
"Pak Dokter..."
"Ya?" Dokter Amri tampak penasaran, ekspresi gadis di hadapannya ini cukup menggemaskan menurutnya.
"Bisakah, aku..."
Dokter Amri masih menunggu, apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Nil.
"Maksudku..."
"Apa, Pak Dokter..."
"Tapi, emmh, apa Pak Dokter..."
"Nil!" seru Dokter Amri.
"Kita akan bertemu lagi, jika ada yang ingin kau pinta dariku, lebih baik kau pikirkan secara masak, dan..." Dokter Amri tersenyum lucu, "Persiapkan dirimu untuk mengatakannya, aku hampir gila menunggu apa yang kau ucapkan jika seperti ini!"
"Maafkan aku Pak Dokter!" Nil menunduk, dia adalah seorang idola di sekolahnya, tapi hari ini bahkan dirinya tidak bisa berkata banyak saat dihadapkan oleh orang yang disukainya.
"Tidak apa, tidak perlu minta maaf, aku bercanda, tapi tentang kita yang akan bertemu lagi, jika kau tidak keberatan tentukan saja tempatnya, aku akan menemuimu jika senggang. Kalau hari ini, kau sepertinya membuat lebih panjang antrian!"
Nil spontan menengok ke belakang, pintu masih tertutup, tapi benarkah dia membuat antrian menjadi lebih panjang.
Nil menunduk lagi, mengucapkan maaf berulang, lalu dia dengan perasaan tidak nyamannya permisi untuk keluar. Dan saat membuka pintu, alangkah terkejutnya Nil mendapati begitu banyak orang yang mengantri.
Aaiishhh, apa yang sudah aku lakukan?
...***...
"Benar begitu?" tanya Jovan. Memeriksa sekali lagi isi dari amplop yang dikirimkan untuk Ayaz. Sebuah bukti penganiayaan dua orang, namun Ayaz tidak mengenali siapa saja yang berada di foto tersebut. Karena wajah yang kusam dan juga ada banyak luka lebam, fotonya juga nampak diambil secara diam-diam, sehingga menambah sulit untuk Ayaz menganalisanya.
"Coba lihat sekali lagi?" pinta Jovan. Jika Ayaz tidak mengenali siapa saja di foto tersebut, apa lagi dirinya.
"Aku benar tidak mengenalnya. Kau lihat kan, itu lumayan sulit untuk dikenali."
"Apapun, dari penampilannya, rambutnya, pakaiannya, atau apapun yang bisa membantumu untuk mengenalnya, ini bisa dikirimkan oleh Sam, tapi bisa juga dikirimkan oleh orang lain mengatasnamakan Sam!" ucap Jovan.
__ADS_1
Ayaz tampak berpikir, lalu kemudian beberapa detik berlalu tampilan mimik wajahnya berubah, "Sian!" pekiknya.
"What?"
"Sian, mungkinkah Sian?" ucap Ayaz menebak.
"Keparat itu? Tapi, siapa orang-orang ini? Jika dia yang mengirimkan ini padamu, itu artinya orang ini berhubungan denganmu, siapa?"
Ayaz mengambil foto itu lagi, diamatinya dengan jelas, matanya terpejam mencoba mengusahakan semaksimal mungkin untuk mengingat sesuatu.
Apapun, dari penampilannya, rambutnya, pakaiannya, atau apapun yang bisa membantumu untuk mengenalnya.
"Asshhh, apa aku harus melibatkan Sam?" tanya Ayaz.
"Apa ini benar darinya?" tanya balik Jovan.
Ayaz menggeleng pelan, bagaimanapun entah mengapa ia tidak yakin kalau amplop berisikan foto itu adalah Sam yang mengirimkan.
"Orang ini memakai Sam untuk menekanku, menurutku meski orang ini mengincarku, seharusnya dia pasti juga mengenal Sam, aku dan Sam memiliki kesamaan yaitu tidak begitu banyak yang mengenali kami, bahkan Sam sengaja memakai nama Rangga supaya media tidak mengekspose masa lalunya." jelas Ayaz memberikan pendapatnya.
Ayaz menggeleng, menurutnya memang tidak ada yang mengikutinya.
"Keputusan Marco menyuruhmu untuk bersembunyi di hutan memang tepat, belum sampai sebulan kau tinggal di keramaian, bahkan hidup kalian sudah ada yang mengancam."
"Aku tidak bisa membawa Yaren ke sana."
"Karena Marco?"
"Awalnya iya, tapi saat ini, bagiku di sana bukanlah tempat Yaren."
