
Raisa sedang membereskan rumah baru yang akan mereka tinggali selama bersembunyi di London, beruntung waktu itu Papanya bersikeras untuk mengikutkannya pada les bahasa Inggris, jadi setidaknya hal itu cukup membantu sebagai penunjang hidupnya selama di negeri orang.
Argantara melihat Raisa yang tampak sibuk, dari tadi pagi Raisa berkutat dengan pekerjaan rumah, namun tidak juga selesai-selesai. Raisa memang tidak pernah diajarkan tentang bagaimana mengurus rumah, karena sungguh Argantara merasa nasib mereka tidak akan pernah seburuk ini.
Apakah sikapnya ini hanya sandiwara?
Rasanya Argantara masih tidak percaya saat ini ia bahkan bergantung hidup dengan anak tirinya, sementara Wana, istrinya itu entah di mana keberadaannya, setelah ketahuan berkhianat dengan tanpa perasaan meninggalkannya begitu saja.
Raisa mengusap peluh yang membanjiri wajahnya, ini sangat melelahkan, seumur hidup ia tidak pernah membayangkan akan menghadapi hal semacam ini.
Bukan dirinya tidak bisa menyewa orang untuk membersihkan ini, sebenarnya rumah itu tidak begitu kotor sebanyak yang ia lihat saat datang pertama kali, Raisa pikir mudah saja ia membersihkannya sendirian. Lagi pula mereka harus menghemat pengeluaran, biaya hidup di London tidak sedikit, dan dia tidak bisa bekerja apapun untuk menghidupinya, belum lagi kesehatan Papanya itu, ia memikirkan sesuatu yang lebih penting dari rasa ingin bersenang-senangnya.
"Apa Papa lapar?" tanya Raisa, masih berharap Papanya bisa mengangguk menanggapi pertanyaannya. Raisa sebenarnya ingin sekali marah karena Argantara seakan tetap ingin membuangnya, namun urung dirinya lakukan mengingat meski bagaimanapun Argantara adalah tetap Papanya, seseorang yang disebut sebagai cinta pertama meski nyatanya mereka tidak memiliki hubungan darah.
Argantara menatap Raisa penuh kekhawatiran, ia takut malah tidak bisa menjaga Raisa dengan baik, ia takut berbuat kasar dengan Raisa mengingat saat ini orang yang paling dirinya benci adalah Wana.
"Papa..." seru Raisa lagi.
Argantara mengangguk, baiklah ia akan mencoba menerima takdirnya, bagaimanapun hanya Raisa yang saat ini dirinya punya.
...***...
Yaren semakin mengeratkan pelukannya pada Ayaz, mengapa rasanya bahagia sekali, memiliki pasangan yang begitu mencintainya, Ayaz mengatakan itu semalam, berkali-kali menghujaninya dengan kata cinta yang rasanya semakin membuat dirinya melayang.
"Selamat pagi..." sapa Ayaz yang terbangun karena eratnya pelukan Yaren.
"Sayang..." seru Yaren.
"Hemmm... Apa? Kau mau apa?"
"Apa aku bisa meminta sesuatu? Hanya satu!" tanya Yaren.
Ayaz mengubah posisinya menjadi menghadap Yaren dengan posisi keduanya masih tetap berbaring.
"Aku ingin menemui seseorang!" ucap Yaren menyatakan keinginannya. Tiba-tiba saja pagi ini dia teringat sesuatu.
"Seseorang? Siapa? Siapa yang ingin kau temui?"
"Emmm, apa kau akan marah?" tebak Yaren sedikit cemas.
"Katakan saja!"
"Saudaraku!" jawab Yaren.
"Siapa? Cemir?" tebak Ayaz karena menurutnya Yaren tidak mempunyai banyak kenalan.
Yaren menggeleng, "Kak Amri, dia adalah seorang dokter!" sahutnya.
Mata Ayaz membulat, bukankah itu berarti yang akan ditemui Yaren nantinya adalah seorang pria? Ini tidak bisa dibiarkan, jiwa cemburunya langsung saja menguat.
"Tidak!" sahut Ayaz spontan.
"Hemmm?"
"Maksudku, mengapa ingin bertemu?" ralat Ayaz yang ternyata tidak ingin memutuskan kata tidak begitu saja.
"Begini..." Yaren semakin mendekatkan tubuhnya dengan Ayaz, ia memeluk lagi suaminya itu, "Dulu, sebelum aku bertemu denganmu, dia adalah orang yang selalu mengingat ulang tahunku, rasanya aneh saja jika tiba-tiba aku tidak merayakan dengannya." jelas Yaren. Sedikit tidak masuk akal, namun itulah kenyataannya, dirinya benar-benar ingin bertemu dengan Dokter Amri, dia ingin mengatakan terimakasih begitu besar untuk waktu yang dulu-dulu, untuk kepedulian yang tidak pernah dirinya dapatkan dark siapapun kecuali dokter Amri.
