Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Bau apa ini Ayaz?


__ADS_3

Kita, berada di perahu yang sama! Jangan sia-siakan peluang yang nyata di depan sana, kesempatan tidak datang dua kali.


Ayaz, pria itu memejamkan matanya, mencoba menyelami, membayangkan langkah demi langkah yang akan ia lalui saat memutuskan untuk kembali bekerja sama dengan Marco.


Perihal siapa ayah kandung, yang membuatnya harus mengikuti rencana Marco.


Aku, Ayaz Diren, akan membalaskan kematian Ibuku, akan kuwujudkan siksa yang begitu pedih untuk mereka yang telah membuat Ibuku menderita. Aku bersumpah, aku bersumpah!


Air mata itu tak terhindarkan menetes, bagaimanapun harus ada yang bertanggung jawab atas kesakitan ini.


Donulai, Sian, dan siapapun Ayah kandungnya, tak akan Ayaz biarkan untuk hidup dalam ketenangan.


Hari baru, sudah akan dimulai.


...***...


"Hahaha, aku tau, pada akhirnya kau tidak punya pilihan lain." ucap Jovan, seringainya nampak sombong dilihat Dokter Amri.


"Katakan di mana Yaren?" sergah Dokter Amri.


"Hei, apakah saat ini kau datang untuk membangun kesepakatan?" tanya Jovan.


"Aku bisa membuktikan itu, katakan saja di mana Yaren?" sahut Dokter Amri, dirinya sungguh tidak sabar, bagai putus harapan saat Cemir tidak bisa dirinya temukan.


Jalan satu-satunya hanya Jovan, meski ia tidak ingin namun semakin lama Yaren tidak diketahui keberadaannya, ia tidak tau apa yang terjadi pada wanita yang dirinya cintai itu.


"Kau terlalu bersemangat Pak Dokter, Yarenmu berada di tempat yang aman, tenangkan dirimu!" ucap Jovan.


"Kau selesaikan bagianmu dulu!" titah Jovan lagi.


Dokter Amri mendengus kesal, lalu memutuskan untuk kembali ke rumah sakit untuk melaksanakan tugasnya.


Jovan tersenyum smirk melihat dokter Amri, baginya Dokter Amri sudah sangat terlambat saat ini.


"Sungguh cinta yang sia-sia!" gumamnya.


Jovan mengambil sebuah foto dari laci meja kerjanya. Menatap wajah-wajah di foto itu, hatinya sakit tiap kali memandangi itu.

__ADS_1


"Mengapa kau memberikan rasa sakit ini? Kalian tau, sampai hari ini pun aku masih belum bisa menerimanya, tapi kalian tenang saja, aku akan menjaga segala yang sudah kalian titipkan, kalian tidak perlu khawatir."


"Semuanya akan baik-baik saja, aku tidak akan membiarkan adik-adikku menderita lagi, pasti!"


Jovan mengusap lagi wajah-wajah di foto itu, pikirannya berkelana membayangkan sebuah keluarga yang utuh dulunya. Namun saat sekarang semua itu hanyalah kenangan belaka, yang selalu saja berhasil menyakitinya.


...***...


"Yaren..." seru Ayaz, ia baru saja sampai rumah ketika melihat Yaren tidak ditemukannya di manapun.


"Yaren..." Ayaz cukup panik, di pinggiran kota ini Yaren tidak mempunyai teman ataupun seseorang yang dekat, apa tanpa sepengetahuannya Yaren sudah berinteraksi terhadap tetangga? Pikir Ayaz.


Ayaz melangkahkan kakinya untuk menemui tetangga kiri dan kanan rumahnya, menanyakan keberadaan istrinya barang kali Yaren memang sedang bertamu di sana.


"Apa kamu mencari istrimu?" tanya seorang wanita paruh baya saat melihat Ayaz tampak kebingungan.


"Ah iya Bu, kira-kira apa Ibu melihatnya?" tanya Ayaz.


"Dia di rumah yang berada di ujung gang sana, ada demo masak di sana, sebentar lagi selesai tidak usah khawatir!" jawab Ibu itu, Ayaz sedikit lega mendengarnya.


"Dia sangat cantik, orangnya juga ramah, hanya saja benar memang sedikit pendiam. Ah ya sudah, nanti saat saya ke sana saya akan bilang kalau suaminya sudah datang." ujar Ibu itu lagi.


