Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Pak Dokter...


__ADS_3

Sian tidak bisa percaya saat menatap seseorang yang bertamu di kantornya kali ini, dua orang di hadapannya ini mengaku sebagai petinggi DN Company, Rangga Donulai yang memerintahkan keduanya, haruskah Sian percaya begitu saja?


Ini baru dua hari tepatnya setelah acara bincang santai makan malam kemarin, malam itu bahkan dirinya tidak bisa menemui Rangga Donulai itu, namun mengapa hari ini DN Company malah setuju saja mengenai pengajuan kerja samanya.


"Pak Rangga cukup tertarik akan proposal kerja sama yang anda ajukan. Beliau mengatakan akan menanamkan saham setidaknya 40% di perusahaan anda." ucap salah satu petinggi itu.


"Benarkah?" tanya Sian.


"Anda bisa menyetujui ini untuk langkah awal, setelahnya akan kami kabarkan bagaimana tindak lanjutnya."


Sian meneliti mimik wajah kedua tamunya itu, sebenarnya cukup meyakinkan, yang membuat Sian tidak yakin hanya saja, apa iya begitu cepat proposal ini disetujui.


Tidak kurang dari satu minggu Sian mengajukan kerja sama itu, setelah mengetahui dirinya diundang dalam makan malam, Sian tidak ingin melewatkan kesempatan, jadi dirinya ingin segera mungkin membangun relasi dengan perusahaan ternama sekelas DN Company, namun dia tidak menyangka kehadirannya akan diterima secepat ini.


Dengan sedikit ragu Sian mengambil pulpen, membubuhkan tanda tangannya, bukankah tadi orang ini mengatakan kalau ini adalah sebuah langkah awal, jadi jika terdapat ketidakpuasan di agenda berikutnya, mungkin Sian masih bisa bernegosiasi.


Dalam bisnis, nyatanya pria setengah baya itu cukup berhati-hati. Namun untuk DN Company, rasanya Sian tidak pernah memiliki masalah apapun dengan perusahaan ternama itu, seharusnya apa ada yang bisa membuatnya ragu?


...***...


"Apa lelah?" tanya Yaren, wanita itu bertanya karena Ayaz tampak tidak bersemangat, berbaring di sofa seperti begitu kelelahan.


"Sedikit!" sahut Ayaz.


"Apa istriku bisa membuatkan kopi?" tanya Ayaz lagi, menatap Yaren dengan harap.


"Tunggu sebentar." Yaren bergegas menuju dapur, membuatkan suaminya itu kopi, dikiranya Ayaz mungkin benar-benar lelah.


Namun saat dirinya hendak membawa kopi itu ke ruang tamu, tiba-tiba Yaren teringat akan sesuatu.


"Ayaz!" panggilnya sembari menaruh satu cangkir kopi di meja.


"Hemm."


"Tadi, ada yang mencarimu!" ucap Yaren.


"Siapa?"


"Namanya Sam, pria itu menitipkan sesuatu, sebentar aku ambilkan." Yaren mengambil barang yang dititipkan oleh seseorang yang mengaku bernama Sam tadi padanya untuk diberikan pada Ayaz.


Ayaz bangkit dari berbaringnya, kemarin dia baru saja bertemu dengan Sam, mengapa jika ingin memberikan sesuatu, Sam tidak memberikan langsung padanya. Lagi pula dari mana Sam mengetahui rumahnya, apa Rymi yang memberi tau, tapi Rymi bahkan tidak percaya pada Sam, dan Ayaz yakin wanita itu tidak akan mau mengambil resiko.


"Ini." Yaren memberikan sebuah amplop pada Ayaz, Ayaz menerimanya dan meneliti amplop tersebut.

__ADS_1


"Terimakasih." ucap Ayaz, ia menaruh amplop itu di meja, Ayaz berencana untuk menyelidiki terlebih dahulu siapa yang datang padanya tadi.


Ayaz menyeruput kopi buatan Yaren, memikirkan masalah Marco yang ingin membantunya dalam menghancurkan Sian membuatnya sedikit dilanda kebingungan, pasalnya tidak biasa Bosnya itu seakan penuh semangat dalam mengurusi masalah anak buahnya.


"Yaren, kemarilah!" titah Ayaz, menyuruh istrinya untuk duduk di pangkuannya.


Yaren menurut, jantungnya langsung saja sulit dikondisikan, "Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Yaren gugup.


"Kau ingin bertemu keluargamu?" tanya Ayaz tiba-tiba.


