Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Sona Blue Hotel.


__ADS_3

Dua hari berlalu,


"Ternyata kau masih punya niatan untuk datang!" ucap Argantara, Jovan tau dari nada bicaranya pria paruh baya itu pastilah sedang mengejeknya.


Menegaskan kalau Raisa bahkan bisa mendapatkan yang lebih baik darinya. Jovan tersenyum geli, mengapa juga dirinya harus bersikap seolah merugi, sedang dirinya saja berniat menghadiri acara resepsi ini semata-mata untuk melihat awal kehancuran Argantara berikut dengan Raisa.


"Aku turut berbahagia!" tutur Jovan, ia mencoba menjadi orang paling santai, dan yah memang seperti itulah suasana hatinya saat ini.


"Jangan terlalu pemilih, apa lagi kau hidup hanya sendiri, siapa yang akan menemani masa-masa tuamu nanti jika kau terlalu banyak menyeleksi!" sindir Argantara.


Lagi-lagi Jovan harus tersenyum geli, kelihatannya pria tidak tau diri di hadapannya ini sedang menikmati masa-masa sebelum kehancuran, jadi biarkan saja kali ini ia mengalah. Biarkan Argantara hanyut dengan candu pesona seorang Harun, toh sebentar lagi keluarga mereka tidak akan pernah dipandang oleh Harun, Jovan bahkan lebih mengenal siapa Harun dari pada Argantara.


Mau menjadikan Harun sebagai batu lompatan, bermimpi saja tidak akan pernah terjadi.


"Apa kau sudah memberikan selamat?" tanya Argantara, pria itu seolah menang saat mengatakan itu pada mantan pacar anaknya itu.


"Aku bahkan memberikan hadiah untuk pernikahan putri anda!" balas Jovan.


"Ku harap, sesuatu yang berkesan, karena jika menyangkut nilai, Harun bahkan sudah memberikan lebih untuk Raisa." sindir Argantara lagi.


Sebenarnya Jovan begitu muak menghadapi tingkah Argantara yang begini, apa maksudnya coba membandingkan dirinya dengan Harun Aji Suryono, dikira Argantara dirinya akan cemburu melihat Raisa bersanding dengan pria kaya yang sudah berumur begitu, tidak... Argantara salah jika berpikiran begitu. Bahkan Jovan begitu senang dan berterimakasih, Harun menjadikan semua balas dendamnya menjadi lebih mudah.


Apa lagi, Yaren yang terpaksa harus menikahi Ayaz dulunya, pria dengan label penjahat itu kini harus ia relakan menjadi suami dari adiknya, meski Jovan bisa melihat bahwa Yaren bahagia menjalani pernikahannya, tapi baginya Raisa juga harus menanggung hal yang sama, Harun cukup kejam memperlakukan seorang wanita, dan itu dianggapnya sebanding dengan apa yang pernah menimpa Yaren.


Bedanya, Ayaz kini begitu mencintai Yaren, sedang Harun, Jovan bisa bertaruh tidak mudah untuk meluluhkan hati perjaka tua itu.


"Bukan apa-apa, hanya sesuatu yang biasa tamu undangan berikan, aku tidak pandai dalam memilih hadiah, dan terlebih aku bukanlah orang yang suka membuang-buang uang untuk suatu yang tidak penting!" sahut Jovan telak, ia sudah muak, ia bukanlah orang yang sabar, jadi ia ingin segera mengakhiri perbincangan ini.


"Kau..."


"Tuan Argantara! Jika kau berpikiran aku di sini akan menyesal melihat Raisa bersanding dengan pria kaya, maka kau salah, aku baik-baik saja dan merestui hubungan mereka, bagiku masa lalu biarlah menjadi masa lalu, lagi pula Raisa bukanlah satu-satunya wanita yang telah menempati masa laluku." lanjut Jovan.

__ADS_1


"Aku bukan perasa, jadi kau tidak perlu merasa bersalah telah menyindirku!" Jovan memberikan lagi pukulan telaknya lalu pergi meninggalkan Argantara.


Argantara hanya bisa terdiam, niatnya untuk membuat Jovan merasa menyesal karena telah menyia-nyiakan putrinya sepertinya salah, ia terlalu berekspektasi tentang itu.


Sementara tidak jauh dari mereka, Dokter Amri sedang mengamati perbincangan itu, Dokter Amri sedikit meringis kala Argantara mendapatkan lontaran kata pedas oleh Jovan, namun menurut Dokter Amri wajar saja Jovan mengatakan itu.


Di tengah ramainya acara, hadir juga Yaren yang memutuskan untuk menghadiri resepsi saudara tirinya itu meski dirinya pikir dirinya tidak diundang, pesawat mereka baru saja mendarat sekitar tiga jam yang lalu, Ayaz sudah menyetujui ajakannya untuk menghadiri pesta, dan Yaren dengan persiapan seadanya langsung saja bergegas menuju hotel tempat acara resepsi pernikahan Raisa dan Harun berlangsung.