Ayaz mengangguk, langkah kakinya kembali ke rumah, perasaannya sedikit lega karena tadi ia sempat mengira kalau Yaren pergi meninggalkannya.


Lima belas menit berlalu, Yaren sudah kembali ke rumah, Ayaz sedang menyiapkan makan malam saat Yaren menampakkan wajah ketakutannya.


"Ada apa?" tanya Ayaz.


"Kamu ke mana aja?" tanya Yaren lirih.


"Aku kerja, kamu pasti bosan yah di rumah terus, nggak papa... Aku nggak marah kok!" ucap Ayaz, tidak ada raut kemarahan malah Ayaz tersenyum manis menatap istrinya itu.


Yaren menarik kedua ujung bibirnya, ia kira suaminya itu akan marah karena dia mencoba bergaul dengan tetangga.


"Kamu nggak marah?" tanya Yaren lagi memastikan.


Ayaz tersenyum lagi, menampilkan deret giginya. "Yah, sesekali aku rasa tidak apa." ucap Ayaz.

__ADS_1


"Makasih ya!" ucap Yaren sembari tangannya menggenggam satu tangan suaminya. Terimakasih karena sudah sedikit membebaskannya. Entah mengapa, Yaren bahkan tidak punya niatan untuk kabur seperti waktu itu, baginya hidup dengan Ayaz yang seperti saat ini lumayan membuatnya nyaman, Ayaz seolah sudah benar-benar berubah, pria itu selalu saja memperlakukannya dengan baik.


"Kau pasti tertekan, maafkan aku Yaren yang tidak bisa membebaskan hidupmu." lirih Ayaz.


"Aku cukup senang dengan hidupku, maksudku hidup kita yang saat ini." sahut Yaren.


"Seperti waktu itu, aku yang meyakini bahwa kau memang orang baik, meski kau selalu menyangkalnya tapi di sini aku masih punya keyakinan, bahwa kau memang orang baik Ayaz." lirih Yaren lagi, mungkinkah dirinya memang sudah jatuh cinta pada sang suami?


"Aku bukan orang baik Yaren..."


"Shuttt!" Yaren menghentikan perkataan Ayaz, "Kau mengatakannya lagi, tapi... Perkataan itu malah semakin membuatku yakin bahwa kau bukanlah orang yang buruk, kau pasti mempunyai alasan untuk semuanya." ucap Yaren.


"Aku hanya minta, jangan kasar padaku... Itu membuatku sakit Ayaz."


"Kau pasti tertekan akan sikapku!" ucap Ayaz.


"Kau yang membuatku seperti itu, jadi hanya kau lah yang bisa memperbaikinya." Yaren semakin mengeratkan genggamannya, air matanya sedikit menetes, "Apapun yang aku dengar dan lihat tentangmu nanti, aku hanya akan mempercayai Ayaz yang sedang berada di hadapanku saat ini."


"Terimakasih, terimakasih Yaren." ucap Ayaz, pria itu langsung saja memeluk istrinya.


"Aku mempercayai kamu seperti pertama kali kita bertemu."


Yaren, aku tidak peduli bagaimana perasaanmu terhadapku saat ini, kau memandangku sebagai apa, menganggapku apa, bagiku kau sudah melangkahkan kakimu memasuki duniaku, dan aku tidak akan dengan mudah membiarkanmu pergi.


Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayai aku yang bajingan ini, tapi jika benar apa yang kau katakan tadi, aku bisa memastikan sebelum aku mati... Aku hanya akan tetap memilihmu.


Ayaz membelai pelan wajah istrinya, mata keduanya terlibat tatap, pelan wajah itu mendekat, semakin mendekat mengisyaratkan bahwa keduanya sama-sama menginginkan.


"Cup!" bibir itu mendarat mulus di bibir Yaren, melu*at candunya, Ayaz lagi-lagi merasakan jantungnya berdetak lebih kencang, Yaren... Semenjak ia mengambil kesucian Yaren di malam pertama mereka, Ayaz mulai menyadari bahwa ia memandang Yaren dengan cinta bukan hanya has*at belaka.


"Tunggu... bau apa ini Ayaz?" tanya Yaren dengan sedikit kecewa terpaksa menghentikan kegiatan panas mereka.


Ayaz mengendus dan nampaknya benar saja seperti bau.... "Astagah!" pekiknya keras.


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...

__ADS_1


__ADS_2