
Amla kembali bangun dari tidurnya, ah bukan lebih tepatnya sadar dari pingsan, matanya menatap ruangan yang ternyata adalah kamarnya sendiri.
"Jadi, yang aku alami tadi hanya mimpi!" gumamnya pelan, terbesit kelegaan kala ia berpikir semua yang terjadi padanya tadi hanyalah mimpi.
Erra dan Romi, menurutnya tidak mungkin bisa seberani itu terhadapnya, terlebih lagi Erra, ah Amla rasa dirinya pasti terlalu banyak pikiran hingga bisa-bisanya berhalusinasi.
Amla membersihkan tubuhnya sebentar di kamar mandi, perutnya sudah melilit karena tidak makan sedari kemarin, cepat-cepat dirinya menyelesaikan mandinya lalu segera menuju dapur.
Setelah sampai di dapur, ruangan itu tampak sepi, namun anehnya sudah terhidang berbagai makanan di meje makan, tanpa pikir panjang lagi karena dirinya benar-benar sudah lapar Amla langsung saja duduk dan makan dengan lahapnya.
"Aahhh, rasanya aku seperti orang yang sudah tidak makan selama seminggu, ini enak sekali... Siapa pun yang memasak ini benar-benar koki terbaik, makanan ini sangat lezat, pas sekali dirasai lidahku."
Amla hampir menghabiskan makanan yang tersaji di meja makan kalau saja dirinya tidak menemukan sesuatu yang aneh.
"Aaa... Apa ini?" matanya menatap tidak percaya pada sebuah cincin yang hampir saja dirinya makan, cincin yang sangat dirinya kenali itu mengapa bisa berada di makanannya ini?
Tangannya lalu mengangkat daging yang tersemat cincin berlian tersebut, lalu otaknya malah memikirkan hal yang sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya.
"Huweeekk, huweeekk..." Amla langsung melangkah cepat menuju wastafel, dirinya memuntahkan semua makanan yang dirinya makan. Tubuhnya bergetar hebat, membayangkan apa yang telah terjadi padanya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, itu... Itu adalah cincin Sian, dan bentuk daging itu tak ubah seperti jari manusia, tidak... Aku tidak mungkin memakan hal yang begitu menjijikkan, tidak mungkin aku..."
Amla begitu ketakutan, tubuhnya benar-benar bergetar hebat, keringat dingin mulai membasahi, ia membayangkan tubuh Sian yang ia lihat terakhir kalinya di kamar mayat.
Tidak, Amla benar-benar merasa kalau tubuh Sian waktu itu masih utuh tidak kekurangan apapun, ini hanyalah ilusi dia tidak mungkin melakukannya.
Dengan ragu ia kembali ke meje makan, ia melihat sisa makanan yang tadinya ia makan, Amla menguatkan hatinya untuk melihat sekali lagi, dia harus memastikan bahwa yang terjadi tadi benar-benar hanya ilusi.
"Haaaahhh!" Amla bisa bernapas lega kala mendapati makanan yang dirinya makan tadi tidak menampilkan apa yang begitu menyeramkan baginya tadi, yang dirinya makan benar-benar sepotong daging sapi, sama sekali tidak berbentuk jari manusia.
"Aku pasti sudah gila, ini benar-benar gila, bagaimana aku bisa bersikap seperti orang yang berhalusinasi, sepertinya aku harus memeriksa kondisiku, yah... Aku sedang tidak baik-baik saja saat ini!"
Sebenarnya, makanan yang Amla makan tadi sudah habis ia muntahkan, namun mengingat peristiwa menjijikan tadi sayangnya Amla sudah tidak berselera lagi melanjutkan makannya, ia lebih memilih untuk kembali ke kamar.
Amla berteriak memanggil orang kepercayaannya, ia memerintahkan pekerjanya untuk mencarikan ia seorang psikiater, bagaimanapun Amla harus mengetahui apa yang terjadi pada pemikirannya yang mulai terganggu ini.
...***...
Jovan kedatangan tamu yang baginya spesial, adiknya itu pertama kalinya berkunjung ke tempat kerjanya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Jovan.
"Eemmm, hanya ingin main saja!" jawab Yaren berbasa-basi karena kakaknya itu menayakan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Dia mencari keberadaan saudaranya, kau tau Amri?" sahut Ayaz langsung, ia tidak ingin berlama-lama.
Yaren jadi tidak nyaman, baru saja mereka masuk dan duduk, Ayaz bahkan sudah jujur saja tentang tujuan mereka kemari. Apa tidak bisa bersantai sedikit? Namun yang dilihatnya kini, Ayaz bahkan tidak ada merasa tidak nyaman telah terlalu jujur begitu.
"Oohh, yang waktu itu... Kenapa?" Jovan memaksakan senyumnya.
"Apa Kakak tau Kak Amri bekerja di mana?" tanya Yaren yang sudah kepalang tanggung.
"Dia... Dia di rumah sakit XXX yang berada tidak jauh dari taman kota!" jawab Jovan.
"Apa kau punya nomor ponselnya?" tanya Ayaz langsung.
"Aahhh... Aku?" gagap Jovan, mengapa Ayaz tiba-tiba bertanya begitu, itu akan membuat Yaren curiga mengapa dirinya yang mengetahui nomor ponsel Dokter Amri sementara selama ini mereka tidak memiliki kedekatan.
"Ayaz... Mana mungkin Kak Jovan tau, dia saja belum pernah bertemu dengan Kak Amri!" sahut Yaren pasti.
__ADS_1
Bersambung...