maka kau menurutiku, tidak peduli kau suka atau tidak, kau menginginkannya atau tidak, kau... Arrgghh!” erang Ayaz yang merasa sangat tidak puas.
Mengapa dirinya tidak bisa melakukannya dengan Yaren, mengapa dia tidak bisa melanjutkan saat Yaren bertingkah menolaknya, mengapa dengan menatap mata Yaren dirinya bisa begitu kesal pada dirinya sendiri, yang tidak bisa berbuat apapun selain menghentikan pemaksaan itu.
Sungguh Ayaz menginginkan Yaren juga setuju untuk melakukan hubungan intim dengannya. Tanpa paksaan, meski Yaren tidak ingin, namun setidaknya Yaren sudah rela.
“Kau...” lirih Yaren. “Aku mohon jangan lakukan Ayaz, menikahlah dulu!” Yaren masih mengusap pipinya yang merah saat mengatakan itu.
__ADS_1
“Peduli apa?” teriak Ayaz tepat di hadapan Yaren. Sungguh Ayaz ingin melampiaskan kekesalannya.
“Ayaz, aku tau kau masih punya belas kasih, aku tau dalam hatimu masih punya rasa iba, aku mohon Ayaz.”
“Bodoh!”
Ayaz tidak tahan lagi, pria itu kembali menyerang Yaren, berharap kali ini hasratnya bisa terpenuhi meski harus dengan paksaan.
Ayaz membuka kancing kemeja Yaren, dilihatnya benda kembar nan menantang itu, dan Ayaz langsung menikmatinya dengan suka hati.
“Hiks hiks,” Yaren tidak berhenti menangis, “Lakukanlah Ayaz, lakukanlah sesuka hatimu, perlakukanlah aku seperti pela*ur, sungguh tidak ada lagi yang berharga dalam diriku, entah setelah ini kau mau membunuhku pun silakan, lakukanlah aku seperti jal*ng.” lirih Yaren bersuara, di tengah-tengah Ayaz yang begitu menikmati gunung kembarnya.
Ayaz berhenti, melihat air mata Yaren yang tumpah begitu derasnya, membuatnya tidak bisa melanjutkan pekerjaannya.
Mengapa selalu saja begini, mengapa aku selalu tidak bisa melihatnya menangis, ada apa sebenarnya?
Dia memang jalangku, bukan salahku memperlakukannya begitu, lalu mengapa aku tidak bisa melakukannya?
Ayaz menghempaskan tubuh Yaren, pria itu bangkit untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. Melihat Yaren yang berusaha membenahi pakaiannya, menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Air mata itu belum juga mengering, seketika Ayaz menjadi sesak melihat pemandangan yang sepertinya sangat menyedihkan.
“Kau pergilah! Bersihkan dirimu!” pinta Ayaz.
Yaren menurut, dengan cepat wanita itu pergi meninggalkan Ayaz, tidak mau Ayaz sampai berubah pikiran dan melakukan pemaksaan lagi terhadapnya.
“Arrggghhhh!” erang Ayaz lagi, pria itu berteriak seperti orang kesetanan, mengapa Yaren menolaknya, begitu pentingkah sebuah status untuk mengajak Yaren berhubungan.
“Yaren sialan, dasar jal*ng!” umpatnya.
Sementara di kamar mandi, Yaren bisa mendengar teriakan Ayaz yang mengumpatinya. Sungguh membuat hati Yaren pedih teriris.
Apa salahku Ayaz? Aku hanya tidak ingin kita melakukannya, aku berharap kita bisa menikah, meski belum ada cinta, meski kita hanya sebatas teman di atas ranjang, tapi setidaknya aku punya alasan untuk melakukannya denganmu.
Yaren membersihkan tubuhnya, mengelap sisa-sisa mulut Ayaz yang menyentuh tubuhnya, dengan tangis yang pilu membayangkan betapa hina dirinya bagi Ayaz.
“Ma, Yaren rindu!” lirihnya, memejamkan mata membayangkan sang Mama yang sudah tenang di Surga, akankah Mamanya di sana menangis saat melihatnya menderita begini?
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1