
"Aku bukanlah orang baik Yaren, masih banyak yang harus aku lakukan, jadi aku mohon jangan mengetahui tentang diriku lebih banyak." ucap Ayaz, pria itu semakin mengeratkan pelukannya seolah-olah tidak ingin Yaren pergi meninggalkannya.
"Yang kau ketahui, cukup aku adalah suamimu, berjanjilah padaku kau tidak akan mencari tau lebih banyak tentangku."
"Sekalipun kau bukanlah orang baik, tapi apa aku begitu tidak berhak mengetahui apapun?" ucap Yaren, sepertinya ia tidak setuju akan perkataan Ayaz.
Kau akan meninggalkanku jika kau mengetahui betapa buruknya aku.
Aku ingin jika itu sampai terjadi, aku sudah tidak berada di sampingmu, biarkan kita seperti ini, biarkan kau menjadi orang yang tidak mengetahui apapun, dan aku tetap bisa menemanimu, suatu hari nanti aku akan melepaskanmu, dan aku harap setelah itu kau jangan lagi menemuiku.
"Kau akan menurut padaku kan?" ucap Ayaz.
"Iya Ayaz." gugup Yaren.
"Jangan salah paham dengan Rymi, dia sedikit manja denganku, tapi dia orang baik." jelas Ayaz.
"Emm." sahut Yaren mengangguk.
Yaren... Apa kau, sudah mencintaiku?
"Tidurlah lebih awal, aku masih ada sedikit pekerjaan." suruh Ayaz.
Yaren mengangguk lagi, meski begitu penasaran, namun apa yang bisa dirinya perbuat, hidupnya bahkan bergantung pada Ayaz, Yaren tidak mau sampai salah melangkah dan menyebabkan Ayaz kembali membencinya. Yah keadaan seperti ini bagi Yaren lumayan baik meski kadang Yaren juga masih dibayang-bayangi ketakutan.
Ayaz masih berkutat mempelajari isi dari flashdisk itu, semua tuduhan memang mengarah padanya, wajar saja ia menjadi buron saat ini.
"Haruskah aku menuntaskan dia?" gumam Ayaz, sembari melihat foto orang suruhan Ali Yarkan yang sempat berbincang dengannya pada saat hari kejadian.
"Marco, aku yakin Marco punya hal yang bisa mengancamku, aku harus mengetahui itu dulu, apa yang dia punya."
Ayaz mengambil ponselnya, ingin mencoba menelpon Rymi, namun saat itu juga ia teringat perbincangan siang tadi antaranya dan wanita itu.
"Tidak, Rymi... Aku tidak bisa melibatkannya lagi, Rymi satu-satunya harapanku." gumamnya.
Ayaz melihat lagi ke arah Yaren yang sudah tidur di ranjang, rasa bersalah tiba-tiba menyeruak di dadanya.
"Mengapa, mengapa aku dipertemukan denganmu?"
"Seharusnya, tidak ada siapapun yang terikat padaku, kau tau memikirkannya... Aku sungguh tidak siap jika harus berpisah."
"Mengapa kita dipertemukan? Mengapa aku harus merasakan nyaman saat kau berada di dekatku, itu akan menyakiti kita suatu hari nanti, apa kau bisa menahannya? Ku harap, kau tidak pernah jatuh cinta padaku Yaren, supaya kau bisa melepaskanku dengan mudah nantinya."
__ADS_1
"Jangan seperti aku, yang saat ini saja sudah begitu sulit membayangkan jika kita akan berpisah."
...***...
"Apa anda tau di mana tempat tinggalnya yang baru, maksud saya siapa yang mengadopsinya?" tanya Dokter Amri.
Hari ini dia berencana untuk menemui Cemir di panti asuhan, berharap ada titik terang tentang keberadaan Yaren. Barangkali saja kan Yaren pernah menemui gadis itu selama meninggalkan rumah.
"Tidak Pak, Cemir di jemput oleh orang-orang berpakaian rapi seperti para pengawal, ini berkas-berkas tentang pengadopsiannya, tapi sayangnya setelah kami telusuri mereka sudah tidak tinggal di tempat itu lagi.
"Apa maksud anda, Cemir..."
"Tidak, kami bahkan pernah melakukan panggilan vidio baru-baru ini, Cemir tinggal di sebuah tempat yang mewah, namun saat kami tanya ia berkata tempat itu sangat rahasia, dia juga mengatakan bahwa ia hidup aman di sana."
"Sudah dua bulan ini, setiap tanggal tiga selalu ada banyak paket misterius datang pada kami, isinya berbagai bantuan berupa barang ataupun bahan makanan." jelas kepala panti pada Dokter Amri.
