Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Mengapa wanita ini menjadi banyak bicara?


__ADS_3

"Ayaz, kali ini kau benar-benar terancam!"


Ayaz menghela napasnya berat, mau bagaimana lagi masalah ini benar-benar tidak akan terselesaikan jika saja dirinya terus menghindar.


"Lenyapkan saja dia!" ucap Ayaz.


"Kau yakin?"


"Ayaz..."


Marco dan Jovan berbicara bersamaan, Marco hanya perlu mengkonfirmasinya, sedang Jovan ia sungguh terkejut, apa semudah itu menghilangkan nyawa orang lain bagi Ayaz? Jovan benar-benar tidak percaya.


"Kau gila? Tidak, tidak, apa ada cara lain? Pasti ada cara lain!" ucap Jovan.


"Ayaz, yang akan kau lakukan itu, mungkin akan semakin menambah daftar kriminalmu." lanjut Marco.


"Aku tidak bisa memikirkan cara lain, aku tidak mau lagi menghindar!" adu Ayaz.


"Di sini, kita akan pikirkan caranya, pasti ada cara lain!" ujar Marco.


Ia mengambil sebuah berkas dari dalam laci meja, dan meletakkan itu di hadapan Ayaz dan Jovan.


"Ini daftar riwayat Dean Aries!"


Ayaz sudah mengetahui itu, jadi ia tidak perlu melihatnya lagi, jadi Jovan yang langsung saja mengambil berkas itu untuk dirinya amati.


"Apa kalian meminta izin dulu untuk mengambil data ini?" tanya Jovan. Ia mengkerutkan dahinya kala melihat siapa sosok Dean Aries yang sebenarnya.


Tidak ada yang menyahut membuat Jovan yakin, data ini tentu saja didapatkan dari seorang detektif yang mungkin saja dipekerjakan untuk Marco.


"Ayaz, bagaimana kalau besok kau sendiri yang menemui Dean Aries, menurut orangku yang mengawasi pergerakannya, Kate Yarkan itu belum berhasil menemukan Dean Aries yang sebenarnya."


"Hemmmm!" Ayaz tampak berpikir, bagaimanapun kalau bukan karena Yaren ia tidak akan begitu bingung seperti ini. Yaren adalah satu-satunya alasan mengapa dirinya masih berpikiran ingin tetap mengamankan diri.


"Aku tidak akan bisa membiarkan Amla hidup kali ini, akan aku pastikan dia mendekam di penjara atau berujung dengan kematian." ucap Ayaz.


"Ayaz tenangkan dirimu!"


"Siapkan saja keberangkatanku, aku akan pergi sendiri menemui Dean Aries, aku bisa membungkam mulutnya itu."


"Jangan apakan dia!" ucap Marco.


"Aku tidak janji!"

__ADS_1


"Ayaz!"


"Sebenarnya aku punya cara lain!" ucap Marco, ia takut sekali Ayaz akan bertindak sesuka hati, ia sudah cukup mengenal putranya itu, Ayaz tidak akan membiarkan siapapun menghalangi rencananya. Jadi, bisa saja setelah pulang dari menemui Dean Aries, Marco hanya akan mendengar berita kematian pria itu.


"Apa?" tanya Jovan penasaran, sementara Ayaz menaikkan alisnya penasaran.


"Kita biarkan saja!"jawab Marco.


"Kau gila?"


"Tuan Marco, aku belum siap untuk masuk penjara!"


"Kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri Jo, kau punya kekuasaan, dan juga aku rasa jika untukmu selama Ayaz tidak membuka mulutnya maka namamu akan aman." jelas Marco.


"Kau ingin mengorbankanku? Benar sekali, pada akhirnya hari ini juga akan terjadi!" sindir Ayaz.


"Ayaz, dengarkan aku!" tegas Marco.


Ayaz tampak acuh, dirinya akan menghadapi kepolisian lagi, itu adalah hal yang paling malas dirinya lakukan.


"Kembali menjadi buronan sekali lagi, namun kali ini kau benar-benar dinyatakan bersalah, hanya dengan itu kita bisa mengakhirinya."


"Dan aku akan mendekam di penjara meninggalkan istriku, bagus sekali Marco, mengapa tidak kau akui saja semua perbuatanmu, bukankah aku melakukan ini semua juga atas perintahmu!"


"Ayaz, aku bukan ingin mengorbankanmu, tapi justru dengan cara ini jika kita bisa berhasil maka kau akan benar-benar lepas dari masalah ini!"


