Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Dia sudah tiada.


__ADS_3

"Dia sudah tiada?" tanya Marco pada Ayaz dan Nindi.


Ayaz mencoba bersikap biasa saja saat bersama Marco, meski rasanya untuk menanyakan alasan Marco meninggalkan Ibunya dulu sudah diujung lidah. Namun, tidak bisa dirinya lakukan, mungkin lebih tepatnya Ayaz tidak siap mendengar alasannya.


"Mengapa Tuan Marco sampai repot-repot kemari?" tanya Ayaz, masih mencoba bersikap santai.


Tidak seperti Ayaz, sedang Marco merasakan canggung luar biasa saat Ayaz bertanya begitu.


"Aku... Aku hanya ingin melihatnya, maksudku ingin memastikan bagaimana dia dibereskan." ucap Marco, jelas sekali pria paruh baya itu gugup dalam pengucapannya. Marco tidak pernah sesulit ini menghadapi seseorang. Sungguh!


Rymi tampak dilema, ia tidak tau harus berpihak pada siapa, pada Ayah angkatnya yang terlihat begitu menderita, atau pada seseorang yang sudah bagai saudara baginya ini, yang terlihat biasa saja namun entahlah bagaimana isi hati di dalamnya.


Ayaz mengangguk, "Aku akan pastikan tidak akan terjadi kesalahan, tidak akan melibatkan namamu kalaupun jika saja mayatnya ditemukan." ucap Ayaz. Seperti biasa, meyakinkan Marco akan keprofesionalannya.


"Oh, aku percaya padamu!" ucap Marco.


Ayaz pamit untuk menuju lokasi pembuangan tubuh Sian, di sana juga sudah menunggu beberapa anak buah Marco yang siap membantunya mengantarkan Sian menuju tempat yang sudah mereka siapkan.


Tinggallah Marco dan Rymi yang terlibat saling pandang. Dengan pemikiran masing-masing tentang Ayaz.


"Kau lihat Rym, dia bisa bersikap seperti itu? Aku harus apa?" ucap Marco, sungguh sebenarnya ia begitu bingung akan kondisi hubungannya dengan Ayaz. Benarkah Ayaz tidak mengetahui apapun, apa lagi bahasa wajah itu sulit sekali terbaca olehnya.


"Daddy, dari pada memikirkan hal itu, entah Ayaz sudah mengetahuinya atau tidak, lebih baik Daddy persiapkan diri." ucap Rymi, ya hanya itu yang menurutnya bisa Marco lakukan, karena siap atau tidak suatu saat nanti Marco pasti harus menjelaskannya.


"Mulailah merangkai kata-kata yang tepat, supaya penjelasan yang Daddy berikan bisa dengan mudah diterima dan dimengerti oleh Ayaz, aku beri tahu, jika seseorang sedang tidak baik-baik saja maka sulit untuk menerima penjelasan yang bertele-tele." tambah Rymi lagi.


"Untung saja jika Ayaz mau mendengarnya." sahut Marco.


"Aku bahkan tidak yakin yang berada di sampingku ini adalah Daddyku, dia terlihat putus asa, aisshhh mau bagaimana lagi, ini menyedihkan!" ledek Rymi.

__ADS_1


"Anakku, kau mau mati ya!" Marco memandang sengit Rymi.


Sementara itu,


Ayaz tersenyum smirk, melihat tingkah Marco yang seperti tadi semakin meyakinkan dia tentang ucapan Marco yang ia dengar perihal siapa mereka.


"Adakah orang seperti dia merasakan bersalah?" gumam Ayaz.


Langkahnya sampai di sebuah jembatan, tempat itu terlihat sepi dan jauh dari keramaian, Ayaz melirik arlojinya, jam dua dini hari, rasanya waktu pun berpihak padanya kali ini.


"Lakukan!" titah Ayaz.


Salah satu anak buah Marco mengangguk, mengisyaratkan pada yang lainnya untuk melakukan sesuatu pada tubuh Sian dengan segera.


Dua orang sudah menunggu di bawah, saat tubuh Sian di buang ke lautan kedua orang yang menunggu di bawah itu siap menyelam, membawa tubuh Sian sedikit menjauh dari jembatan itu, menuju dasar laut, di sana sudah tersedia semacam peti mati yang terbuat dari besi untuk menyembunyikan tubuh Sian, mereka meletakkan tubuh Sian di peti mati itu dan lalu menutupnya kemudian menguncinya rapat dan bersiap kembali ke daratan, tugas mereka sudah selesai untuk langkah pertama.


