
"Ada apa?" tanya Ayaz, pria itu nampak tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan Rymi katakan padanya. Terlebih ada perasaan khawatirnya pada Marco, semalam Ayaz sadar telah meninggalkan bosnya itu dalam keadaan kacau, apa telah terjadi sesuatu dengan Marco, pikirnya.
"Nindi Rowans! Dia, nama Ibumu kan?" ungkap Rymi.
Ayaz memandang wajah Rymi lekat, terlihat keseriusan di sana.
"Kenapa?" tanya Ayaz.
"Donulai! Apa benar mereka keluarga Ibumu?" tanya Rymi langsung saja, wanita itu memang tidak pernah berbasa-basi.
"Marco sudah mengatakannya padamu?"
Rymi menggeleng, "Bos bahkan tidak menceritakan apapun padaku!"
"Lalu, dari mana kau tau?"
Rymi terdiam sejenak, merasa dirinya salah bicara, apa ia akan memberitahukan perihal nama yang terus saja disebut oleh Ayahnya dalam keadaan tidak sadar semalam.
Tidak, jangan, mungkin saja itu adalah rahasia Ayahnya, dalam hidupnya tidak semudah itu membeberkan rahasia seseorang, itu sama sekali bukan sifatnya.
"Feeling!" dusta Rymi.
"Kau, menambah kemampuan menganalisamu?" sindir Ayaz.
"Sudahlah, cukup katakan saja jawabannya, iya atau tidak!"
Ayaz menghela napasnya berat, "Sayangnya, iya!" jawab Ayaz.
"Jadi, karena itu kau melepaskan misi ini?" tanya Rymi. Wanita itu sempat memejamkan mata sebelum mengajukan pertanyaan ini, Ayaz yang dikenalnya tidak akan begitu mudah berbalik pada lawan, pasti ada sesuatu jika Ayaz benar melakukannya.
"Lebih dari itu!" jawab Ayaz.
"Ayaz!" berang Rymi.
"Rym, kau yang paling mengenalku, bahkan dibandingkan Marco, mungkin kau lebih mengenal diriku, bisakah kau mengerti bukan aku yang mengkhianati kalian, tapi karena bagiku ini semua harus kulakukan." jelas Ayaz.
"Harus kau lakukan? Candaan macam apa lagi ini Ayaz?" remeh Rymi.
Ayaz memejamkan matanya, "Rangga Donulai, aku tidak bisa membunuhnya!" ucap Ayaz.
"Rangga?"
"Dia, adalah saksi perjalanan hidupku! Aku tidak bisa melakukannya."
"Ayaz, kau sadar apa yang kau katakan?"
__ADS_1
"Lebih dari sadar! Marco tidak mengerti bahwa yang kulakukan adalah sebuah penghargaan pada seorang sahabat, orangku! Dulu, saat aku begitu menderita akibat kebrutalan Sian, Sam adalah saksinya, dia satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkanku, bahkan dirinya rela mengorbankan nyawanya untukku, lalu bagaimana bisa aku membunuhnya." jelas Ayaz lagi.
"Sam?" heran Rymi, mengapa Sam, siapa Sam?
"Iya, Sam! Samudra Rangga Donulai." sahut Ayaz.
Rymi tidak percaya, bahwa nama Bosnya itu memiliki nama tambahan. "Ayaz, kita sudah sepakat!" geram Rymi.
"Rym!" Ayaz mendelik tajam.
"Mungkin bagi kita yang seorang bajingan ini, pekerjaan membunuh bukanlah masalah besar, tapi tolong, hutang budiku terlalu banyak pada Sam."
"Dan kami?" Rymi menggelengkan kepalanya pelan, tidak percaya Ayaz akan mengkhianatinya.
"Sam dan kalian, mempunyai porsi cerita yang berbeda, aku juga tidak akan melupakan kalian, sama seperti aku yang tidak pernah melupakan Sam."
"Berbeda?"
"Rym, aku yakin kau tidak sama dengan Marco!" Ayaz bangkit hendak meninggalkan rekannya itu.
"Kau tidak bisa meninggalkan Marco seperti ini Ayaz." cegah Rymi.
"Dia yang memintaku pergi!"
"Dia sangat tertekan." keluh Rymi, berharap Ayaz akan kembali pada mereka.
"Ayaz!"
