Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Raisa...


__ADS_3

"Persiapkan dirimu!" ucap Marco, saat ini Jovan sudah pulang, hanya tinggal dirinya dan Ayaz. Pria paruh baya itu sebenarnya tidak tega melakukan itu pada Ayaz, namun baginya ia tidak bisa membiarkan Ayaz tertangkap.


Jika kasus ini terus saja dihindari, jika mereka mengorbankan lebih banyak nyawa dan perasaan orang lain lagi, Marco tidak yakin untuk tidak lebih banyak menyakiti. Baginya gampang saja menjadikan orang lain sebagai umpan dan tumbal.


"Jika hal itu benar akan berhasil, maka kalian harus menjaga Yaren seperti kalian menjaga nyawa kalian sendiri! Kau, Jovan dan juga Rymi, aku tidak akan. memaafkanmu jika saja terjadi sesuatu pada Yaren." ucap Ayaz.


"Aku akan melakukan sebisaku, aku tidak akan membiarkanmu tertangkap."


"Bagaimana dengan namaku?" tanya Ayaz.


"Tidak begitu banyak orang yang mengenalmu, setelah semuanya nanti bisa kita tuntaskan, barulah kau boleh membunuh Amla, kalau kau mau aku bisa melakukannya untukmu!"


"Wanita itu! Hanya akan menjadi penghalang, sudah bisakah kita memberinya peringatan? Aku sudah mempersiapkan segalanya, menurutmu kapan waktu yang tepat?"


"Apa kau benar-benar berpikir wanita itu peduli pada Sian?" tanya Marco, sejujurnya ia juga tidak yakin namun Sian adalah kunci untuk melemahkan kekuatan Amla, jika saja mayat Sian ditemukan setidaknya Amla tidak akan bisa meremehkan mereka lagi.


"Tidak, tapi menurutku, memberikan Sian sebagai umpan bukanlah ide yang buruk!" sahut Ayaz.


"Yah kau benar, Rym sudah menyiapkan segalanya, wanita itu pasti masuk dalam perangkap!" pungkas Marco.


"Selangkah lagi, berarti hanya selangkah lagi."


"Dia pikir, aku bisa diajak bermain-main, kau salah Amla, kali ini kau akan menangisi akhir hidupmu!" geram Ayaz, wajahnya memancarkan amarah.


"Ayaz, setelah memberikan Sian sebagai umpan, kau benar-benar harus mempersiapkan segalanya, kita benar-benar akan bertarung."


"Aku masih orang yang sama, bisa kau percaya!"


"Aku yakin, tapi... Kali ini, aku harap kau tidak melakukannya dengan emosi, karena ini menyangkut Yaren, maka kau harus melakukannya dengan tanpa mementingkan peraaan Yaren, lakukan seperti biasa, bersikaplah kau melakukannya hanya demi hidupmu, kau hanya harus menyelamatkan dirimu sendiri, tunggulah... Ini hanya sebentar, setelahnya aku pasti akan memberikan kehidupan yang baik untukmu!"


"Kau harus mempersiapkan diri, bukan hanya fisik, namun juga batinmu, perasaanmu, percaya pada kami, kami akan menjaga Yaren selama kau pergi!"


Marco memegang keras bahu Ayaz, "Sebagiannya aku percayakan padaku dan sebagiannya lagi kau bisa mempercayakan pada kami."


"Asalkan kalian bisa menjaga Yaren, maka aku akan melakukannya." ucap Ayaz.


"Percaya!" Marco, mencoba meyakinkan Ayaz, supaya putranya itu bisa tetap kuat menghadapi cobaan yang sebenarnya mereka buat sendiri ini.


"Aku sedang menguatkan hatiku!" lirih Ayaz.

__ADS_1


Marco kembali menepuk pundak Ayaz, "Kau pasti bisa!"


...***...


Raisa sudah pulang ke rumah, ia merasakan sepi tanpa siapapun ada yang menyambutnya. Dirinya benar-benar merasa heran, ke mana hilangnya para pekerja di rumahnya itu.


"Ke mana mereka?" gumamnya.


Ia menghidupkan lampu yang belum dinyalakan, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan, satpam penjaga pun tidak ada lagi menjaga rumah mereka, entah apa yang terjadi.


Raisa memang sudah melihat berita kehancuran Argantara di berbagai sosial media, wajahnya juga terpampang di beberapa vidio dan foto yang tersebar. Namun semua itu belum juga mendapatkan konfirmasinya, karena Argantara yang memang masih belum sadarkan diri.