"Yah, kau benar. Aku juga tidak bisa membiarkan adikku bertarung dengan sepi."
"Haaahh,"Ayaz menghela napas berat, "Aku sudah memberitahu dia, kau jelaskanlah nanti bagaimana!" ucap Ayaz tanpa dosa.
Jovan menatap Ayaz, matanya menyelidik berharap Ayaz mengatakan kebohongan, namun Ayaz yang dilihatnya tampak acuh itu membuatnya yakin dengan apa yang dikatakan baru saja adalah benar.
"Kemarin baru saja kau seolah keberatan akan statusku dan Yaren, lalu apa ini? Aku bahkan belum bersiap, sialan!"
__ADS_1
"Itu urusanmu!"
"Kau itu memang suka semaunya ya, aku tidak berharap Yaren akan gila menghadapi suami sepertimu, jangan membuatnya menangis, kau akan berhadapan denganku jika saja air matanya jatuh, aku tidak akan membiarkan itu." ucap Jovan, sarat akan ancaman.
"Apa kau baru saja mengancamku? Apa aku terlihat seperti takut denganmu? Aisshh, pikirkan saja bagaimana cara kau menjelaskannya, jika saja kau buat dia menangis mengetahuinya kenyataannya, aku bisa saja menghabisimu!"
Orang ini benar-benar tidak bisa disinggung, Jovan memalingkan muka, menatap pintu keluar ruang kerjanya, di balik sana ada seseorang yang pasti sedang menunggu penjelasannya.
"Kau gugup?" tanya Ayaz.
"Aku tidak pernah memepersentasikan diri segugup ini sebelumnya, orang mengenalku sebagai pemimpin yang paling berwibawa, aku merasa kecil di hadapannya."
"Bagaimana aku akan menjelaskannya, mengapa Ibu kami adalah orang yang sama." gerutu Jovan.
"Mengapa bertanya padaku?" tanya Ayaz, masih tidak peduli, selain tidak bisa disinggung nyatanya pemuda sombong di hadapannya ini sungguh tidak berperasaan.
"Hei, Ayaz! Entah dosa apa yang pernah aku perbuat di masa lalu hingga aku harus berurusan dengan orang sepertimu?" ucap Jovan frustasi.
"Kau seperti menyesal? Jangan kau kira pertemuanku dengannya adalah sebuah keberuntungan, gila saja!" Ayaz tak kalah sinis menatap lawan bicaranya itu.
Kedua orang yang nyatanya sama-sama membutuhkan namun seolah tidak terima dan selalu menolak bersama itu saling adu pandang, terlebih Ayaz, sungguh tidak percaya bahwa ia akan menjadi keluarga dengan Jovan, yang sebenarnya adalah orang yang hampir saja dirinya bunuh dulunya atas perintah Marco.
Namun karena Jovan yang awalnya adalah seorang informan, Ayaz memanfaatkan kesempatan itu, membiarkan pemuda itu hidup meski masih dalam pengawasannya, dan untuk itulah dia percaya akan kinerja Jovan dalam membantunya membalas dendam pada Sian.
Dan Jovan, pria itu merasa berhutang budi, karena Ayaz yang membiarkannya tetap hidup waktu itu membuatnya harus menuntaskan segalanya, budi harus dibayar dengan budi, namun siapa sangka memutuskan bekerja sama dengan Ayaz malah mengungkap seseorang yang bertahun-tahun dicarinya, Yaren Motan, adalah adik kandungnya. Namun setelahnya, haruskah dirinya mengakui kalau apa yang ditemukannya lagi adalah kenyataan pahit, jika waktu bisa diputar ulang, Jovan tidak akan setuju pria brengsek di hadapannya ini menikahi adiknya, tidak akan pernah.
"Jika waktu masih bisa diputar ulang, kurasa kau bukanlah orang yang tepat untuk menjadi suami adikku." ungkap Jovan berterus terang.
"Kenapa? Kau berlagak sok suci hingga seorang malaikat sepertimu merasa tidak sudi memiliki hubungan dengan setan?" tanya Ayaz.
"Kau terlalu perasa Ayaz, tapi yaaah!" Jovan mengangguk teratur, "Berhubung kau sudah mengatakan begitu, aku hanya perlu mengonfirmasinya, tapi aku mencoba percaya, karena untuk saat ini, mungkin itu saja yang harus aku lakukan!"
"Terlalu perasa, cih!" Ayaz mendengus kesal, "Aku bisa saja membunuhnya jika aku mau, bukankah hal semacam itu tidak akan menyulitkanku!"
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1