"Bukan ingin mengorbankanku? Mendekam dipenjara bagiku bukanlah apa, tapi prinsip itu berlaku saat aku belum mempunyai istri, sekarang ada Yaren yang aku pertahankan mati-matian, aku tidak akan pernah meninggalkannya, aku lebih baik mati jika harus berpisah dengannya sebagai seorang penjahat."


"Bagaimana nantinya dia menghadapi hidup, dia sudah terbiasa di hina, terabaikan, tapi jelas saja itu saat dia belum bersamaku, sekarang aku benar tidak bisa membiarkan dia diperlakukan begitu, apa lagi nanti dia akan terkucilkan karena aku!"


"Ayaz, ini semua juga demi Yaren." ucap Marco.


"Ayaz, coba dengarkan dulu keseluruhannya." ucap Jovan.


Ayaz menetralkan emosinya, ingin sekali rasanya ia mendaratkan tinju di wajah Marco, namun ia masih menahannya.


"Aku akan bertindak di balik layar!" ucap Marco.


"Beruntungnya, mereka belum pernah melihat siapa istrimu, bagaimana rupanya, jadi setidaknya kita masih bisa mengamankan Yaren." lanjutnya lagi.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Ayaz.


"Membuat mereka menemukanmu!" jawab Marco.

__ADS_1


"Kau benar-benar..."


"Tuan Marco, bukankah itu berarti Ayaz benar-benar akan tertangkap?" tanya Jovan.


"Tidak akan! Mereka hanya akan mendapatkan jalan buntu untuk kasus ini!"


"Maksudnya?"


"Aku harus mempersiapkan segalanya, barulah nanti akan aku katakan pada kalian, lebih cepat lebih baik!" sahut Marco.


"Apa maksudmu..." tebak Ayaz, ia sudah sedikit mengerti apa yang akan Marco rencanakan.


"Yah kau benar!" angguk Marco.


...***...


"Rym, jadi... Sebenarnya kau itu anaknya Tuan Marco?" selidik Yaren, ia mendengar Rymi yang memanggil Marco dengan sebutan Daddy, dan itu terdengar sangat begitu akrab.


Rymi mengangguk, "Ya, lebih tepatnya aku anak angkatnya!" jawab Rymi jujur.


"Ah ya? Kau diangkat sedari kecil?" tanya Yaren lagi. Ia sebenarnya sedikit penasaran tentang bagaimana hidup wanita yang tengah mengemudi di sampingnya ini.


Rymi mengangguk lagi, "sejak umurku tujuh tahun!"


"Tapi Tuan Marco terlihat sangat menyayangimu, dia menyayangimu seperti anak kandungnya!"


Aku saja sampai iri karena kedekatan kalian...


"Daddy memang seperti itu, dia itu orangnya tegas, tapi dibalik itu dia adalah Daddy yang menyenangkan, saat aku kecil kau tau dia bahkan rela saja mengantar jemputku ke sekolah, atau bahkan mengajakku jalan-jalan berdua di Mall saat akhir pekan, dia bisa menjadi Daddy sekaligus Mommy bagiku, kadang aku bahkan begitu takut kehilangannya." ucap Rymi, dengan bangga dia menceritakan bagaimana kasih sayang Marco terhadapnya.


"Apa Tuan Marco pernah menikah?" tanya Yaren.


"Tidak, dia tidak pernah menikah!"


"Kenapa? Menurutku Tuan Marco cukup tampan, apa tidak ada wanita dewasa yang mau dengannya?"


"Daddy itu orangnya pemilih, makanya tidak laku!" jawab Rymi asal, meski tidak sepenuhnya berbohong. Selama ini Marco memang pemilih, namun bukan karena tidak adanya alasan ia menjadi seperti itu, karena bayang-bayang Nindi masih begitu melekat di hatinya dan seolah tidak tergantikan.


"Hemmm, tapi jujur saja ya, saat aku pertama kali bertemu dengan Tuan Marco, aku bahkan sudah pernah mengira kalau Ayaz dan Tuan Marco itu adalah Ayah dan Anak, mereka mirip sekali, apa Ayaz dan Tuan Marco selama ini tidak menyadari itu, Kak Jovan bilang mereka berdua bahkan baru saja mengetahui kenyataan itu?"


Rymi menemukan sesuatu yang lain dari Yaren, ia menatap heran, mengapa wanita ini menjadi banyak bicara? Pikirnya.


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2