"Rym, aku masih orang yang sama, aku akan membalas dendam pada Donulai dengan caraku sendiri, namun untuk membunuh Sam, hal itu tidak akan pernah aku lakukan!" kemudian Ayaz benar-benar pergi meninggalkan Rymi yang bagi Ayaz nampak begitu banyak pengharapan.
...***...
Yaren menggeliat merasakan tidurnya sudah cukup, mengedarkan pandangannya dan tidak mendapati Ayaz di sampingnya.
Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam pagi, ke mana perginya Ayaz sepagi ini pikirnya.
Wanita itu kemudian bangkit dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, semalam sebelum tidur Ayaz mengatakan akan membawanya berbelanja.
Ayaz baru saja pulang dari menemui Rymi. Pria itu sudah memutuskan untuk pindah dari rumah hutan. Rumah itu milik Marco, dan sekarang Ayaz merasa tidak pantas lagi untuk menghuninya.
"Sayang..." serunya pada Yaren yang diyakininya sedang berada di kamar mandi.
Yaren mendengar itu, jantungnya berdegup kencang, mengapa Ayaz bisa berubah begitu lembut memperlakukannya dari kemarin?
Ayaz memilih untuk duduk menunggu Yaren di ranjang, rencananya Ayaz akan mengatakan niatnya pada Yaren untuk mengajak wanita itu pindah rumah.
__ADS_1
Pria itu mulai berpikir akan ke mana dirinya pindah, mencari hunian yang nyaman bukanlah perkara mudah di kota yang kejam ini. Apa lagi dirinya tidak bisa selalu menemani Yaren setiap waktu. Mengingat begitu banyak tindak kejahatan yang dirinya lakukan, Ayaz malah lebih memikirkan keselamatan Yaren.
Yaren keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan handuk, dirinya tidak membawa pakaian ganti tadi sehingga harus menahan malu kala Ayaz melihat tubuhnya begitu.
"Kau menggodaku?" ucap Ayaz, pria itu menatap Yaren genit.
"Bukan, bukan begitu, aku lupa membawa pakaian ganti tadi." jawab Yaren.
Gegas Yaren mengambil pakaiannya dan segera menuju kamar mandi lagi untuk berganti pakaian.
"Cepatlah Yaren, aku mau bicara!" seru Ayaz.
"Iya!"
...***...
Di sebuah ruangan CEO NS Group.
"Jadi, anak itu menjadi tersangka pembunuhan Ali Yarkan?" tanya Sian pada salah satu orang suruhannya.
"Iya Tuan!"
"Pastikan berita ini menyebar, Ayaz harus tau posisinya." Sian tersenyum smirk, baginya sekarang hanya tinggal menyingkirkan Ayaz untuk menguasai harta Nindi, karena kabarnya perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan milik keluarga mantan istrinya itu saat ini sedang terabaikan.
Namun sayang sekali, mantan istrinya itu membuat surat kuasa sebelum meninggalkan dunia ini, bahwa segala harta miliknya akan jatuh ke tangan Ayaz Diren selaku anaknya.
Dan hal lainnya adalah, membunuh Ayaz dan memastikan pemuda itu terbunuh dengan tangannya sendiri adalah hal yang paling harus dirinya lakukan, karena jika tidak, Ayaz bisa mengungkapkan kejahatannya kapan saja.
Saat ini mungkin Sian bisa sedikit berlega hati, Samudra, salah satu anak dari pelayannya, seorang yang dicapnya penghianat ini entah di mana keberadaanya, kalau saja suatu hari nanti Samudra dan Ayaz bertemu, mungkin hal itu adalah awal kehancurannya, dan Sian tidak bisa membiarkan itu terjadi. Baik Ayaz ataupun Samudra, keduanya harus dipastikan mati di tangannya.
"Semuanya belum diputuskan Tuan, hanya isu semata, namun tuduhannya mengarah ke Ayaz Diren selaku orang yang terakhir kali terlihat bersama Ali Yarkan." jelas anak buahnya lagi.
"Aku tidak mau tau, sudah pasti atau pun belum, rumor ini harus tetap beredar luas, jika kasus ini dibuka kembali dan Ayaz menjadi tersangka, maka itu akan lebih mempermudah jalanku!" ucap Sian.
"Baik Tuan!"
Tok tok tok, terdengar ketukan pintu dari luar ruangan.
"Masuk!" sahut Sian.
"Selamat pagi Pak, ini ada undangan untuk Bapak!" ucap Vina si sekretaris.
"Dari siapa?" tanya Sian.
"DN Company." jawab Vina mengabarkan.
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...