
"Sam..."
Ayaz menarik langkahnya untuk berlari ke arah Sam, pria itu baru saja dicelakai di depan matanya, dan dengan cepat kedua preman yang melakukannya membawa tubuh Sam ke sebuah mobil.
Ayaz berlari mengejar mobil yang sudah melaju itu, mulutnya terus berteriak memanggil nama sahabatnya, kejadian ini persis seperti empat tahun lalu, saat Sam dibawa paksa oleh orang-orang suruhan Sian hanya untuk menyelamatkannya.
"Keparat! Bedebah sialan!" umpat Ayaz. Napasnya tersengal, kiranya ia sudah berlari sangat jauh, berusaha mengejar.
Ayaz berpikir cepat, di ingat plat mobil itu, tapi jika orang suruhan itu adalah suruhan Sian, nomor di plat mobil itu tidak akan menjanjikan apapun.
Ayaz menghubungi Rymi, mengajak wanita itu bertemu, ia perlu seseorang untuk melakukan sesuatu dengannya.
Setengah jam berlalu, Ayaz sudah sampai dikediaman Rymi, wanita itu tampak santai menikmati masa-masa penganggurannya.
"Ada apa?" tanya Rymi dengan masih berbaring.
"Apa kau melakukannya?" tanya Ayaz.
"Melakukan apa?"
"Hal yang kusuruh waktu itu?"
Rymi mengangguk teratur, dengan malas ia berkata, "Ya ya, bahkan aku juga harus melakukan hal yang tidak penting. Apa secepat itu terjadi sesuatu padanya?" tanya Rymi lagi.
"Dia diculik!" sahut Ayaz.
Rymi spontan saja bangkit dan terperangah, "Benarkah? Waahhh, luar biasa! Ini setidaknya baru tiga hari aku meninggalkan kantornya!"
"Cepat!" perintah Ayaz memekik. Heran dengan sikap Rymi yang dari dulu memang kelewat santai.
Rymi dengan sigap mengambil laptopnya, mengecek keberadaan Sam, beruntungnya sebelum kepergian Rymi dari kantor itu, wanita itu menanamkan chip di tubuh Sam sesuai perintah Ayaz. Rymi bahkan tidak menyangka, sesuatu akan terjadi pada Sam lebih cepat dari yang dirinya duga.
"Villa kosong, di jalan RN, Villa itu terlihat kuno dari luar, namun di sana juga terdapat ruangan untuk menyimpan persenjataan dan juga ruangan untuk menyiksa manusia, kau harus berhati-hati Ayaz. Izinkan aku ikut denganmu kali ini!" pinta Rymi.
Ayaz mengangguk, mereka memakai mobil anti peluru yang dimiliki Rymi, Ayaz merasa juga butuh seseorang untuk menemaninya, dan Rymi adalah orang yang paling tepat menurutnya.
__ADS_1
"Rym, apa menurutmu Sian?" tanya Ayaz.
Rymi mengangguk seolah menyetujui, "Aku tidak punya keluhan dengan orang lain, aku rasa dia adalah orang yang tepat menjadi tertuduh."
"Sebenarnya, aku tidak berniat untuk menemui Sam pagi ini, mereka pasti sudah merencanakan ini, mungkin mereka menyadari kemunculan Sam, dan menggunakan aku untuk memancingnya keluar, Sian sudah bertindak bahkan lebih cepat dari dugaanku." ucap Ayaz.
Rymi menarik napasnya berat, "Yah, tidak ada yang bisa kau lakukan selain melawannya, meski rencanamu belum matang, kadang setengah matang pun juga tidak apa." ucap Rymi setengah bercanda.
"Semoga saja tidak buruk!" lanjutnya.
"Kau akan membantuku?"
"Sudah kubilang kan, bagaimanapun aku akan mati ditanganmu, dan kau akan mati ditanganku, aku membantumu kali ini karena aku tidak akan rela orang lain yang membunuhmu!" sahut Rymi lagi.
"Whooaa, kau terlalu serius Nona!"
"Rasanya tidak buruk juga menjadi rekanmu, yaaa meski kadang aku juga menyesalinya."
"Konyol!"
"Berhenti berpikiran buruk tentangku, aku tidak mau membuatmu lelah."
"Bukan masalah! Kita juga harus tampil sesekali bukan!" Rymi tak kalah antusias menanggapi candaan Ayaz, dengan senang hati menyambut uluran tangan pria itu.