Ayaz tampak berpikir, sebenarnya jika menyangkut masalah hati, tentu saja ia menolak, namun kembali lagi melihat wajah sang istri, baiklah! Kali ini dia akan menurut.
"Baiklah, kapan kau ingin bertemu?"
"Itu terserah kau, aku tidak punya nomor ponselnya, jadi jika sayang sudah ingin mempertemukanku dengannya, kita bisa pergi ke rumahnya bersama." sahut Yaren.
Ayaz mengangguk, "Nanti akan aku pikirkan waktu yang tepat!"
__ADS_1
"Aaahhh, makasih ya sayang!"
Sementara jika Ayaz sedang menghujani Yaren dengan cinta, lain halnya dengan wanita yang menggerutu bahkan sesekali mengumpati nama Ayaz dengan kata-kata kotor yang menurutnya pantas Ayaz dapatkan.
"Sial! Ayaz bajingan, aku benar-benar akan membunuhnya!" teriak Amla, ia sedang mengamuk di kamarnya, rasanya dengan mengumpati Ayaz saja belum cukup, ingin sekali Amla menemui pria itu dan mencekiknya hingga benar-benar mati, tanggung saja jika dia masih membiarkan Ayaz hidup di dunia ini, sedang dirinya harus ditimpa masalah sebesar ini.
Semua pengawal yang di rekrut Sian di kediamannya sudah pergi, hanya tersisa beberapa orang yang memang adalah orang kepercayaannya.
"Pelayan!" teriak Amla, namun sayangnya tidak ada yang menjawab teriakannya, karena memang tidak ada satu pun pelayan juga yang tersisa.
"Haha!" Amla tersenyum smirk karena menyadari itu, "Hahahahahaha!" tawanya keras dan menggelegar.
Lalu, dengan langkah yang berantakan ia berjalan menuju ruangan Sian untuk menyimpan alkohol, maksudnya ia hanya ingin meminum sedikit, untuk menghilangkan penat yang melanda.
"Aku benar-benar tidak mengerti, hahahahaha!" teriaknya lagi sembari berjalan, persis seperti orang setengah gila.
Amla mengambil Vodka, ia tau setelah meminum ini dirinya akan dibuat seolah melayang, mengucapkan segala apa yang mengganjal di hati, ia hanya ingin berbagi, tapi dengan siapa... Tidak ada satupun orang yang sudi untuk mendengarkan keluh kesah yang dirinya alami.
Amla langsung saja menenggaknya di ruangan itu, ia tidak mempunyai persiapan untuk minum-minum, baginya ia benar-benar frustasi.
Dirinya begitu menikmati, dan pelan karena tubuhnya yang tidak kuat untuk minum, jadilah ia mulai meracau, reaksi alkohol di tubuhnya benar-benar bekerja lebih cepat.
"Hahahahaha..." teriak Amla.
"Sudah gila, benar-benar sudah gila!"
"Bagaimana bisa, aku ini dituduh menjadi penyebabnya, penyebab kematian suamiku sendiri, hah? Apa orang-oranh sudah gila?"
"Hemmm... Meskipun aku tidak bersungguh-sungguh-sungguh mencintai suamiku itu, tapi tetap saja, tetap saja aku tidak mungkin membunuhnya, masih begitu banyak yang harus aku dapatkan, seharusnya dia tidak mati secepat itu."
"Hahahaha..."
"Ayaz, pria itu... Benar-benar gila, bagaimana bisa dia melakukannya, bagaimana bisa dia melakukan semuanya dengan begitu nyata tanpa cela?"
"Aku bagai sedang bermimpi buruk, rasanya aku ingin bangun saja, tapi... Mengapa tidak juga bangun?"
"Padahal penjahat yang sebenarnya masih juga berkeliaran."
Seseorang masuk ke ruangan itu juga, memakai setelan seperti Sian, dan juga penampilannya sengaja dibuat begitu mirip dengan Sian.
"Sayangku..." seru Amla saat seseorang itu menghampiri.
"Kau kau ini? Hahaha, apa lagi ini? Mereka mengatakan kau sudah mati, mereka menemukan mayatmu di pinggiran sungai, tapi lihatlah kau bahkan menemuiku di sini dengan tanpa luka sedikitpun, kau benar-benar suamiku..."
"Sayangku, tolong katakan pada mereka bahwa aku bukanlah pembunuhmu, ahhh... Tidak-tidak aku pasti sudah gila, ayo kita pergi ke sana dan perlihatkan tubuh sempurnamu ini, mereka akan menarik laporannya jika ternyata kau masih hidup!"
