Seranjang Dengan Bajingan

Seranjang Dengan Bajingan
Dasar menyebalkan!


__ADS_3

Flashback,


Dua hari yang lalu,


"Kau siap melakukannya?"


"Bukankah saat aku sudah masuk ke sarang penyamun, maka tidak akan mudah bagiku untuk lolos selain menjadi kawanan penyamun itu sendiri?" ucap Ilham.


"Good! Kau betul sekali? Apa itu artinya kau benar-benar sudah siap menjadi penyamun itu?" tanya Rymi.


"Siap tidak siap, bukankah aku tidak diberikan pilihan lain selain melakukannya!"


"Katakan saja apa yang kau inginkan, aku hanya ingin Amla cepat di penjara dan kau harus menepati janjimu, lepaskan teman-temanku dan bebaskan kami semua, jangan pernah mengusik kehidupan kami lagi!"


"Anggap saja setelah ini, kita tidak pernah saling mengenal!"


"Oohhh, kau sepertinya memiliki kenangan buruk selama menjadi rekanku!" ledek Rymi.


"Katakan!" desak Ilham, ia sedang menunggu apa lagi yang akan Rymi perintahkan padanya.


"Aku akan membawamu ke suatu tempat!" ucap Rymi.


"Kemana? Ingat, kau tidak bisa menyakitiku!" ancam Ilham waspada.


"Hey bodoh! Kalau aku mau menyakitimu sudah lama kau kujadikan bangkai, tidak akan kubiarkan kau bisa menghirup udara yang sama denganku!" ketus Rymi.


"Lalu kemana?"


"Ikut saja dan jangan banyak tanya!"


Ilham sungguh muak bekerja sama dengan Rymi, wanita itu meskipun terlihat begitu anggun namun benar-benar kriminal dan tidak mempunyai toleransi.


Sebentar lagi Ilham, sebentar lagi...


Lima belas menit berlalu, Ilham sampai di sebuah rumah yang terlihat sedikit menyeramkan, lumayan besar namun tampak sepi dari luar.


"Masuklah!" titah Rymi.

__ADS_1


Ilham masuk, ia mengedarkan pandangannya di semua sisi ruangan, memang tampak sepi, hanya terlihat beberapa penjaga yang tak kalah menyeramkan.


"Bawa dia ke ruangan orang tuanya Sam!" perintah Rymi pada anak buah Daddynya itu.


Beberapa orang bertubuh besar membawa Ilham ke kamar yang ditempati Romi dan Erra.


Ceklek,


Ilham terkejut saat pintu kamar itu dibuka, memperlihatkan seseorang yang selama ini juga di cari oleh Amla.


"Bagaimana bisa?" gumamnya tidak percaya.


"Kau terkejut?" ucap Rymi menyadarkan keterkejutan Ilham.


"Bagaimana bisa mereka berada di sini, Bu Erra... Itu berarti kau mengetahui dalang kematian Dale?" desak Ilham.


"Tepat sekali! Kau cukup pintar ternyata, tidak sia-sia aku memilihmu!" puji Rymi.


"Katakan, bagaimana kematian Dale? Apa kau juga membunuhnya?" sergah Ilham, kalau saja Rymi menjawab 'Iya' sungguh yang tengah dihadapinya ini benar-benar bukan manusia.


"Apa kau yakin ingin mendengarnya?" tanya balik Rymi.


"Katakan!"


"Kau iblis! Bukan manusia, kejam, serakah, bagaimana bisa kau lakukan itu, mengapa tidak kau biarkan orang seperti kami hidup, jika kau hanya punya masalah dengan Amla, mengapa kau harus menyakiti banyak orang?" tanya Ilham, ia bisa gila jika terus menciptakan hubungan dengan wanita yang menurutnya sudah kelewat gila ini.


"Nona Rymi!" seru Romi halus, dan itu menyadarkan Ilham, bukankah seharusnya Romi takut pada Rymi, tapi yang terdengar olehnya mengapa tampak baik-baik saja.


"Aku hanya menyelamatkan orang yang memang pantas diselamatkan, aku menyelamatkan Bu Erra dan mengorbankan Dale, rekanmu, aku rasa itu cukup adil bukan?"


"Adil? Adil katamu?"


"Maaf Tuan, karena saya Nona Rymi harus melakukan itu!" kali ini Erra, yang perkataannya kembali membuat Ilham heran.


"Apa kau juga mengetahui bahwa Tuanmu telah memasukkan g*nja pada makanan kedua orang tua ini?" selidik Rymi.


Ilham tercekat, masalah itu... Ya memang dirinya pernah mendengarnya, dan karena alasan itulah Ilham juga heran, seharusnya Romi dan Erra tidak bisa dengan mudah berinteraksi dengan orang baru.

__ADS_1


"Dale rekanmu itu hampir saja membunuhmu jika aku tidak membunuhnya, aku akui kalian benar-benar orang yang setia... Tapi, aku tidak memandang kesetiaan jika aku harus membunuh orang!" ungkap Rymi.


"Dan kau... Berhati-hatilah, aku juga tidak akan segan untuk membunuhmu jika kau tidak bisa diharapkan!"


"Jadilah berguna, maka kau akan aman!" bisik Rymi.


"Membunuhmu... Heh, aku yakin itu hanya alasanmu saja!" ucap Ilham tidak setuju.


"Sudahlah! Aku mengajakmu ke sini tidak untuk berdebat!"


"Kau lihat mereka?"


"Bertemanlah dengan mereka mulai hari ini, kau ingat apa yang terucap dari mulutku ini adalah perintah!"


"Apa yang harus aku lakukan dengan mereka?" tanya Ilham cepat.


"Teror Amla!"


"Kau tentunya tau kan di mana letaknya ruang bawah tanah itu? Jangan bilang tidak tau, karena aku akan mengirimmu kembali ke rumah itu!"


Ilham mengangguk, "Apa maumu?"


"Kembalikan mereka ke sana! Atur semuanya seolah-olah mereka tidak pernah dibebaskan dari sana."


"Aku tidak bisa membuka pintu itu?" jujur Ilham, memang bukan masalah baginya untuk membawa kembali Romi dan Erra ke ruangan penjara bawah tanah itu, tapi masalahnya pintu rahasia menuju ruangan itu yang begitu sulit untuk dibuka.


"Kenapa?"


"Amla menyimpan kuncinya?"


"Hahahaha!" Rymi tergelak keras, "Memangnya aku peduli?" entengnya kemudian.


"Dasar menyebalkan!" umpat Ilham.


Bersambung...


...Klik suka, komentar, beri hadiah dan juga Vote untuk mendukung karya ini 🤗🥰....

__ADS_1


 


__ADS_2