
"Tuan Muda, ada yang ingin bertemu dengan Tuan Muda!" ucap salah satu maid di kediaman Donulai mengabarkan.
Hari ini, karena kondisi Sam yang belum stabil, maka Tuan Donulai yang menggantikannya mengurus perusahaan, Sam sedikit bingung, siapa yang mencarinya kali ini. Bukankah jika urusan kantor, ayah angkatnya itu adalah sang raja bisnis, jadi kemungkinan tidak akan memerlukan kehadirannya.
"Siapa?" tanya Sam.
"Aku!" terdengar sahutan dari balik pintu.
Sam mendongak, seorang wanita yang baru saja mematikan panggilannya, namun kini sudah berada di balik pintu kamarnya. Secepat itu? Apa wanita ini memang sudah berada tidak jauh dari rumahnya saat menelpon tadi.
"Merve!" ucap Sam terkejut.
"Kau yang memintaku untuk menemukan keberadaanmu sendiri, bukan hal sulit bagiku, jadi Tuan Rangga tidak usah terkejut begitu!" sindir Rymi.
"Tolong tinggalkan kami sebentar, dan kunci pintunya." titah Sam pada maidnya itu.
"Baik Tuan Muda!"
...***...
Ayaz sungguh tidak bisa berdiam diri seperti ini, meski kehadiran Yaren membuatnya sedikit terhibur namun ada sesuatu yang menurutnya belum sempat ia tuntaskan, dan Marco? Mengapa pria itu hendak menemui Sian.
Kabar terakhir yang ia dengar dari Jovan, Sian sudah sekarat, di ambang kematian, lalu bagaimana ia bisa membiarkan Sian mati dengan mudahnya, tangan ini bahkan belum puas untuk menyiksa pria tua yang sangat dibencinya itu.
"Kau kenapa?" tanya Yaren saat melihat Ayaz mengepalkan tangannya seperti menahan sesuatu.
"Tidak apa?" sahut Ayaz.
"Besok, sudah bisa pulang, Dokter Mike mengatakan itu padaku. Ahhh, rasanya aku rindu sekali rumah kita!" ucap Yaren.
"Benarkah?" tanya Ayaz antusias, lalu mengapa Marco tidak mengabarkan padanya. Jika benar besok dirinya bisa pulang, maka ia bisa dengan segera pergi menemui Sian dan melihat apa yang bisa dirinya lakukan untuk memberi kenangan buruk sebelum kematian pria itu.
"Kau senang?" tanya Yaren.
"Harusnya begitu! Rumah kita, kamar kita!" Ayaz mengerling genit, Yaren malah tertunduk malu, ya ampun mengapa selalu saja membahas itu.
"Kau juga senang kan?" tanya Ayaz lanjutnya.
Yaren sedikit mengerucutkan bibirnya, membuat Ayaz gemas setengah mati, lalu tangannya dengan pasti menahan rahang Yaren.
__ADS_1
"Kalau begini aku jadi semakin bersemangat, kau memang istri yang pengertian." Ayaz langsung saja ******* bibir ranum istrinya itu, kondisinya sudah semakin pulih jadi Ayaz sudah bisa duduk dengan benar saat ini. Perawatan bak rumah sakit ternama yang disediakan Marco sungguh sangat membantu bagi Ayaz, buktinya ia bisa sembuh lebih cepat.
"Hemmppttt!" Yaren tidak siap, sedikit menikmati namun dirinya juga sedikit malu, Ayaz menyerangnya tiba-tiba sekali.
"Hah hah hah!" Yaren mencoba mengatur napasnya, meraup oksigen sebanyak-banyaknya, Ayaz memang suka semaunya.
"Makanya bibir digituin segala biar apa coba? Minta dicium, ayok kalau mau lagi." ucap Ayaz tanpa dosa telah membuat istrinya kesulitan bernapas.
"Ayaz, aku tidak siap!" ucap Yaren polos.
"Tidak siap? Lalu, apa sekarang sudah siap? Apa kita bisa memulainya lagi?"
"Ayaz!" Yaren memalingkan wajahnya, "Bukan begitu, itu tadi terlalu tiba-tiba aku jadi sedikit..."
"Apa aku harus bilang dulu sebelum mencium istriku?" potong Ayaz.
"Bukan begitu?"
"Yaren, bolehkah aku menciummu?"
"Ayaz!"
Yaren menganga tidak percaya, Ayaz bahkan tanpa malu menanyakan hal semacam itu?
"Jawablah, aku sedang butuh persetujuan istriku!"
"Ayaz, sudah!" ucap Yaren tertunduk malu.
"Yaren..." seru Ayaz lagi.
"Ya!"
"Apa bisa kita berciuman sekarang?" tanya Ayaz lagi seolah belum puas menggoda Yaren.
"Ayaz, sudah, masa hal begitu harus bertanya?"
