
"Sudahlah, aku juga merasa mungkin sudah waktunya." Jovan mende*ah pelan saat mendengar pengaduan Ayaz tentang masalah penyidikan.
"Apa kau yakin menaruh senjata terakhir itu di sesuai tempat?" tanya Ayaz.
"Berkatmu! Berkatmu Ayaz, aku melakukan hal yang tidak pernah mau kulakukan." Jovan mendengus kesal. Dirinya ini bukanlah orang jahat yang dengan tega memfitnah orang lain, mengambinghitamkan orang lain, hanya demi satu orang, dan sayangnya satu orang itu bahkan tidak pernah mengucapkan terimakasih padanya, miris!
"Jo, kau masih ingin melihat adikmu kan!" ancam Ayaz.
"Ancam saja aku Ayaz, ancam saja, sudahlah! Semua sudah terjadi, palingan sebentar lagi akan ada riuh di kediaman Argantara mengenai statusku dan Yaren." Jovan nampak berpikir, dan sekali lagi menghempaskan napasnya, "Bahkan aku masih di curigai sebagai ayah dari anak yang dikandung Raisa, kau bahkan sudah seakan mau menyuruhku membuka kartuku sendiri, sial!" Jovan sungguh geram.
Mereka, memang tidak mempunyai pilihan lain. Sebenarnya punya, bisa saja Ayaz memilih melibatkan Marco ataupun Rymi, namun Jovan bisa mengerti mungkin karena rasa sakit di hati, Ayaz malah lebih memilih melibatkan dirinya, hubungan Jovan hanya dengan Argantara, setelah mengetahui Yaren adalah adiknya mungkin Argantara akan menemuinya untuk bertanya mengenai detil masalahnya.
"Itu masih belum terjadi Jo!" ucap Ayaz.
"Kau pikir saja, apa kau harus membunuh ekornya? Apa masalah akan selesai dengan membunuh orang?" ucap Jovan, doa bukan seperti Ayaz, dia bukanlah orang yang tega harus menghilangkan nyawa orang lain hanya demi kepentingan diri sendiri.
Paling tidak cukup menghancurkan hidupnya saja, itu saja bagi Jovan sudah cukup, tapi untuk kali ini jika ekor itu tidak dihabisi maka banyak jalan menuju kepala.
"Apapun Jo!"
"Alibi apa lagi sekarang, alibi apa lagi yang akan kau tunjukkan besok, aku sarankan jangan bertindak gegabah, jika mau membunuhnya kau harus bertindak saat dia berada di pihak musuh, lalu alibi apa lagi yang akan kau pertaruhkan setelah ini." tanya Jovan, ia menatap kesal pada Ayaz, namun mau bagaimana lagi, ia sudah masuk ke dalam hidup pria itu sejauh ini, dan sayangnya tidak bisa untuk mundur.
"Justru itu Jo, aku menanyakan padamu, apa kau sudah melaksanakan apa yang ku suruh tentang senjata terakhir?" tanya Ayaz.
"Apa kau bisa bersikap tenang hanya dengan itu?" tanya balik Jovan.
"Menurutmu?"
Jovan nampak berpikir, "Aku tidak punya pilihan lain, semuanya sudah kulakukan, kau berjanji tidak akan melibatkan aku, kau tau jika keadaan tidak sesuai dengan apa yang kau harapkan maka bukan hanya penjara namun kau pasti akan mati Ayaz, jadi setelah ini aku mohon stop! Berhenti, apa kau tidak memikirkan Yaren?"
__ADS_1
"Tidak ada lagi misi, ini hanya sikap tanggung jawabku, aku tidak ingin melibatkan Marco, maka aku tidak punya pilihan lain selain bertarung sampai akhir."
"Setelah ini aku mohon jangan, apapun yang terjadi, entah kau tertangkap atau bisa lolos tapi aku mohon berhenti dari duniamu, lagi pula Sian sialan itu sudah mati bukan, alasan untuk kau bertarung sudah tidak ada lagi." ucap Jovan. Entah mengapa dia tiba-tiba bisa menjadi sepeduli itu dengan Ayaz. Mungkinkah ia menganggap Ayaz adalah bagian dari keluarganya, atau yang sebenarnya mungkin Ayaz sudah menempati salah satu ruang di hatinya.