Tidak lama keduanya pun sampai, menghentikan mobilnya agak jauh dari Villa, mata elang keduanya dengan sigap mengintai situasi.
"Benar sekali, Villa ini tampak kuno dan tidak terawat." ucap Ayaz berbisik.
"Kau masuklah lebih dulu, aku akan menangani di luar!" ucap Rymi.
"Kau membawanya?" tanya Ayaz.
"Yah, berikan suntikan ini padanya, aku tidak percaya Samudra akan baik-baik saja, ini sudah satu jam berlalu." ucap Rymi sembari memberikan sebuah suntikan siap pakai pada Ayaz.
"Kau benar!" Ayaz dan Rymi keluar dari mobil, Ayaz dengan langkah yang bagai tak tanpa suara mencoba menerobos masuk pada Villa tersebut.
__ADS_1
Villa itu tampak bersih saat sudah masuk ke dalamnya, benarkah apa yang dikatakan Rymi, Villa ini adalah juga tempat penyimpanan persenjataan dan juga ada ruangan untuk menyiksa manusia, apa mungkin Sam akan berakhir di ruangan itu.
Ayaz memeriksa setiap ruangan yang terlihat seperti kamar, tidak ada yang mencurigakan, sekilas pria itu melihat Villa ini benar-benar seperti Villa pada umumnya.
"Di mana Sam?" gumam Ayaz.
Saat sigap mencari, Ayaz mendengar suara langkah kaki, pria itu menarik diri untuk bersembunyi, tampak wajah yang dirinya kenali baru saja memasuki Villa itu.
"Sian..." gumamnya hampir tidak terdengar.
Dugaannya benar, Sian adalah dalang dibalik penculikan Sam, tangan Ayaz mengepal, ingin sekali rasanya ia langsung menghantam wajah itu dengan bogem mentahnya, namun sebisa mungkin ia harus menahan diri.
Ayaz mengikuti langkah Sian, dilihatnya pria paruh baya itu memasuki ruangan, ruangan yang ditaksir Ayaz adalah tempat Sam ditahan.
Pelan Ayaz juga memasuki ruangan itu, matanya benar saja menangkap sosok yang tengah dicarinya, Sam sedang meringkuk tidak sadarkan diri, tangan dan kakinya terikat serta mulut yang tentu saja dibekap kuat, darah merembes di kerah baju Sam, menandakan hantaman di kepala Sam pastilah cukup serius.
Ayaz memejamkan matanya, ia akan menghadapi ini sendirian, mengambil pistol di balik jasnya, terpikir olehnya untuk mengarahkan pelatuk itu tepat di kepala Sian, jika Sian mati mungkin juga tidak buruk baginya.
"Brakk!" dilihatnya Sian menendang tepat di perut Sam yang lemah
"Bangun, bukan saatnya kau untuk tidur, bangun dasar sialan!" umpat Sian.
Ayaz mengepalkan tangannya, "Kau tau, tanganku suka bergetar kalau tidak bisa menahan diri, bukan salahku jika peluru ini menembus tepat di kepalamu!" gumam Ayaz.
Sam terbangun dari pingsannya, dengan rasa sakit yang teramat, dia melihat Sian sedang tersenyum puas di hadapannya.
"Haruskah aku berterimakasih padamu? Kau sudah melancarkan rencanaku meski aku pikir sempat meleset pada awalnya." ucap Sian, tangannya menahan rahang Sam, "Waahh, kau memang selalu dibutuhkan, tenang saja aku tidak akan membunuhmu saat ini, kau bisa menikmati luka di kepalamu itu, hingga kau akan mati dengan sendirinya."
Ayaz mengepalkan tangannya mendengar itu, saat ia ingin menarik pelatuknya, Sian dengan sigap mengarahkan tubuh Sam untuk melindungi arah tembakannya.
"Hahahaha! Mengapa tidak kau tarik pelatuknya, kau takut?" tanya Sian memekik, Ayaz langsung saja keluar dari persembunyiannya, tidak masalah baginya, menghadapi Sian terang-terangan, selama ini memang itulah yang dirinya inginkan.
"Wah wah wah, kita bertemu juga pada akhirnya, Tuan Ayaz Diren!" ucap Sian remeh, wajah Sam begitu menyedihkan dilihat Ayaz, bagai seorang sandra yang siap untuk dikorbankan.
"Lepaskan dia!"
__ADS_1
Bersambung...
...Like, koment, and Vote!!!...