"Lah kenapa? Aku kan hanya bertanya, supaya istriku bisa mempersiapkan diri." ucap Ayaz seolah berhasil membalikkan apa yang tadi pernah dikatakan Yaren.
"Maksudku tidak siap, itu tadi terlalu tiba-tiba, aku sedikit terkejut." Yaren masih mencoba menjelaskan yang dianggapnya kesalahpahaman itu.
__ADS_1
"Kadang hal yang tidak terduga juga kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh, aku rasa masih bisa dinikmati." ucap Ayaz beralasan.
"Iya, dinikmati, tapi aku hampir kehabisan napas tau!" kesal Yaren.
"Cup!" Ayaz gemas lagi, ia kembali menciumi Yaren saat melihat istrinya itu sedang kesal, "Jangan protes! Aku akan memberikan sebagian napasku, bukankah kau bilang tadi hampir kehabisan napas! Terimalah kebaikan dari suamimu ini." ucap Ayaz percaya diri.
Yaaa, terus saja begitu, sampai aku baper parah karena perlakuanmu ini.
"Yaren... Katakan apa yang kau inginkan dariku?" tanya Ayaz tiba-tiba.
"Mengapa?"
Mengapa? Mengapa tiba-tiba menanyakan itu? Dia ini serius atau hanya sedang menggodaku?
"Sebagai suami, aku rasa aku seharusnya menanyakan itu!" jawab Ayaz. "Apa aku sudah terlambat menanyakannya?"
"Aaahhh, tidak tidak, bukan begitu, aku tidak ingin apapun, tapi... Aku hanya ingin kau cepat sembuh dan kita pulang ke rumah, aku rasa saat ini hanya itu saja." jawab Yaren, sebenarnya ia juga cukup bingung, ia juga tidak mengerti apa sebenarnya yang dirinya inginkan, kalau boleh... Dirinya menginginkan Ayaz menjadi miliknya utuh, Ayaz bisa percaya padanya untuk menceritakan semua masalah suaminya itu, bisa berbagi keluh kesah dengannya, saling menggenggam menguatkan selayaknya pasangan lainnya, dan Yaren saat ini juga ingin menanyakan, 'Ayaz, apakah kau sudah jatuh cinta padaku?' atau lebih simpelnya, 'Ayaz, bolehkah aku jatuh cinta padamu, dan berharap kau juga merasakan hal yang sama.' Begitu, Apa ia terlalu berharap banyak?
Yaren takut cintanya tidak terbalas, meski Ayaz berkali-kali mengatakan pria itu mencintainya, namun Yaren tidak boleh lengah dan terbuai begitu saja. Bukankah pertemuannya dan Ayaz, sifat Ayaz dulunya, sangat tidak bisa dipercaya, kata-kata 'partner ranjang' seolah sudah membeku di ingatannya, Yaren tidak bisa dengan mudah mengabaikan kata itu dan mencintai sepenuhnya, meski Yaren juga tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri, saat ini... Mungkinkah ia sudah ditahap berharap, cinta Ayaz yang hanya untuknya.
"Yaren..." seru Ayaz lagi. Rasanya Ayaz tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain, Yaren begitu menggemaskan dan tidak akan pernah bosan untuk dipandangi lama.
Sudahlah, Ayaz sedang menjadi bucinnya Yaren tanpa sadar.
"Ya!" sahut Yaren.
"Aku mencintaimu!" ucap Ayaz. Matanya menatap Yaren penuh cinta, hanya ada Yaren saat ini yang selalu ingin dirinya bahagiakan.
Yaren terdiam, sudah berkali-kali Ayaz mengatakan itu, berkali-kali juga ia tersentuh, namun setelahnya berkali-kali juga ia menguatkan hatinya, berharap Ayaz serius akan perkataannya namun keraguan itu juga tidak bisa dirinya abaikan begitu saja.
"Aku mencintaimu Yaren, AKU MENCINTAIMU, AKU MENCINTAIMU, AKU MENCINTAIMU!!!" teriak Ayaz bagai orang gila. Tentu saja Yaren langsung tersadar, dan tangannya dengan sigap berusaha membekap mulut Ayaz, akan sangat memalukan jika sampai terdengar orang lain, Ayaz mengatakan itu sembari berteriak-teriak. Entah di mana Ayaz tanggalkan gelar pria cool dan minim ekspresi dulunya, Yaren juga tidak tau.
"Hemmmttt!" Ayaz berusaha melepaskan bekapan Yaren, dan tak lama Yaren melepaskan bekapan itu karena tidak tega saat Ayaz yang dilihatnya banyak bergerak saat mulutnya ia bekap begitu.
"AKU MENCINTAIMU, AKU MENCINTAIMU!" lanjut Ayaz lagi, pipi Yaren memerah bersamaan dengan kepanikan yang melandanya.
Padahal tidak taukah Yaren kalau ruang perawatan itu kedap suara, jadi menurut Ayaz bukan masalah kalaupun ia harus berteriak seperti orang gila begitu.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...