"Tunggu dulu!" Amla mengucek matanya pelan, dalam hatinya berharap supaya apa yang dilihatnya kali ini benar-benar nyata.
Dam memang benar, wajah Sian memang hadir di hadapannya kali ini.
"Benar kan... Bahkan aku sudah membuktikannya, ini bukan mimpi!" ucapnya.
"Aku datang ke sini hanya untuk menanyakan, apa yang telah kau lakukan dengan Romi dan Erra? Di mana kau sembunyikan mereka berdua?" ucap seseorang itu.
"Hah? Mengapa kau harus menanyakan keberadaan mereka saat sudah sekian lama kau menghilang, seharusnya kau menanyakan bagaimana keadaanku kan, kau ini... Aku kecewa..." ungkap Amla sedih.
"Aku hanya ingin tau... Cepat katakan atau aku pergi lagi." ancam seseorang itu.
"Aahhh... Ya ya, baiklah, akan aku jawab, akan aku katakan di mana mereka!" cegah Amla.
"Di mana? Katakan, di mana?"
"Haaahhhh!" Amla menarik napasnya dalam, "Sebenarnya... Aku juga tidak tau!"
"Apa?" bentak seseorang itu, mengapa tidak tau, sia-sia saja kedatangannya ke sini.
__ADS_1
"Iya, hari itu saat kau menghilang aku membebaskan Romi dan menyuruhnya untuk membunuh Ayaz, tapi... Setelah Romi berhasil menusukkan pedang perut Ayaz, pria miskin itu dibawa oleh orang-orang Ayaz, aku pun sedang mencari keberadaannya namun tidak juga aku temukan, Romi bagai hilang tanpa jejak, bagai di telan bumi... Kau bahkan tidak tau pria tua itu masih hidup atau tidak!" jelas Amla.
"Apa?"
Amla mengangguk, "Kau ini... Mengapa terlihat sangat peduli pada mereka?" Amla memeluk paksa tubuh seseorang itu.
"Sementara Erra? Katakan!"
"Erra, aku menyuruh salah satu pengawal memindahkannya ke tempat rahasia di sebelah villa lama keluarga Huculak, tapi... Sayangnya Erra juga menghilang, dan pengawal yang membawanya itu juga entah kenapa harus mati mengenaskan, aku tidak percaya..."
"Sayang... sayang... Kau tau, Ayaz yang melakukannya, dia adalah penyebab semuanya terjadi.. Meski aku tidak memiliki bukti, tapi aku benar-benar yakin kalau dialah yang melakukannya!"
"Jangan meracau!"
"aku tidak meracau, aku berbicara sungguh! Siapa lagi kalau bukan dia?"
Seseorang itu berlalu, meninggalkan Erra yang terus memanggilnya dengan sayang, "Sayang... Jangan pergi!"
Pintu sengaja ia tutup dari luar, bagaimanapun ini tidak bisa dibiarkan, ia harus mencari bukti bahwa Erra lah yang bersalah dalam kasus Dale Adrie maupun Sian Huculak!
"Aisshhh, mengapa sulit sekali menjeratnya, nanti saja akan aku pikirkan!"
...***...
Rymi melihat sekeliling, ruangan itu sudah gelap, ia menarik napasnya dalam dan seolah kecewa karena tidak menjumpai calon suaminya di sana.
Rymi menghentakkan kakinya, ia benar-benar kesal setengah mati, ternyata Samudra pulang, tidak menghiraukan ancaman matanya.
"Dasar!" umpatnya.
Rymi hendak berbalik ke kamar namun sebelum itu sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang.
Tap!
"Aaaaa!" teriaknya namun langsung saja mulutnya di bekap oleh seseorang itu.
"Rym ini aku!" bisiknya.
Rymi terdiam, suara itu dirinya benar-bebar sangat mengenalnya.
"Samudra!" ucapnya bersemangat, namun setelah sadar ia kembali bersikap acuh.
"Kenapa? Kenapa tidak pulang?"
"Hah?"
"Kau masih marah?"
"Aku tanya mengapa tidak juga pulang?" tanya Rymi menekan.
"Memangnya kenapa?"
"Kau ini!" umpatnya.
"Rym, jangan marah-marah lagi..." Bujuk Samudra.
Rymi benar-benar mengacuhkan Samudra lagi, namun seperdetik kemudian Samudra langsung s aja menggendong tubuh Rymi dan segera membawa masuk ke kamar.
"Lepaskan!" ronta Rymi, tidak berteriak namun tetap saja kedengarannya menolak.
"Husss, jangan katakan apapun!" ucap Sam. Ia tetap saja pada pendiriannya.
Bersambung...
...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....
__ADS_1
... ...