Meski begitu, Yaren tetap cantik dengan riasan tipis di wajahnya, gaun yang bernilai fantastis yang nyatanya sudah disiapkan Rymi untuknya kini berbalut sempurna di tubuhnya. Sama sekali tidak terlihat seperti tanpa persiapan.


Langkah kakinya ingin menuju Argantara yang terlihat seperti sedang kesal, Yaren bingung harus mengatakan apa saat bertemu dengan Papanya ini, terakhir kali mereka bertemu, Argantara masih melayangkan tatapan tidak suka padanya.


Namun sebagai seorang anak, Yaren merasa dirinya tetap harus menyapa bukan.


"Akan aku temani!" ucap Ayaz yang berada di sampingnya, ia seolah tau kegelisahan hati Yaren.


Ayaz menggenggam erat tangan istrinya itu, kemudian mengecupnya singkat, "Percaya saja padaku!" lanjutnya.


Keduanya benar-benar menghampiri Argantara, Yaren memberanikan diri untuk menyapa, "Papa..." serunya.


Argantara menoleh, di lihatnya sang putri yang sebenarnya begitu dirinya rindukan, namun melihat siapa yang mendampingi Yaren Argantara kekeh ingin menepis segala kerinduan itu.


"Kau juga hadir?" tanya Argantara, pertanyaan semacam apa itu, itu sedikit menyinggung.


"Apa istriku tidak boleh hadir di resepsi pernikahan adiknya?" tanya Ayaz, dengan nada sindiran, sudut bibirnya terangkat sedikit.


Argantara memalingkan muka, pria paruh baya itu memejamkan mata, "Kau yang memutuskan untuk keluar dari rumah ini!" ucap Argantara, penghinaan dari Jovan Dirga rasanya masih terngiang, dan kemudian suami dari Yaren ini, wajahnya saja begitu terlihat menyebalkan, Argantara tampak kesulitan mengendalikan diri.


"Pa..." lirih Yaren.


"Tuan Argantara!" pekik Ayaz, ia tidak terima penghinaan ini.

__ADS_1


"Aku sudah memberikan dia padamu, terserah mau kau apakan dia..." ucap Argantara tanpa sadar, ia terlalu emosi hingga melupakan bahwa ia sedang menghadapi putrinya sendiri.


"Benarkah? Meski aku membunuh Yaren di hadapanmu?" tanya Ayaz.


Argantara menoleh, Yaren sudah menjatuhkan air matanya, "Jangan menangis Yaren, air matamu terlalu berharga jika dibiarkan untuk menangisi pria konyol ini, sama sekali tidak bisa melihat kenyataan, yang salah di bela mati-matian sedang anak sendiri malah dibuang." lanjut Ayaz lagi. Ingat dengan perkataan Rymi, Ayaz tidak punya cukup kesabaran, jadi jika Argantara akan habis hari ini, maka anggap aja itu sebuah kesialan.


"Kau!" berang Argantara.


"Jika mendengar sebuah kenyataan tentang putri bungsumu yang sangat kau agungkan itu, maka mungkin kau akan terkena serangan jantung detik itu juga!" Ayaz tak kalah garang memberi Argantara peringatan.


"Ayaz.... Sudah!" lerai Yaren.


"Kalian tidak diundang, tapi beraninya berbicara omong kosong!"


"Tidak diundang? Kau bercanda?" Ayaz menatap lucu Argantara.


Argantara pun tanpa rasa bersalah telah membuat Yaren kecewa untuk kesekian kalinya, ia malah menatap balik Ayaz dan Yaren dengan ejekan.


Yaren menggeleng pelan, tangannya terulur menutupi mulutnya yang sudah hendak terisak. Pilu, benar-benar pilu. Ingin rasanya ia pulang saja, keputusannya dengan tulus hati untuk hadir melihat Raisa bersanding ternyata adalah salah.


Namun di tengah kemelut perasaannya, tangan kekar suaminya itu langsung saja mengusap tangannya yang dingin, seolah memberinya kekuatan, "Ada aku!" ucap Ayaz.


Lalu, Ayaz mengeluarkan sebuah undangan pernikahan Raisa dan Harun dari balik saku tuxedonya, dan melemparkan tepat di wajah Argantara.


Argantara terkejut karena perlakuan Ayaz, dengan malu yang memuncak ia mengambil surat undangan itu, ia membaca pada siapa undangan itu di tujukan.


Dan alangkah terkejutnya ia saat membaca sebuah kenyataan itu, "Sona Blue Hotel adalah milikmu?" ucap Argantara tidak percaya.


Itu berarti, mereka semua berdiri di gedung yang adalah milik suami dari Yaren ini, bukankah itu tidak bisa dipercaya? Oh Tuhan, bagaimana mungkin?


Bersambung...

__ADS_1


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰...


__ADS_2