"Pikirkan Yaren Ayaz, kau pernah bilang kau mencintainya bukan, aku harap kau tidak mabuk saat mengatakan itu."
Ayaz tampak berpikir, sebenarnya ia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti dari dunia hitamnya, mungkin ini akan menjadi penyelesaian misi terakhir baginya, karena setelah ini ia benar-benar ingin melepaskan diri dari Marco.
Namun entahlah, untuk kenyataan bahwa ia dan Marco adalah Ayah dan anak, untuk saat ini ia enggan mengambil keputusan untuk hal itu. Mungkin setelah semuanya selesai, setelah kasus Ali Yarkan benar-benar mencapai titik akhir barulah ia bisa memikirkan itu dengan tenang.
"Kau benar Jo, aku memang akan berhenti." ucap Ayaz.
"Ayaz, aku berkata begini untuk kebaikanmu, aku yakin kau masih punya hati, kau juga tidak ingin terjerumus semakin dalam, bukan hanya karena Yaren."
"Aku akan membantumu untuk kasus ini, aku akan mengatakan pada dunia bahwa Yaren adalah adik kandung satu ibu, dia adikku, dan juga aku akan memperkenalkan Cemir, sangat tidak adil rasanya jika aku hanya memperkenalkan Yaren saja."
"Aku juga akan bersaksi tentang kebakaran rumahmu, hanya saja kau yakin Amla tidak akan membuat masalah kan jika kita membuat alibi tentang kebakaran itu?"
"Ayaz, ini Ali Yarkan!" Jovan tidak percaya kalau penyidikan besok akan berlangsung sederhana. "Kita harus bersiap akan kemungkinan terburuk!" tambah Jovan.
"Pada akhirnya Alma pasti akan mengetahui kalau Dean Aries nama yang selalu saja muncul di televisi belakangan ini adalah orang yang sama dengan Ayaz Diren, itu adalah kemungkinan terburuk menurutmu bukan?"
Jovan mengangguk, "Aku tidak yakin wanita itu hanya akan berdiam diri saja."
"Kau tenang saja untuk masalah itu, aku bisa mengatasinya." sahut Ayaz.
"Dengan apa?" tanya Jovan lagi.
"Dia tidak akan berani membuka mulutnya, aku bisa memastikan itu." jawab Ayaz.
__ADS_1
"Ayaz, kau tidak berniat untuk berbagi?"
"Jo, mungkin sudah waktunya aku menunjukkan siapa diriku bukan?"
"Maksudmu? Donulai?"
"Kau gila? Kau pikir aku setidak mampu itu hingga harus melibatkan kakek tua itu?" Ayaz nampaknya sedikit tersinggung.
"Mau bagaimana lagi, aku tidak punya pemikiran lain, memangnya kau siapa?" tanya remeh Jovan.
"Whoaaaa, kau meremehkanku, mau mati kau?"
"Ya ya, aku percaya, meski kau tidak berniat mengatakannya pun anggap saja aku percaya, hemmm." Jovan mulai lega, rasanya masalah ini akhirnya bisa memiliki solusi, "Sekarang tinggal satu hal, untuk hal ini kemungkinan aku tidak bisa membantu, meski berat tapi kau harus berjuang sendirian Ayaz." ucap Jovan.
"Hei dengar yaa, aku bukannya takut, tapi hanya..."
"Hemmm?"
"Hanya tidak tau memulainya dari mana. Saat kau mendengar tentangku yang sebenarnya, apa kau merasa aku seseorang yang mengerikan?" tanya Ayaz sedikit meringis.
Jovan nampak berpikir, bibir bawahnya mencibir kecewa, kemudian ia mengangguk sembari berkata, "Ya, mungkin lebih tepatnya sangat mengerikan!" ledek Jovan.
"Aaishhh, apa dia masih ingin menjadi istriku setelah ini?" tanya Ayaz bergumam.
"Entahlah, mungkin kau akan berganti status setelah keluar dari ruangan itu." goda Jovan lagi, kali ini ia benar-benar berhasil membalas dendam pada Ayaz saat Ayaz menyuruhnya menjelaskan perihal status antaranya dan Yaren waktu itu.
Wajah Ayaz murung, Jovan tidak bisa menghindari gelak tawa yang susah payah dirinya tahan, sungguh ia belum pernah melihat wajah Ayaz yang begitu tertekan.
Bersambung...
__ADS_1
...Like, koment, and Vote!!!...