
"Cup!" mata wanita itu melotot karena serangan tiba-tiba yang dilayangkan dokter Amri. Dirinya tidak percaya akan mendapat jackpot mengerikan seperti ini. Berciuman dengan pria asing saat baru pertama kalinya ia mengunjungi tempat untuk orang dewasa seperti ini.
"Sialan!" umpatnya saat ciuman paksa itu bisa terlepas, tangannya dengan pasti sudah akan mengayun mendarat di pipi dokter Amri, namun dengan kecepatan tangan dokter Amri tangan itu langsung saja dicegahnya.
Dan malah, dokter Amri mendaratkan lagi ciuman ke duanya. Oh ya Tuhan, kesialan semacam apa ini?
Dokter Amri menajamkan telinganya, ternyata Wana bukan memanggil dirinya, karena terdengar ada seorang pelayan yang kini sedang terlibat percakapan dengan keduanya.
Dokter Amri melepaskan ciumannya, karena begitu takut ketahuan ia langsung saja menarik tangan wanita itu, membawa wanita itu bersamanya.
"Hei, hei lepaskan, dasar gila!" teriak gadis itu.
"Kita perlu bicara." sahut dokter Amri dingin.
Gadis itu hanya bisa pasrah sembari menahan kemarahannya, ia menggerutu tiada henti selama perjalanan menuju mobil. Dia juga tidak bisa dengan jelas mengenali pria yang menyeretnya, berkeinginan untuk menancapkan kuku serta mencakar-cakar tubuh pria itu pun ada dalam niatnya.
Dokter Amri membuka pintu mobil, menyuruh gadis itu masuk, ia bukanlah orang yang tidak bertanggungjawab, meski dirinya melakukan itu dalam keadaan terdesak dan menganggap itu adalah hal paling gila seumur hidupnya, namun ia masih tau cara menghargai wanita.
"Siapa namamu?" tanya Dokter Amri, sebisa mungkin ia bersikap normal untuk mengurangi kecurigaan gadis ini akan betapa brengseknya ia.
"Nil." sahutnya dengan marah. Ia melihat ke arah pria itu, dan alangkah terkejutnya gadis bernama Nil itu saat melihat Dokter Amri.
Ya Tuhan, kenapa ganteng?
"Oke Nil, sebelumnya aku minta maaf, sudah dengan tidak sengaja melakukan hal itu padamu, tapi meski bagaimanapun kau benar-benar sudah menyelamatkanku dalam kesulitan, aku berhutang padamu. Dan mengenai sikap kurang ajarku, aku siap saja menerima hukuman darimu!" ucap Dokter Amri.
Dan bodohnya, Nil malah terpaku menatap bibir yang tengah berbicara padanya itu, bukankah bibir itu juga yang tadi sudah merasai bibirnya.
"Nil..." sapa dokter Amri lagi.
"Ahh, iya... Pak, eh Om!" sahut spontan Nil, ia dengan bingung juga berpikiran harus bagaimana memanggil pria dewasa di dekatnya ini, tapi meski begitu pria itu juga sangat tampan menurutnya.
"Ehhm." Dokter Amri begitu canggung akan panggilan Nil terhadapnya, siapa yang menyangka kalau korbannya malam ini ternyata masih gadis belia, sungguh dirinya tidak bermaksud sama sekali.
"Kau, terlihat seperti anak sekolahan, untuk apa ke tempat seperti ini?" tanya Dokter Amri, ia mulai tidak suka dengan hal yang menyimpang.
"Ya, seharusnya memang tidak, aku baru saja lulus hari ini, dan umurku juga sudah delapan belas tahun bulan lalu, jadi aku rasa aku sudah bisa meneliti penasaranku?" jawab Nil santai.
__ADS_1
Dokter Amri mengangguk pelan, "Apa bagusnya, apa kau pergi sendiri?"
"Sebenarnya aku ke sini dengan temanku, tapi dia pergi ke toilet dan aku saat tadi sedang berjalan-jalan mencari tempat kosong, mana tau akan dapat jackpot dan berakhir di sini!" Nil tertawa renyah.
"Aku minta maaf." ucap dokter Amri menyesal.
"Sudahlah tidak apa! Semuanya juga sudah terjadi, bagaimanapun hal seperti itu tidak untuk dikembalikan."