Yaren mengangguk, entah mengapa reaksi itu ia layangkan begitu saja, saat Ayaz menanyakan itu, hanya ada rindu yang ia rasakan untuk keluarganya, lupa bahwa keluarganya telah membuangnya kemarin.


"Bukan Argantara!" ucap Ayaz lagi.


"Hah? Apa maksudnya?" heran Yaren.


"Keluarga Ibumu! Orang yang mencoba menemuimu waktu itu."


"Ayaz, apa benar mereka keluargaku?" tanya Yaren, "Apa kau mengetahui banyak tentangku? Katakan, apa benar begitu?"


"Apa kau sungguh ingin tau?" tanya balik Ayaz.


"Aku ingin mengabaikannya, tapi kau menanyakan itu, aku jadinya penasaran lagi."


"Emm!" Yaren mengangguk.


"Dia, benar keluargamu!"


"Dia yang waktu itu?" tanya Yaren memastikan.


"Iya, dia Jovan, saudara satu Ibu denganmu." aku Ayaz.


"Jovan?" Yaren seperti pernah mendengar nama itu, ia mencoba mengingatnya namun tidak bisa.


"Iya, kau pernah bertemu dengannya?" tanya Ayaz.


"Aku seperti pernah mendengar nama itu, tapi di mana?" ucap Yaren.


"Pacarnya Raisa!" sahut Ayaz, dan Yaren langsung tersadar, iya dia ingat, Jovan adalah pacarnya Raisa, tapi mengapa Ayaz mengatakan kalau Jovan adalah keluarganya, dan malah mengatakan kalau Jovan dan dirinya adalah saudara satu ibu.


"Pantas saja begitu familiar, tapi kenapa kau bilang..."


"Saudara satu Ibu?"

__ADS_1


"Iya!"


"Mungkin suatu hari nanti Jovan akan menceritakan padamu, tapi yang jelas kebenarannya memang seperti itu, dia Kakakmu."


Yaren masih belum bisa mengerti, bagaimana kebenarannya, apa iya dirinya harus percaya tanpa bukti, tanpa penjelasan apapun.


"Kau mau menemuinya?" tanya Ayaz.


Dengan wajah yang masih bingung, Yaren mengangguk, rasa penasaran akan apa yang baru saja diakui Ayaz nampaknya harus membawanya menemui Jovan.


"Berkemaslah!"


Ayaz sengaja membawa Yaren ke rumah Jovan, memperkenalkan Yaren pada Jovan, selain karena ia harus membawa amplop itu pada Jovan untuk diselidiki, dirinya juga berniat untuk menitipkan Yaren suatu hari nanti pada pria itu, karena meski bagaimanapun Ayaz lebih percaya Jovan ketimbang Argantara yang padahal ayah kandung Yaren.


...***...


"Selanjutnya!" ucap dokter Amri, saat ini pria itu sedang melayani satu persatu pasien yang ingin berobat di ruangannya.


"Selamat siang Pak Dokter!" sapa seseorang.


Dokter Amri mendongak, menatap wajah yang tak sengaja dikenalinya.


"Silakan duduk," ucapnya ramah.


Gadis itu duduk, mengedarkan pandangannya pada ruangan itu, dan tanpa sengaja matanya dan dokter Amri terlibat tatap.


"Ada apa? Nil, kamu Nil kan?" tanya Dokter Amri, profesinya sebagai Dokter terang saja selalu bersikap ramah dan menyenangkan pada semua orang.


"Ii iya Pak Dokter!"


"Apa ada yang bisa saya bantu? Apa kau datang untuk menagih janjiku malam itu?" tanya Dokter Amri lagi.


"Emmhh, sebenarnya kalau boleh jujur iya, apa Pak Dokter tidak keberatan?" tanya Nil hati-hati.


"Keberatan? Tentu saja tidak, malam itu kau benar-benar menyelamatkanku, dan untuk rasa terima kasihku kau bisa meminta apa saja, selama aku bisa memenuhi maka akan aku penuhi permintaanmu." ucap dokter Amri.


"Apa aku boleh meminta apapun?" tanya Nil lagi.


Dahi dokter Amri sedikit berkerut, sepertinya sedang memikirkan sesuatu, kemudian berucap, "Ya, apa saja, selama aku bisa memenuhi."


"Ehm," Nil mencoba menetralkan perasaannya, meski gugup melanda, namun sudah sejauh ini, datang dengan keyakinan, dan seharusnya ia tidak menyerah, kesempatan tidak datang dua kali, "Pak Dokter..."


Bersambung...

__ADS_1


...Like, koment, and Vote!!!...


__ADS_2