Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Mengapa?


__ADS_3

"Siapa anda?" tanya Dokter Amri.


"Mari ikut kami sebentar, Bos kami ingin menemui anda."


Dokter Amri bangkit dan mengenakan jasnya, menyangkut tentang Raisa apa mungkin orang ini adalah suruhan Argantara, pikirnya.


Dokter Amri diminta untuk masuk ke dalam sebuah mobil yang cukup mewah. Dan dirinya yakin sekali masih juga tidak mengenali orang yang katanya ingin menemuinya itu.


"Kau Dokter Amri?" tanya seorang pria, kira-kira lebih muda darinya, namun cukup berwibawa, Dokter Amri bisa menebak jabatannya dari sikap pria itu terhadapnya.


"Ada perlu apa?" tanya Dokter Eri langsung.


"Saya Jovan!" pria itu memperkenalkan diri.


"Apa tujuan anda menemui saya?"


Jovan menghembuskan napasnya pelan, "Anak yang dikandung Raisa, bukanlah anak saya. Jadi, bisakah kau membuktikannya?" ucap Jovan mengatakan niatnya.


"Heh, permintaan macam apa itu?" Dokter Amri tersenyum smirk.


"Aku, hanya mendekatinya karena sebuah alasan. Aku bahkan tidak akan pernah sudi melakukan hal gila semacam itu dengannya." ucap Jovan dingin.


"Kau bilang tidak sudi, tapi masih memacarinya, heh, konyol."


"Jika, kita... Berniat untuk menghancurkan lawan, maka jalan yang paling mudah adalah mendekati salah satu pihaknya."


"Permainan bisnis, aku sama sekali tidak tertarik!" Dokter Amri hendak membuka pintu mobil namun terang saja terkunci.


"Aku akan membayarmu!" ucap Jovan, berniat menawarkan kerja sama.


"Meski, kita punya tujuan sama, tapi aku tidak berniat untuk mempunyai sekutu." tolak Dokter Amri.


"Kau tidak tertarik dengan Yaren Motan?" ucap Jovan lagi.


Berhasil, Dokter Amri mematung kala nama wanita yang disukainya itu disebutkan.


"Dia menikah dengan Ayaz Diren, sungguh tragis hidupmu, bahkan sudah kehilangan sebelum bisa memiliki." sindir Jovan.


"Di mana Yaren?" berang Dokter Amri.


"Tentu akan kukatakan jika kau bisa mendukung penuh rencanaku!" tawar Jovan lagi.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa membantumu?" ucap Dokter Amri cepat. Jovan tersenyum smirk, mudah sekali ternyata membujuk Dokter keluarga Argantara ini, pikirnya.


"Karena, yang kau katakan pada Argantara di cafe tadi bukanlah sebuah opini, maka kau hanya perlu mengungkapnya." titah Jovan.


"Jadilah penghianat, dan kemarilah menjadi sekutuku!" lanjutnya.


"Penghianat?"


"Kau, akan menyebarkan berita ini, dan akan mempertanggungjawabkan semua itu dengan mulutmu!"


"Tapi sebelum itu, kau harus bisa membuktikan kalau anak itu bukanlah anakku, karena kau juga akan membersihkan namaku!"


"Mungkin setelah ini, kau akan dikeluarkan dari cap orang kepercayaan Argantara, atau bisa saja Argantara menuntaskan jabatanmu di rumah sakit ini, tapi tenanglah... Kapan saja kau butuh bantuan maka ulurkan saja tanganmu, aku akan dengan senang hati menyambutnya, kau cukup berpotensi untuk menjadi orangku!"


"Dan juga, setelah ini berhasil, kau bisa menemui Yaren, akan aku beritahukan di mana persembunyiannya." tawar Jovan. Entah Dokter Amri harus percaya atau tidak, sebuah jabatan sedang dipertaruhkannya, dicap penghianat oleh Argantara dirinya sama sekali tidak masalah, namun sebuah jabatan, karier yang sudah susah payah dirinya bangun, rasanya Dokter Amri tidak akan sanggup untuk menanggalkannya.


"Bagaimana?"


"Buka pintunya." pinta Dokter Amri, dirinya belum bisa memutuskan langkah apa yang akan dirinya ambil.


"Kau menolak tawaranku?" selidik Jovan.


"Saya tidak akan mau hidup berhutang budi, saya akan mencari Yaren sendiri, tanpa bantuan anda." tegas Dokter Amri. Setidaknya hanya itulah yang bisa dirinya sampaikan.