Ayaz kembali ke pelabuhan, dia ingin menemui orang-orang suruhan Sian yang kemarin sempat mengikutinya. Mungkin akan sedikit memberi pelajaran untuk orang-orang yang kelewat setia itu.


"Kakak di sini?" tanya Yaren, saat dirinya terbangun wajah yang didapatinya nyatanya bukanlah wajah sang suami, melainkan wajah saudaranya.


"Ayaz sedang ada urusan sebentar, baru saja pergi, bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja!" jawab Yaren, mencoba tersenyum meski dalam hatinya sedikit kecewa.


"Dia terus saja menjagamu seharian ini, dan baru saja pergi untuk suatu urusan, rumah kalian kan terbakar, Ayaz harus mengurus itu semua." ucap Jovan berdusta.


Yaren menerbitkan senyumnya lagi, ya dirinya tidak boleh bersikap egois meski dalam hatinya meronta-ronta tidak tidak terima, sungguh dirinya hanya mau Ayaz.


"Apa tidak mau ditemani Kakakmu ini?" sindir Jovan. Ia melihat wajah tidak puas Yaren, meski Yaren membalutnya dengan senyuman sayangnya Jovan masih bisa membaca itu.

__ADS_1


"Kakak..." manja Yaren.


Lalu Jovan pun tertawa, serasa berhasil menghibur adiknya itu.


"Ah iya, kenapa baru datang sekarang? Kakak tau, Ayaz ditikam oleh seseorang saat menyelamatkanku, aku menangis bahkan hampir tiap hari, tapi Kakak tidak datang untuk menghiburku ataupun menjenguk suamiku, ke mana saja selama itu?" tanya Yaren, dirinya benar-benar geram, baginya sebagai seorang yang berteman dengan Ayaz tentulah kakaknya ini tau bukan jika sudah terjadi sesuatu pada Ayaz. Mereka di bawa ke tempat yang sama seperti kali ini, lalu waktu kemarin ke mana saja kakaknya ini.


Jovan tersenyum, ia membelai lembut pipi Yaren, jangankan untuk menemui Yaren, bergerak ke luar dari kapal itu saja Jovan tidak bisa, bahkan ia sama sekali tidak pernah pulang ke rumah selama ini, untung saja Cemir berada dalam pengawasannya hingga ia tidak perlu khawatir terlalu.


Lagi pula ada banyak orang yang membantunya mengurus sang adik di rumah.


"Maafkan Kakak ya!" ucap Jovan lembut.


Yaren sedikit cemberut, mungkin benar karena mereka nyatanya memang ada hubungan darah, Yaren seolah bisa merasakan begitu dekat dengan Jovan, padahal rasanya ia dan Jovan baru saja saling mengenal kemarin, namun Yaren merasa Jovan bagaikan seorang kakak yang benar-benar bisa melindungi seorang adik.


"Kali ini saja, lain kali aku tidak akan memaafkanmu!" ucap Yaren mengancam, namun dengan nada manjanya.


"Ah iya, bagaimana kabar Cemir?" tanya Yaren antusias.


"Cemir?" bingung Jovan, dia saja belum pulang selama ini, "Dia baik-baik saja!" jawab Jovan. Seharusnya di kamera pengawas menunjukkan Cemir baik-baik saja, tapi entahlah saat Cemir berada di luar, dia tidak bisa mengawasi itu.


"Apa dia jadi kuliah?" tanya Yaren lagi.


Jovan mengangguk, "Ya, apa kau juga mau kuliah?" tanya Jovan.


Yaren menunduk, dirinya juga ingin kuliah, tapi entah Ayaz akan mengizinkannya atau tidak, untuk keluar rumah saja Ayaz selalu melarangnya, entah apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Ayaz tentang hidupnya itu, Yaren merasa begitu banyak keganjalan yang dilihatnya pada diri seorang Ayaz Diren.


"Kenapa? Apa Ayaz tidak mengizinkan kau kuliah?" tanya Jovan lagi karena melihat ekspresi murung Yaren.


"Dia bahkan tidak menyuruhku keluar bergaul dengan para tetangga terlalu akrab, apa Kakak yakin suamiku itu akan mengizinkanku kuliah lagi?" ucap Yaren lirih.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2