Harusnya kalau bisa memang dikembalikan, dua kali juga harus dibalas dua kali, aku tidak menyesal sama sekali.
"Kau tidak usah masuk ke dalam lagi, tidak baik untuk anak seusiamu, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Dokter Amri, namun karena ponselnya bergetar, ia lalu mengambil ponselnya di saku, melihat ada beberapa pesan yang dikirimkan asistennya. Memang sedikit mengabaikan Nil karena larut dengan pekerjaannya.
Nil merasa bosan, merasa tidak dihargai. Gadis itu cemberut, mengapa orang ganteng suka semaunya? Ketua Osis di sekolahnya juga, ganteng dan suka semaunya.
"Tidak perlu, Om sepertinya sibuk, aku akan masuk ke dalam untuk mencari temanku lalu pulang bersamanya." ucap Nil, berhasil membuat Dokter Amri menghentikan aktivitasnya.
"Om?" panggilan itu lagi, seketika dokter Amri hendak bercermin, apa dirinya memang sudah layak dipanggil begitu?
"Kenapa?" tanya Nil.
Nil terpaku saat membaca kartu nama yang baru saja diberikan padanya itu. Seorang Dokter! Ini bukan lagi jackpot!
...***...
Pagi menjelang, Rymi masih belum juga pulang, ia benar-benar menunggui Marco.
"Rym." seru Marco saat ia membuka mata.
"Daddy."
"Apa Ayaz ke sini?" tanya Marco langsung.
"Tidak Dad, mungkin nanti." jawab Rymi.
Marco nampak suram, entah mengapa ia rasanya tiba-tiba ingin melihat wajah anak itu, mungkinkah karena itu anak Nindi, tidak peduli siapa Ayah kandungnya, dia ataupun orang lain, tapi bagi Marco, Ayaz adalah anak Nindi, wanita yang sampai kini masih memenuhi seluruh hatinya.
Mengatakan sudah move on, itu hanya sebagai penyemangat diri saja, yang ada Marco saat ini malah begitu merindukan wanita yang nyatanya kini sudah pergi lebih dulu meninggalkan dunia ini.
__ADS_1
"Daddy kenapa?" tanya Rymi saat melihat raut wajah tidak semangat dari Daddynya.
"Rym, apa Ayaz akan membenciku?" tanya Marco.
"Membenci?" tanya heran Rymi. Namun kemudian ia tersenyum seolah mengerti, "Jelas saja, bukankah sudah kami katakan Daddy tidak boleh lagi minum alkohol, apa lagi sampai begitu mabuk dan sekarang membuat Daddy kecelakaan seperti ini, siapa yang tidak akan marah, pekerjaanku dan Ayaz harus bertambah lagi kan." sungut Rymi, nada bicaranya jelas sekali pura-pura kesal.
"Harus merawat pria tua yang sakit-sakitan!"
"Rym..." lirih Marco, menatap putrinya itu dengan serius.
Rymi bisa merasakannya, seketika ia merasa ada yang tidak beres dengan Daddynya.
"Aku tidak tau bagaimana mengatakannya, aku dengan bodohnya menyarankan Ayaz untuk membunuh ayah kandungnya." ucap Marco, wajahnya sudah memerah, sepertinya ia mulai menyesali kata-katanya waktu itu.
"Hah?" Rymi melongo, "Apa sebenarnya maksud Daddy?"
"Rym, Nindi... Nindi, nama seorang wanita yang pernah terucap dari mulutku ini, adalah Nindi yang sama dengan nama Ibunya Ayaz." ungkap Marco.
Rymi terduduk di kursi, ketakutannya benar-benar terjadi.
"Daddy, apa Daddy sudah memastikannya?"
"Aku sudah menemui Raihan, dia yang memberikan fakta itu, aku tidak ingin percaya tapi tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya."
"Daddy..."
"Rym...," ucap Marco ragu.
"Apa?"
"Bagaimana? Bagaimana, kalau aku Ayah kandungnya? Dia harusnya membunuhku kan kalau mengikuti rencana?"
Seketika tubuh Rymi dan Marco melemas, bagaimana kenyataan ini bisa mempermainkan mereka?
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1