Kemudian, pria itu benar-benar melepaskan Dokter Amri.


"Bos, mengapa dilepaskan? Dia memegang kuncinya." tanya salah satu anak buahnya.


"Untuk apa memegang kunci kalau tidak berani membukanya, dia... Tidak punya pilihan lain, terhitung dari hari ini aku akan lihat, seberapa lama dia bisa mengabaikan kata-kataku." sahut Jovan yang terlihat bengis di mata anak buahnya.


...***...


"RAISAAAAA!!!" Teriakan Argantara menggema, para pelayan yang ikut menghuni rumah megah itu bahkan bisa melihat raut wajah tidak bersahabat pada Tuannya itu.


"RAISA KELUAR KAU!" teriaknya lagi.


"Ada apa sih Pa?" tanya Wana, dirinya juga cukup terkejut, kala melihat wajah marah suaminya.


"Diam kau!" berang Argantara pada istrinya. "Di mana anak itu?" tanya Argantara sinis.


"Di kamar, ada apa sih Pa, Raisa baru aja tidur, dia capek muntah-muntah mulu jangan di ganggu, nanti malam saja kalau..."

__ADS_1


"Panggil dia!" Argantara menatap tajam istrinya, sungguh demi apapun mendengar Raisa yang kelelahan akibat muntah-muntah, kenyataan itu semakin menyulut emosinya.


"Pa..."


"Panggil dia, kau tidak dengar aku menyuruhmu apa? Panggil dia, CEPAT!" teriak Argantara, dia sudah bagai orang kesetanan saat ini.


Wana yang kebingungan menghadapi tingkah suaminya itu mendengus kesal, baru saja datang sudah marah-marah tidak jelas pikirnya.


Wana segera memanggil anaknya itu, membangunkan Raisa dengan lembut yang nampak sedang pulas tertidur.


"Ada apa sih Ma?" tanya Raisa, wanita itu mengucek matanya karena merasa belum sadar sepenuhnya.


"Papa manggil kamu tuh!" ucap Wana.


"Kenapa nggak datang ke sini aja sih, biasanya juga nyamperin langsung ke kamar." tanya Raisa, "Aku lagi mager Ma, suruh aja Papa ke sini!" pinta Raisa lagi.


Wana meninggalkan kamar Raisa, dan menyuruh suaminya itu untuk menemui anaknya di kamar, namun saat dirinya sampai hendak menuruni tangga, Wana melihat raut wajah begitu menakutkan dari sang suami, persis seperti saat kejadian Yaren yang batal nikah waktu itu. Yang Wana lihat, apakah suaminya itu sedang menyimpan kekecewaan?


Wana berbalik lagi menuju kamar putrinya, dan bersikeras meminta Raisa untuk menemui Argantara, suaminya.


"Ada apa sih Ma!" keluh Raisa, dirinya benar-benar malas untuk bergerak, apalagi menuruni tangga seperti ini, Raisa merasakan kakinya sudah kelewat pegal bahkan sebelum kakinya itu melangkah.


"Eh, nurut aja, Papa kamu kayaknya ada masalah di kantor deh, wajahnya nyeremin banget, makanya nurut aja." pinta Wana.


"Kamu abis belanja apaan sih, kamu ngabisin duit lagi?" tanya Wana sembari menatap curiga putrinya itu.


"Aku nggak ngapa-ngapain Ma, ke kampus aja enggak, Mama kan tau sendiri kalau beberapa hari ini aku nggak enak badan." jujur Raisa.


"Udah, temuin aja dulu Papa kamu."


Wana dan Raisa sudah sampai di lantai utama, dilihatnya Argantara masih menatap keduanya dengan nyalang, seakan hendak menguliti keduanya.


"Ada apa Pa?" tanya Raisa santai.


"Kamu!" Argantara langsung merampas tangan Raisa dari tautan tangan istrinya. "Plakkk!" tangan itu tidak bisa terhindarkan untuk tidak menampar wajah mulus putrinya.


"Papa!" berang Wana, wanita paruh baya itu cukup terkejut akan apa yang suaminya itu lakukan.


"Papa sudah gila ya!" teriak Wana. Namun Argantara seolah tuli, pria paruh baya itu hanya bisa menatap putri bungsunya itu dengan penuh kebencian.


"Mengapa? Mengapa Raisa, mengapa kau harus melakukan ini padaku?" teriak Argantara menggema.

__ADS_1


Bersambung...


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2