"Tapi anda tidak bisa percaya begitu saja Bu!" ucap Dokter Amri.
"Melihat Cemir yang tampak bahagia, entah mengapa kami bisa begitu yakin bahwa Cemir diadopsi oleh orang yang tepat."
"Boleh saya minta nomor ponsel saat Cemir menghubungi anda?" tanya Dokter Amri.
"Ini, tapi kami juga sudah melacak nomor ini, sayangnya semuanya menemui jalan buntu." ujar Kepala Panti sembari menyodorkan ponselnya.
"Terimakasih!" Dokter Amri segera menyalin nomor ponsel itu. Berharap ada secercah harapan untuknya menemukan Yaren.
...***...
Yaren membuka matanya pelan, dilihatnya Ayaz yang masih berkutat dengan laptopnya, sebenarnya apa yang tengah dikerjakan Ayaz.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga dini hari, tidak cukupkah bekerja di siang hari pikir Yaren.
Dipandanginya wajah itu tanpa sepengatahuan empunya, Yaren begitu menyadari, Ayaz memang tampan, rahang tegas, bibir merah, hidung yang mancung serta ada jambang tipis yang membantu menunjang penampilan pria itu, bohong jika Yaren tidak jatuh cinta.
Terlepas dari apa yang pernah Ayaz lakukan padanya, sebenarnya Yaren sungguh bersyukur bisa menjadi istri dari seorang Ayaz Diren.
"Kau terbangun? Apa aku mengganggu tidurmu?" tanya Ayaz, menatap ke arah istrinya, matanya dan mata Yaren bertemu, Ayaz tersenyum samar melihat Yaren yang begitu malu seperti seseorang yang sedang kedapatan mencuri.
Meski memang benar saat tadi Yaren memang tengah mencuri pandang padanya.
"Kau... Kau belum tidur?" tanya Yaren gagap.
__ADS_1
"Aku masih menatapmu, berarti belum kan!" sahut Ayaz.
"Emhh, iya sih!"
"Kau terbiasa tidur sambil memelukku, makanya tidurmu jadi tidak nyenyak." ucap Ayaz dengan percaya dirinya.
"Ahh, emh, bukan begitu..."
"Iya, baiklah aku akan datang..." ucap Ayaz lagi, tidak membiarkan Yaren menyangkal.
"Kau pasti merindukan sentuhanku?" ucap Ayaz seenaknya.
"Ti tidak, bukan begitu..."
"Berhubung kau sudah bangun, mari kita nikmati malam indah ini sebentar, menguji ketahanan dia!" bisik Ayaz pada Yaren.
Semburat merah lagi-lagi menghiasi pipi Yaren, dirinya merasa tidak siap akan hal itu tapi sayangnya terlalu takut untuk melayangkan penolakan.
"Ayaz... Apa harus?" tanya Yaren, nyalinya selalu saja menciut jika melihat si perkasa kebanggan suaminya itu.
"Kenapa? Kau tidak menginginkannya?" tanya Ayaz berbisik, namun yang dilihat Yaren entah kenapa bisikan dan mata itu menatapnya bagai sebuah ancaman.
Kau harus menjadi budak nafsuku, aku akan melepaskanmu jika aku sudah bosan.
Jika kau menginginkan hidup tenang, maka jadilah penurut.
Aku tidak semurah hati itu kau tau, dari pada mengajakku untuk menikah, lebih baik kau pikirkan apa yang bisa kau jual padaku.
Kalau kau bisa memuaskanku, mungkin aku akan berubah pikiran, dari pada meminta aku menikahimu, lebih baik kau tunjukan kemampuanmu, mungkin bisa kita mulai dari melakukan hal gila di sekitar sprei, aku akan menunggu hari itu tiba!
Hahahahaha...
"TIDAK!!!" pekik Yaren mengejutkan, ucapan Ayaz yang begitu merendahkannya saat itu kembali terngiang, siapa sangka, ada saatnya kala Yaren teringat semua masa itu, nyatanya Ayaz bisa menciptakan trauma yang mendalam baginya.
Yaren menatap takut pada Ayaz, wanita itu mundur menjauh, sembari terus berucap 'Tidak' Yaren berusaha menghindar dari Ayaz.
"Yaren... Yaren, tenanglah ini aku, sadar!" teriak Ayaz, dia juga bingung mengapa Yaren tiba-tiba menjadi sangat ketakutan.
...Bersambung......
...Like, koment, and Vote!!!...
__ADS_1