Berkat berita itu jualah, Raisa bisa mengetahui di rumah sakit mana Papanya di rawat. Dan pulangnya ia ke rumah ini hanya untuk mengambil uang secukupnya dan kartu kredit miliknya, untuk dirinya bertahan hidup.


Raisa berjalan menuju kamar, ia langsung saja menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, badannya sudah lengket dan dirinya juga tidak tahan berlama-lama memakai gaun yang begitu berat dikenakannya itu.


Tak lama dirinya pun selesai mandi, memakai pakaian untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit, tak lupa ia memberikan sedikit riasan tipis di wajahnya.


Siapa sangka kalau malam pernikahannya akan berakhir seperti ini, jika wanita lainnya menikah akan menikmati hidup pertama berdua dengan pasangannya lain halnya dengan Raisa, betapa sangat menyedihkannya untuk dibayangkan.


Harun, suaminya untuk bahkan tidak tau berada di mana, mungkin sedang senang-senang saja di rumah, sepanjang acara tadi Harun tidak pernah menatap suka padanya, jadi Raisa sangat yakin pernikahan konyol ini sebenarnya sangat tidak diinginkan oleh Harun.


"Aku akan buktikan bahwa aku bisa bertahan." Raisa sudah membulatkan tekad, ia tidak akan peduli pada pernikahannya, bahkan jika Harun ingin menceraikannya saat ini juga, Raisa merasa itu bukan masalah.


Ini adalah pernikahan bisnis, sejak awal dirinya juga tidak tertarik dan seakan terpaksa, jadi mungkin berpisah dari Harun memang jalan yang terbaik, tidak akan ada yang tersakiti, Harun tidak mencintainya begitupun sebaliknya, yah meski terdengar begitu memilukan.


Raisa mengambil mantelnya, ia akan segera pergi menemui Papanya di rumah sakit.


Raisa memakai mobilnya, dengan masih merasa aneh karena rumahnya itu benar-benar kosong, ia mengedarkan pandangannya pada rumah yang benar-benar sepi itu.


Namun saat mobilnya itu hendak keluar dari pagar kediaman utama Argantara, siapa yang menyangka kalau dibalik pintu pagar itu telah begitu banyak wartawan yang menghalangi jalannya.


Kilatan flash kamera menyerbu penglihatannya, begitu banyak orang mengetuk pintu mobilnya.


"Raisa Kharunia, apa benar anda adalah bukan anak kandung dari Tuan Argantara, mohon klarifikasinya."


"Raisa, beri sedikit penjelasan!"


"Raisa, apa pernikahan anda dengan Tuan Harun Aji Suryono adalah benar sebuah pernikahan bisnis?"

__ADS_1


"Raisa, beri kami klarifikasi?"


"Raisa, mohon buka pintunya!"


"Nona Raisa, apakah anda hendak menuju ke rumah sakit?"


"Raisa, apa berita tentang kehamilan anda itu adalah benar?"


"Apakah itu adalah anak Tuan Harun?"


"Raisa, mohon untuk buka pintunya!"


Raisa merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, bagaimana bisa ia tidak memperhitungkan ini, ia sama sekali tidak siap untuk menghadapi kondisi semacam ini.


"Tok tok tok!"


"Tok tok tok!"


Kilatan flash kamera yang berhasil membuat kepalanya tiba-tiba saja berdenyut, ia tidak membuka mobilnya namun sayangnya kepalanya semakin merasakan pusing.


Mungkin juga ditambah ia yang belum juga makan sedari pagi tadi, membuatnya semakin tidak kuat saja menghadapi kenyataan. Apa lagi, dengan posisinya yang sedang berbadan dua.


"Raisa..."


"Raisa berikan tanggapan!"


"Raisa, apa benar anda sedang hamil?"


Raisa mengulurkan tangannya untuk membuka pintu, namun belum sampai tangannya menyentuh gagang pintu mobilnya, kepalanya yang kelewat pusing sudah membuat tubuhnya ambruk menjadi tidak sadarkan diri.


Banyak wartawan bersorak karena Raisa yang terlihat pingsan di dalam mobil. Beberapa ada yang mulai bertindak untuk menolongnya.


"Raisa..."


"Raisa..."


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...

__ADS_1


__ADS_2